Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 66 Hal Terbaik


__ADS_3

"Kita bisa berbagi suami, aku rela sungguh rela tapi tolong jangan pisahkan aku dengan suamiku," Soraya menangis keras membuat Deya kebingungan.


"Kita bicarakan ini di dalam saja," ucap Deya. Dia membawa masuk Soraya dan Zahra. Mereka lalu duduk di sebuah kursi Sofa, karena hanya itu kursi yang ada di ruangan itu.


"Kecil tapi nyaman," komentar Soraya memegang sebuah patung kecil di atas meja.


"Terimakasih."


"Ed memang pandai memilih tempat dan lokasi serta merancang sebuah ruangan agar nyaman ditinggali."


Deya hanya tersenyum kecut. Zahra masih terdiam. Tidak berkomentar apapun.


"Nyonya mau minum apa? Zahra mau Kakak buatkan apa?" tanya Deya pergi ke dapur yang terletak di sebelah ruangan itu dan hanya tersekat dengan meja makan saja.


Zahra menggeleng lemas. "Tidak usah De, kami tidak akan lama karena nanti waktu Zahra harus menjalani terapi," ujar Soraya.


"Aku hanya ingin berbicara padamu mengenai hal tadi saja." Soraya menepuk kursi sofa di sampingnya. Deya lantas duduk di dekat Soraya.


"Apa kau keberatan jika aku bersama dengan Ed lagi?"


"Tidak mungkin saya keberatan karena saya yang jadi pengganggu rumah tangga kalian," aku Deya merasa bersalah.


Soraya terkejut dengan jawaban Deya. Se perdetik kemudian dia bersikap biasa saja namun cenderung terlihat sedih. Entah apa yang dipikirkan dan direncanakan wanita itu. Deya terlalu polos untuk mengetahuinya.


Soraya mengusap matanya yang mulai berlinang. "Aku juga tidak mengharapkan ada kegagalan dalam rumah tanggaku. Tidak sepenuhnya Edward salah dalam hal ini. Ada andilku di dalamnya. Aku terlalu egois dengan diriku sendiri dan aku tahu dengan kesalahanku."

__ADS_1


"Untung kau yang menjadi madu ku jika wanita lain mungkin akan senang dengan keretakan rumah tangga kami. Kau bahkan membantu Zahra melewati masa sulit sehingga dia bisa bangkit dari keterpurukannya."


"Itu bukan karena aku, melainkan karena semangat dia untuk bisa hidup seperti anak-anak lain pada umumnya dan seharusnya kita mendukungnya bukan." Deya memegang satu tangan Zahra. Zahra menangkupnya dengan tangan yang lain.


"Tapi...."


"Tidak ada tapi-tapian, Zahra adalah anak suamiku berarti secara tidak langsung dia anakku juga. Memang terdengar lucu."


"Kau beruntung punya ibu sambung sepertinta Zahra, yang baik dan terlihat menyayangimu dengan tulus."


Zahra mengangguk.


"Aku yakin jika kita bersama dan bersatu maka akan jadi keluarga yang hebat."


"Karena itu tolong bujuk suamiku agar tidak meneruskan proses cerai itu karena aku bersedia menerimamu sebagai madu ku. Aku akan menganggapmu sebagai adik." Soraya merenggangkan kedua tangannya.


Deya nampak terpaku sejenak, dia tidak menyangka akan semudah ini hubungannya dengan Edward akan diterima oleh keluarganya. Sebuah senyuman tulus terpancar dari wajahnya.


"Terima kasih, Nyonya." Deya menerima pelukan dari Soraya.


"Jangan panggil Nyonya, panggil aku Kakak saja.


Satu tangan Soraya lalu memeluk Zahra yang duduk di sebelahnya.


" Kita foto Nyo...." belum juga Deya meneruskan Soraya sudah memotong.

__ADS_1


"Kakak, kau harus membiasakan diri memanggil Kakak."


"Iya Kakak. Kita foto bersama dan kirim ke Mas, biar dia senang dan menangguhkan keinginannya untuk bercerai dengan Kakak."


"Aku kira itu ide yang baik."


Deya lantas mengambil handphone sederhana miliknya, lalu mengambil gambar mereka. Setelah itu, Soraya mengambil handphone milik Deya.


"HP apa ini? Kok seperti ini?" Soraya membolak-balik handphone dengan casing berwarna hitam."


"Apa Ed, tidak membelikanmu handphone terbaru?"


"Buat apa Nyo eh Kakak, ini masih bisa dipakai kok."


"Berapa harganya?"


"Satu setengah jutaan, Kak."


"Untukmu dia membelikan handphone seharga makan siangnya? C mon Deya kau berhak mendapatkan hal yang lebih. Kau lihat handphone punyaku, harganya diatas tiga puluh juta."


Deya tersenyum tipis.


"Kau harus mendapatkan hakmu sebagai istri Edward salah satunya mendapatkan hal terbaik."


"Hal terbaik itu adalah memilikinya walau kita harus berbagi."

__ADS_1


__ADS_2