
"Minum dulu, De," tawar Aya pada Deya. Dia menyerahkan segelas wine yang diambil dari bar.
"Tidak, Mbak," tolak Deya sopan.
"Tidak, kau harus belajar minum ini karena setiap pesta yang kita hadiri atau juga perjamuan makan malam ada minuman seperti ini."
"Tapi tidak ada pemaksaan untuk meminumnya kan?" jawab Deya.
Soraya kehilangan kata-katanya. "Tidak sih." Menyesap minumannya. Dia sebal dengan tingkah Deya yang sok sempurna untuk memikat hati Edward.
"Maafkan kata-kata Zahra. Dia hanya anak kecil yang merasa cemburu karena perhatian ayahnya terbagi. Selama ini, ayahnya hanya miliknya. Kini, ayahnya tidak ada di sampingnya."
"Aku mengerti Mbak, ini pasti tidak mudah baginya."
"Syukurlah jika kau memahami anakku. Itu artinya kau peduli dan sayang."
"Aku memang menyayangi Zahra, anak Mas Edward juga anakku."
"Sungguh? Syukurlah kalau begitu. Bagaimana pun kau akan faham jika anak adalah prioritas utama orang tuanya."
"Iya, Mbak."
Di saat yang sama, Edward turun ke bawah lewat tangga. Dua wanita itu melihat ke arahnya.
"Ayo De, kita pulang!" ajak Edward.
"Zahra?"
"Dia sudah tidur."
"Ini sudah malam, sebaiknya kalian menginap di sini saja," tawar Soraya. Deya dan Edward saling berpandangan.
"Tidak, kami akan pulang saja," tolak Edward.
"Bagaimana jika Zahra mencarimu, dia sangat merindukanmu."
"Aku bisa kemari esok pagi tetapi tidak harus menginap disini."
"Ed, ini juga rumahmu," ucap Soraya memelas.
"Ini rumah Zahra, aku sudah membalik nama atasnya."
Dada Soraya terasa sesak. "Apakah karena aku, kau pergi dari rumah ini?" tanya Soraya dengan butiran tiara yang menetes. Dia lalu menyekanya dengan cepat. Edward hanya terdiam. Pipinya nampak berkedut diantara tulang rahang yang mengeras.
__ADS_1
"Jika begitu aku yang akan pergi."
"Mbak, kau tidak harus pergi."
"Aku hanya ingin orang yang kucintai bahagia, Deya. Zahra membutuhkan ayahnya dan Ayahnya tidak ingin bersama Zahra jika ada aku."
"Kau jangan lebay, sudah kukatakan cukup jadi ibu yang baik saja bagi Zahra. Tidak usah membuat drama lagi karena aku mual mendengarnya." Edward menarik tangan Deya.
"Tetapi anak itu lebih bahagia jika kau berada di sampingnya. Kau yang dibutuhkannya."
Deya lalu melepaskan tangan Edward. "Kalian itu selalu saja bertengkar. Tidak bisakah kita bicarakan baik-baik. Zahra butuh kalian berdua di sisinya. Jika bisa, kalian jangan berpisah demi kebaikan Zahra," ucap Deya keras. Membuat Mr. Lee yang ada di sudut ruangan terkejut dengan keberanian wanita itu berbicara di depan majikannya.
"Kau tidak tahu apa yang terjadi pada kaki dan siapa wanita itu jadi jangan berusaha untuk ikut campur."
"Aku tahu apa yang terjadi tapi aku diam." Edward dan Soraya terdiam.
"Saling menyalahkan tidak akan menemukan solusi dari masalah ini. Mbak Aya sudah minta maaf atas semua kesalahannya, apa itu belum cukup untukmu?" tanya Deya.
"Kau tidak tahu rasanya dikhianati Deya!" Edward membuang muka.
"Aku memang belum pernah merasakannya tapi itu pasti sakit. Luka butuh waktu untuk menyembuhkannya walau tetap berbekas. Beri kesempatan pada Mbak Aya untuk memperbaiki. Jika waktu yang diberikan tetap tidak bisa menyembuhkannya, kita bisa bicarakan lagi."
"Mbak Aya juga jangan terlalu menekan Mas. Dia tahu apa yang harus diperbuat. Aku jamin dia tidak akan menelantarkan Zahra dan mengurangi kasih sayangnya hanya karena bersamaku. Mas hanya ingin Mbak Aya lebih aktif mendekati Zahra. Terbuktikan ketika Mbak Aya yang mengantar Zahra terapi anak itu mengalami kemajuan pesat."
Deya membuka mulutnya lebar. "Kalau sudah, ayo kita pulang." Edward merangkul bahu Deya. Lalu tersenyum dan pergi keluar dari rumah itu, meninggalkan Soraya sendiri.
Wanita itu lantas meneguk minuman ketaa langsung dari botolnya dengan pipi yang berurai air mata dan melemparkan botol itu tepat ketika suara mobil Edward terdengar meninggalkan rumah.
Prank!
"Aku benci padamu wanita kepa***. Sok suci sekali kau di depan semua orang. Padahal kau sama busuknya denganku karena telah merebut suami orang. Edward kau akan membayar tangisanku kali ini. Jika kau tidak kembali padaku maka namaku bukan Soraya!" seru Soraya.
Mr Lee yang melihat lantas membersihkan bekas pecahan botol sambil menarik nafas. Pantas saja tuannya tergila-gila pada Deya, wanita itu nampak tenang dan dewasa dalam menyikapi suatu masalah. Padahal umurnya masih teramat muda untuk tahu semua permasalah rumit keluarga ini.
***
Deya bersandar di bahu Edward dalam perjalanan kembali ke apartemen mereka. Tangan mereka saling menggenggam seraya menatap ke depan.
"Bagaimana caramu tahu semua yang terjadi di rumahku?" tanya Edward memecah kesunyian.
"Aku selalu bergaul dengan para asisten rumah tangga dan mencari informasi tentang kalian. Aku sebenarnya hanya ingin tahu seperti apa karakter suamiku tetapi mereka membeberkan gosip tentang kau dan Mbak Aya."
"Oh, istriku ini ternyata suka bergosip rupanya," ujar Edward.
__ADS_1
"Itu untuk kebaikan semua orang kan? Jadi aku tidak perlu keluar uang untuk tahu apa yang terjadi pada keluargamu."
"Sebenarnya aku terkejut ketika tahu Mbak Aya bermain kotor dibelakang dengan sahabatmu pula. Mario kan?"
Edward menghentikan mobilnya secara mendadak membuat pengendara di belakangnya marah-marah karena sempat menyenggol mobilnya.
Edward lantas meminta maaf dan memberi kartu namanya kepada pengendara yang mengalami kerugian akibat ulahnya. Setelah itu dia kembali ke mobilnya dan mereka diam sampai ke hunian.
Deya dan Edward melepaskan semau benda yang melekat di tubuh mereka.
"Bagaimana kau tahu jika Aya bersama Mario?"
"Mario pernah mengatakannya padaku ketika... kau tahu... itu pengalaman buruk."
Deya melepaskan giwang nya dan meletakkan di atas meja rias lalu membantu suaminya melepaskan dasi.
"Dia mengatakan apa?"
"Sudahlah," Deya hendak mengambilkan piyama, tapi Edward menahannya.
"Dia mengatakan apa?" desak Edward.
Deya nampak menimang.
"De!"
"Dia mengatakan... ehm... kau hanya pria lemah yang tidak bisa membahagiakan istri," wajah Edward menghitam, "karena itu Mbak Aya mencari kepuasan pada dirinya."
Prank!
"Mas!" Edward menyapu semua yang ada di atas meja. Dia bagai orang kesurupan. Deya yang ketakutan memeluk Edward dari belakang.
"Mas, jangan seperti ini aku takut," lirih Deya. Tubuh Edward luruh ke lantai dan meraung keras lalu menunduk dan menangis. Tubuhnya bergetar hebat.
Deya masih tetap memeluk suaminya tahu jika pria itu merasa sakit dan terluka. Egonya, cintanya dan harga dirinya jatuh.
"Kau bisa pergi jika kurang puas padaku," ucap Edward dengan suara serak, dia menyeka cairan di hidungnya. Melepaskan tangan Deya yang melekat di tubuhnya. Lantas bangkit, berdiri.
"Mas...," panggil Deya berlari ke depan Edward lalu memeluknya. Edward berdiri terpaku. Tatapan matanya kosong ke depan.
***
Hallo salam semua nya, semoga menikmati ceritaku kali ini ya, novel ini sebenarnya sudah dibuat lama satu tahun yang lalu dan menemui revisi sangat lama.
__ADS_1
Love you semuanya salam cinta dariku. Jangan lupa like dan komennya ya...