
S2 Bab 60
Ana merasa kesal dengan papa angkatnya. Dia merebahkan tubuhnya sambil mengambil ponsel yang berada di pinggir kasur. Ana mencoba menghubungi Alaric dan meminta maaf padanya. Mendapatkan pesan singkat dari kekasihnya, Alaric tertawa puas. 'Sepertinya pak Bimo sedang mengerjai kamu, sayang,' ucapnya sambil tersenyum membaca tiap kalimat yang dituliskan Ana.
Jahilnya Alaric sama dengan papanya, dia malah melanjutkan apa yang sudah calon mertuanya mulai. Dan itu berhasil membuat Ana semakin sedih. Dia berulang kali meminta maaf atas nama papanya. Alaric tersenyum dan mengatakan kalau dirinya tidak apa-apa, tapi tetap saja Ana merasa bersalah. Ana pun langsung menghubungi kekasihnya.
“Kamu tidak akan menyerah 'kan?” tanya Ana dalam isak tangisnya.
“Menunggu kamu tiga tahun saja aku tidak menyerah, masa hal kecil seperti ini aku menyerah. Tidak akan sayang. Aku akan berusaha mendapatkan kamu dan menjadikan kamu istri juga ibu dari anak-anakku.” mendengar itu hati Ana berdebar dan kaget. Ana sebenarnya belum berpikir untuk ke jenjang lebih serius, dan juga dia menyangka kalau Alaric sudah memikirkan ke arah sana. Pasalnya, yang dia tahu kalau Alaric sangat penggila kerja, makanya dia sangat kaget mendengar hal itu langsung dari mulut kekasihnya.
“... Sayang, Sayang! Kok kamu diam? Ada apa? Apa kamu sakit?”
“Ah ... ga kok, Bang. Sudah malam, lebih baik Abang tidur ya! Besok 'kan harus bekerja.”
“Sayang, aku sangat mencintaimu lebih dari mencintai diriku sendiri. Jangan pernah pergi dariku lagi ya! Aku sudah tidak sanggup lagi.” Ana tersenyum dan kembali meneteskan air matanya. Dia merasa bersalah sudah membuat pria yang sangat dicintainya begitu menderita.
“Maafkan aku ya, Bang! Aku janji tidak akan lagi pergi darimu. Aku juga sangat mencintaimu.”
Setelah melakukan panggilan, otak Alaric terus berpikir. Dia sudah tidak sanggup lagi lama-lama sendiri. Dia ingin segera memiliki Ana seutuhnya. Alaric pun keluar kamarnya dan menghampiri ayah dan bundanya.
Alaric membicarakan niatnya yang ingin segera meminang Ana secepatnya. Mendengar itu betapa bahagianya Riana akhirnya impian dia selama ini akan terwujud. Dia sangat menyukai calon menantunya itu. Melihat Ana, mengingatkan dia akan dirinya yang dahulu. Maka dari itu Riana sangat menyayangi Ana seperti anaknya sendiri.
Setelah mendapatkan persetujuan dari kedua orang tuanya, Alaric dengan sigap memberitahukan kepada adik-adiknya untuk membantu dirinya mempersiapkan segala sesuatu untuk melamar Ana. Mendengar apa yang dikatakan Alaric menjadi kebahagiaan tersendiri untuk mereka. Akhirnya perjuangan Alaric selama ini tidak sia-sia.
__ADS_1
Waktu semalaman dia pakai untuk mencatat ide yang terus bermunculan di benaknya. Dia ingin melamar Ana seromantis mungkin. Menjadikan hari itu hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh kekasihnya. Semua ide-ide yang sudah disusunnya langsung di-share Alaric kepada adik sepupunya, agar mereka membantu dia dalam mempersiapkan segala sesuatunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Citra yang mendengar kabar kepulangan Ana seketika langsung menyerah dalam mengambil hati Alaric. Sudah tidak ada alasan lagi dirinya untuk tetap tinggal berada di sisi lelaki pujaan hatinya. Dia pun menggurus berkas-berkas untuk pindah kembali ke perusahaannya yang berada di Malaysia. Perusahaan dia dan keluarganya yang bekerja sama dengan perusahaan Alaric. Selama ini dia memilih stay di perusahaan Alaric dengan alasan agar bisa selalu dekat dengannya. Tapi kini sudah tidak ada alasan lagi dia untuk bertahan di sini. Semua ini dia lakukan karena tidak ingin merasakan sakit hati melihat kebersamaan Alaric dan Ana. Walaupun hatinya sudah mengikhlaskan, tapi sedikitnya masih ada rasa cemburu dalam hatinya.
Sampai di kantor, dengan wajah yang tersenyum lebar Alaric berjalan masuk ke dalam. Semua orang menatap aneh pada bosnya. Karena Alaric tipikal orang yang nyaris tidak pernah tersenyum. Tapi hari ini dia mematahkan semuanya. Wajah bahagianya membuat semua orang yang melihatnya pun ikut bahagia. Tapi, senyumnya seketika pudar saat melihat surat yang berada di atas mejanya.
Setelah membaca isinya, Alaric langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi Citra, tapi sama sekali tidak ada tanggapan. Dia pun langsung mencari sekertarisnya dan menanyakan keberadaan Citra. Ternyata hari ini Citra langsung terbang ke Malaysia. Bukan karena menjauh, tapi ada hal penting yang harus dia selesaikan di sana.
Mendengar itu Alaric merasa bersalah padanya. Salah dia karena tidak menceritakan kepulangan Ana padanya. Alaric pun kembali ke ruangannya. Dia tertunduk di meja kerja sambil mencubit keningnya. Rasa bersalahnya semakin besar dimana dia sekarang sedang merasa sangat bahagia, dan mengingat Citra yang pasti hatinya terluka.
Dia tahu selama ini Citra berusaha mengambil hatinya. Tidak dipungkiri kalau selama ini Citralah yang menemani dirinya dikala dia sepi dan butuh teman untuk bersandar. Hati Alaric juga merasakan sakit sama halnya Citra. Karena dia mengira kalau dia sudah memberikan harapan palsu pada gadis cantik itu.
Ponsel Alaric berdering, dan saat melihat nama Citra yang ada di layar ponselnya, dengan cepat Alaric mengangkatnya.
“Gue baru sampai Malaysia. Maaf ya! Gue enggak pamit sama lo. Tadi papi telepon, dan mengharuskam gue berangkat sekarang juga ke Malaysia. Jadi sekalian aja gue tulis surat pindah gue ke sini. Maaf ya enggak sempet pamit sama lo.”
“Gue yang harusnya minta maaf sama lo, Cit. Lo pasti tahu 'kan tentang ....” kembali Citra memotong pembicaraan Alaric. Karena mendengar langsung dari mulut Alaric membuat hatinya sedikit sakit.
“Iya gue tahu. Dan gue ikut bahagia mendengarnya. Akhirnya perjuangan lo menunggu Ana enggak sia-sia ya, Al. Gue berharap kalian berdua akan terus bahagia selamanya.”
“Terima kasih ya. Gue juga berharap lo mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik dari gue. Oia ... nanti saat pernikahan gue dan Ana, lo bisa 'kan datang ke Indonesia?” Deg ... dada Citra serasa sesak mendengarnya. Tapi anehnya dia juga merasa bahagia.
__ADS_1
Sambil tersenyum dia mengatakan, “Iya ... pasti gue bakal datang ke nikahan lo. Al, gue udah sampai nih di kantor. Gue tutup ya! Sekali lagi, selamat ya, akhirnya lo bisa bersatu kembali. Bye, Al.” Citra pun menutup ponselnya. Tidak terasa air matanya jatuh. Sambil tersenyum, dia mengusap air yang ada di atas pipinya.
'Aku berharap kamu selalu bahagia, Cit. Terima kasih kamu pernah hadir dalam hidup aku, walaupun tidak pernah mengisi hati aku, tapi aku bahagia mempunyai teman seperti kamu,' gumam Alaric sambil tersenyum menatap ponselnya setelah mematikan telepon dari Citra.
.
.
.
.
~Bersambung~
Don't Forget
👍 Like
💬 Komen
🌺 Vote sebanyak-banyaknya
Yang belum follow IG aku, ditunggu Follownya yaa @PENULISMICIN untuk dapatkan info terbaru tentang karya-karya aku...
__ADS_1
terima kasih semua...
Aku Padamu Semuanya ❤️❤️