Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 10 Membuat Masalah


__ADS_3

"De, acara sebentar lagi mau dimulai nih," ucap Septian, ketua penyelenggara seminar


"Dekorasi sudah siap!"


"Bagus deh kalau begitu."


"Cuma pengisi acaranya belum datang," uhar Alif yang baru bergabung.


"Wah, kalau enggak datang bagaimana?" tanya Deya.


"Datang kok hanya sedang ada di jalan," terang Septian.


"Oh, syukurlah. Aku nunggu di pintu saja menyambut tamu undangan."


"Yups, mahasiswa tercantik harus yang melayani tamunya dong," ujar Septian.


"Kalau begitu aku siap-siap dulu, biar tampil cantik dan fresh."


"Siapa sih pembicara utamanya, aku kurang fokus waktu rapat kemarin."


"Ck... panitia kok nggak tahu siapa tamu utamanya. Nanti salah jemput gimana."


"Deya ikut aku saja, mengurus masalah konsumsi," sela April. "Nanti kau yang membawa makanan dan minuman untuk para pengisi seminar."


"Jadi aku bagian mana?"


"Ya, sudah bagian konsumsi saja. Lia... kau sudah siap?" tanya Septian.


"Sudah dong, dari tadi malah."


"Okey, acara akan mulai sepuluh menit lagi. Persiapkan dengan baik-baik jangan sampai mempermalukan tim kita."


"Siap!" jawab semuanya.


"Ayo, kembali ke posisi masing-masing."


Deya lantas ke belakang mengecek semua persiapan makanan dan minuman yang ada.


Setengah jam kemudian.


"Wihh... tamunya ganteng nggak ketulungan beda sama tampilan di televisi," celetuk April.


"Memangnya siapa sih tamunya?" Deya menyeruput air mineral.

__ADS_1


"Loe nggak tahu?" Deya menggelengkan kepala. "Dia anaknya pengusaha terkenal Adam Xavier. President Direktur dari sebuah perusahaan tambang nikel, Xavier Company, Edward Xavier."


"Uhuk.... uhuk... gue kok nggak tahu." Deya lantas pergi mengintip panggung. Dia melihat Edward yang duduk di atas podium.


"Ganteng ya, Ya. Kayak pria CEO dalam novel.. Punya aura gimana gitu."


Deya menganggukkan kepala. Pantas saja dia mengeluarkan uang seratus juta dengan mudah karena tempat tidurnya mungkin juga terbuat dari tumpukan uang. Secara keluarganya masuk deretan orang terkaya di dunia. Ayahnya punya kilang minyak. Seketika kepala Deya jadi cenat-cenut.


"Ya, bawakan minuman untuk tamu kita!" seru Septian yang masuk ke belakang panggung.


"April saja," balas Deya. Dia sudah terlalu malu untuk melihat pria itu setelah kejadian terakhir mereka bertemu. Dia bahkan telah melucuti pakaiannya sendiri di depan pria itu padahal dia itu lelaki baik-baik. Dia sudah tidak punya muka lagi.


"Ya, kau yang paling siap sekarang! Juga paling cantik," ucap Septian berbisik tidak enak jika di dengar oleh panitia wanita yang lainnya.


Deya memutar bola matanya malas. Mau tidak mau dia harus menuruti perkataan Septian. Dia lalu naik ke atas podium membawa kotak snack dan segelas air mineral juga teh hangat.


Edward nampak terkejut ketika melihat Deya tapi dia bersikap dingin dan cuek. Seperti tidak mengenalnya.


"Ish, sombong!" batin Deya ketika dia tersenyum tetapi Edward tidak membalas senyumannya.


Acara segera di mulai. Edward memberikan materinya. Angga mengajak Deya untuk duduk di belakang sambil mengajaknya bicara.


Angga menyeka keringat Deya dengan sapu tangannya.


"Dimana ada Deya di sana ada Angga," imbuh Alif.


"Ck... apaan sih."


"Udah jangan di dengarkan oknum jomblo yang sirik dengan kebersamaan kita.'' Angga membuka tutup botol minuman lalu diberikan pada Deya. Deya menerima sambil tersenyum lalu meneguk nya.


"Loe itu bikin ngiri kita aja deh, Ngga... perhatiannya nggak ketulungan. Mana pacar gue jauh... jadi rindu."


Deya sedari tadi tidak tahu jika keunyuan mereka disoroti oleh mata tajam Edward. Pria itu lantas melemparkan sebuah pertanyaan untuknya.


"Untuk yang ada di pojok ruangan dengan ikat rambut di atas. Saya mau mengajukan pertanyaan."


Deya yang sedang asik berbicara dengan Angga lalu menoleh ke arah April yang menyenggol nya.


"Ada apa sih?" tanya Deya. April memberi tanda Deya untuk melihat ke depan.


Deya dan Angga melihat ke depan dan sadar bahwa mereka sedang menjadi pusat perhatian.


"Ada apa ya?" tanya Deya dengan suara lirih pada April.

__ADS_1


"Khusus untukmu, aku ingin kau memberi jawaban untuk pertanyaanku tadi."


Wajah Deya seperti orang kebingungan meminta penjelasan dari teman yang ada di sekitarnya. Tetapi semua terdiam.


"Maaf Pak, bisa ulangi lagi pertanyaannya?" ucap Deya dengan dada kembang kempis ingin menangis. Dia malu. Semua terdiam dan ruangan terasa hening dan mencekam.


"Saya kemari untuk memberi materi bukannya untuk mendongeng untuk kalian. Kau sendiri malah sibuk bercerita dengan yang lain, padahal panitia acara ini. Terlihat sekali dedikasi burukmu dalam mengikuti acara ini. Kau seperti tidak menghargai apa yang sedang ku jelaskan di depan. Jika semua peserta seperti kau, apa yang bisa kalian dapatkan dari seminar ini. Hanya sebuah kegiatan tapi tanpa isi. Kalau begitu aku merasa percuma mengisi di sini."


"Maaf Pak Edward, atas kesalahan satu anak didik yang tidak sopan dalam mengikuti acara seminar ini. Nanti akan saya tegur tapi bapak jangan menepuk rata semua anak melakukan hal demikian karena seperti yang bapak lihat, banyak yang memperhatikan apa yang bapak sampaikan dan ulas pada kesempatan kali ini," ucap Dekan fakultas tempat Deya berada.


Setelah acara selesai Deya ikut berbaris di pintu untuk memberi hormat pada Edward yang akan keluar. Dia menundukkan kepala.


Edward melewatinya begitu saja.


"Wuih.... galak bener... enggak seganteng mukanya," ucap April.


"Pemimpin harus punya wibawa seperti itu, Pril," cetus Lia.


"Iyakah... pacarku cuma PNS jadi orangnya kalem dan humanis. Kalau dia sepertinya tipe pria opportunis yang memenangkan ego dan dirinya sendiri," ungkap Lia.


"Otokratis, biasa memimpin jadi ketika ada yang tidak sesuai dengan pemikirannya maka langsung ambil tindakan dan libas tanpa memperdulikan efeknya pada orang lain," celetuk Angga.


"Aku setuju ini."


"Ya, kau dipanggil oleh Pak Dekan sekarang!" Septian mendekat ke arah Deya.


"Mati gue... gimana ini?" ungkap Deya ngeri dan takut


"Gue cuma bisa doa yang terbaik untukmu deh, Ya!" ucap Lia memeluk Deya.


"Semoga hanya dimarahi saja tidak sampai di hukum," ujar Septian. April yang ada di dekatnya memukul lengan Septian.


"Do'ain yang bagus-bagus bukan berharap yang jelek. Loe gimana sih Sep ma sahabat juga."


"Asli gue takut nih. Gimana kalau gue di DO karena masalah ini." Deya menutup wajahnya.


"Tidak paling hanya diberi surat peringatan," ucap Septian santai dan mendapatkan tatapan tajam dari semua sahabatnya.


"Bisa nggak mulut loe di kontrol sedikit," ujar Lia.


"Ngga gimana dong," kata Deya. Angga hanya terdiam kali ini yang bermasalah adalah Deya padahal dia yang selalu mengajak Deya berbicara.


"Biar aku saja yang bertanggung jawab," kata Angga kemudian menarik tangan Deya pergi untuk menemui Dekan

__ADS_1


__ADS_2