
Edward sampai ke rumahnya jam empat pagi. Dia langsung membersihkan diri, melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim dan berbaring untuk istirahat sejenak. Sebuah senyum tersimpul ketika mengingat akan Deya. Wanita itu sedikit demi sedikit mencuri hatinya. Dari yang tadinya hanya ingin mencari pelampiasan dari kemarahannya malah menjadi boomerang. Dia seperti tidak bisa lepas darinya.
Dia memandangi foto keluarganya. Di sana duduk dirinya berdampingan dengan sang istri tangannya memeluk Zahra yang duduk di tengah. Menghela nafas dalam. Jika dia salah mengambil bertindak sedikit saja maka semuanya akan hancur. Kali ini dia harus memilih antara masa depan Zahra dan kebahagiaannya sendiri. Bagaimana caranya agar keduanya bisa seiring dan sejalan tanpa harus menghancurkan salah satu.
Jam enam pagi semua berkumpul di meja makan. Sudah dua hari ini Ayah dan Ibunya sengaja menginap di rumahnya untuk menemani Zahra yang dia tinggal keluar kota.
"Zahra, Oma pikir sebaiknya Zahra ikut terapi agar bisa berjalan lagi. Jika Zahra mau biar Oma yang menemani setiap akan terapi."
Zahra terdiam hanya mengaduk makanannya dengan gusar. Netranya yang mirip dengan Soraya merebak, bibir bawahnya yang tipis dan mungil digigit.
Mama Claudia saling memandang dengan suaminya lalu ke arah putranya. Edward menggelengkan kepala.
"Zahra... Zahra bisa sembuh jika mau sedikit berusaha."
Klontang! Suara sendok Zahra yang dilepas beradu dengan mangkuk berisi sereal.
"Zahra sudah kenyang mau ke atas dulu," ucap anak itu dingin, menunduk. Zahra mulai memutar kursi rodanya meninggalkan ruang makan ini. Semua mata memandang kepergiannya.
Papa Adam menatap tegas pada istrinya.
"Akun hanya ingin dia bangkit. Hanya dia satu-satunya cucu kita pewaris kita." Mama Claudia menatap ke arah Edward. "Kecuali Edward mau memberi cucu lagi yang lain."
Edward meletakkan alat makannya dan bersandar di sandaran kursi. "Ma, jika Soraya mau hamil anakku lagi makan sudah sejak lama ada. Nyatanya, Mama tahu sendiri jika dia menolak untuk hamil lagi."
"Kau itu suaminya, seharusnya kau bisa membujuknya untuk hamil lagi!"
"Untuk apa? Apa hanya untuk pewaris perusahaan saja? Kalau hanya untuk itu Zahra lebih dari bisa melakukannya di masa depan dia hanya butuh sedikit dorongan untuk menata diri."
"Itu maksud Mama! Mama ingin agar dia bangkit dari keterpurukan nya. Ck... Mama yakin dia begitu karena ditinggal oleh Soraya. Kau seharusnya membawa menantuku kembali!" ujar Mama Claudia lagi.
"Jika semudah itu!" Edward lantas bangkit dan pergi ke kamarnya untuk bersiap ke kantor. Sedangkan, Mama Claudia ditatap tajam oleh Papa Edward.
"Tidak sepenuhnya salah Edward dalam masalah ini."
"Aku tahu, hanya dia harus menekan egonya agar Soraya mau kembali. Sangat jarang ada pernikahan yang sempurna namun mereka bisa menjadi partner hidup yang baik bagi anak mereka. Seharusnya mereka berdua berkorban demi Zahra. Anak itu tertekan dan mendekati depresi. Ini tidak bagus bagi psikisnya."
__ADS_1
"Ya, sebetulnya apa yang kau katakan benar jika Zahra adalah satu-satunya pewaris yang kita miliki. Kebahagiaan Zahra adalah kebahagiaan kita semua tetapi apakah harus mengorbankan anak kita?"
"Edward sudah dewasa tahu apa yang perlu dilakukannya. Kebahagiaan bisa dicari diluar tetapi rumah tangga yang sempurna tidak bisa dicari dijalanan. Edward dan Soraya adalah pasangan yang sempurna. Mereka hanya hidup dengan ego masing-masing."
"Kita tidak sepenuhnya tahu apa yang terjadi karena Edward tidak pernah mengatakan apapun."
"Aku hanya memberinya pandangan agar mempertahankan keutuhan rumah tangganya demi Zahra. Jika tidak bisa, kita bisa apa."
"Semua orang tua selalu berpikir apa yang terbaik untuk anaknya belum tentu hal itu juga baik menurut anaknya," balas Papa Adam, membuat Mama Claudia terdiam.
Sedangkan Edward melihat Zahra berbaring menelungkup di ranjang. Tubuhnya bergetar. Sayup-sayup terdengar isak kecil darinya.
Edward mendekat dan duduk di samping Zahra mengusap punggungnya naik turun dengan pelan.
"Kenapa menangis?" tanya Edward.
"Aku... aku tidak mau terapi. Aku pernah melakukannya dan...Ayah tahu jika itu tidak berhasil. Aku tetap tidak bisa jalan." ungkap Zahra.
"Hmmm, Ayah mengerti. Ayah tidak akan memaksamu. Nenek hanya ingin kau bisa pulih seperti sedia kala."
"Selama ada Ayah tidak akan ada yang akan memaksamu." Zahra membalikkan tubuh menatap Ayahnya. Dia memeluk pinggang ayahnya.
***
Siangnya, Zahra sakit sehingga Edward pulang lebih cepat. Deya hanya bisa diam melihat kepergian suaminya tanpa mengatakan apapun.
"Dek, bolehkah aku bertanya sesuatu yang sangat pribadi denganmu?" tanya Katrina. Dia ingin menghormati Deya tetapi Deya tidak ingin dibedakan dengan karyawan lainnya agar tidak ada yang curiga. Selain itu, Deya juga menyuruhnya memanggil Dek saja karena itu terdengar lebih akrab.
"Apa, Bu?" tanya Deya yang tetap menghormati Katrine sebagai atasannya dalam bekerja.
"Apakah kau menikah dengan Pak Edward dengan siri atau resmi?" tanya Katrine.
"Siri."
"Jadi...."
__ADS_1
"Aku memang simpanannya. Itu sudah cukup kusyukuri karena bisa mengenal dan dekat dengan pria sebaiknya."
"Tapi kau tidak seperti seorang simpanan yang selalu berpakaian mahal atau semua serba mahal."
"Aku tidak suka pamer dan untuk apa, tidak ada manfaatnya. Bersamanya saja sudah membuatku bahagia."
"Se-simple itu?"
"Ya, apa itu salah?"
"Di sini banyak yang menjadi simpanan bos-bos dan manager semuanya suka pamer tapi kau istri dari Bos Besar malah." Katrina menunjuk penampilan Deya yang sederhana. Bahkan tidak ada perhiasan emas selain anting kecil yang tidak berharga. Katrine yakin jika Bosnya bisa membelikan apa yang Deya mau apakah wanita itu melakukannya untuk menarik simpati Bosnya atau untuk menutupi hubungan mereka?
Namun, selama beberapa hari mengenal Deya tidak sekalipun Deya bersikap sok atau angkuh. Deya bahkan melarang Bosnya memberikan perhatian lebih padanya. Jika bosnya tidak mengatakan hal ini pada Katrine, dia tidak akan tahu hubungan rahasia mereka.
"Bos pulang duluan. Kau akan naik apa?"
"Biasanya juga aku pulang sendiri dengan mang ojek, Bu," jawab Deya santai.
"Hah!"
Deya melihat pesan di handphonenya yang baru masuk. Edward mengatakan tidak akan datang malam ini. Entah mengapa dia merasa sedikit kecewa tapi dia tidak boleh egois. Edward juga punya keluarga yang harus dia urus. Dia hanya bisa bersamanya beberapa jam saja.
"Bagaimana jika kuantar pulang nanti."
"Hmm tidak usah," jawab Deya sungkan.
"Katanya kau anggap aku sebagai kakakmu, jadi jangan menolak. Memang rumahmu dimana?"
Deya mengatakan rumah huniannya.
"Itukan condonium mewah, tidak semua orang bisa masuk ke sana karena yang tinggal di tempat itu hanya taipan kaya."
Deya menggaruk kepalanya. "Iya kah? Aku tidak tahu. Aku hanya menempatinya hak milik tetap punya Pak Edward." Deya berbohong kali ini, sebetulnya semuanya sudah jadi hak miliknya.
"Kok aku merasa kau terlalu polos sehingga diperalat oleh Pak Edward. Kau itu istrinya tetapi tidak diberikan apapun atau jangan-jangan dia pria kikir?" celetuk Katrine.
__ADS_1