
Deya dengan sabar mengajari Zahra belajar. Zahra yang memang pintar seperti ayahnya dengan mudah menerima keterangan yang Deya berikan. Dia langsung mengerjakan soal pelajaran yang ada dengan cepat.
"Kau itu sangat pintar mengapa tidak sekolah umum saja?" tanya Deya. Zahra menghentikan gerakan menulis. Lalu menutup bukunya. Kepalanya ditundukkan dalam.
"Karena malu dengan kondisimu?" Zahra semakin gusar, dia memainkan kukunya. Deya yang melihat lalu memegang tangan Zahra dan menangkupnya menjadi satu.
"Kakak kira kau pernah pergi ke sekolah dan tahu bagaimana enaknya bersekolah."
"Sebelum semua berubah," jawab Zahra menatap Deya. Ada banyak luka di sana yang Zahra simpan.
"Sebelum aku sakit dan sebelum aku memakai kursi roda sialan ini."
Deya terdiam. Lalu memeluk Zahra dan mengusap kepalanya.
Di pintu kamar Mama Claudia melihat interaksi Deya dan Zahra. Dia.
"Jika ingin menangis, menangis saja. Itu bisa meredakan rasa sakit yang kau rasakan. Anak harus mengungkapkan rasa mereka agar orang tua tahu apa yang diinginkannya."
"Jangan malu, kau bisa menganggapku apa saja yang kau mau, teman, kakak, guru atau...," Deya ragu untuk mengucapkan kata terakhirnya, "ibu. Kita bisa bercerita banyak dan aku akan menemanimu."
Lambat laun terdengar isak tangis Zahra. Tubuhnya yang kurus bergetar.
"Jangan beritahu ayah kalau aku menangis,nanti ayah akan sedih," ungkap Zahra. Menyeka air matanya.
"Jadi kau takut menangis karena tidak mau melihat ayah bersedih?" tanya Deya. "Anak baik tetapi itu tidak baik bagi dirimu sendiri. Seorang anak itu wajib merengek dan manja pada orang tuanya." Deya mengatakannya dengan ekspresi yang lucu sehingga membuat Zahra tertawa sambil menyeka air matanya.
Mama Claudia ikut menangis. Edward yang ingin melihat ibunya mengintip ikut bergabung juga. Ibunya memberi tanda agar Edward bersembunyi.
"Tapi apakah itu tidak akan menyusahkan ayah nanti?"
"Tidak karena ayahmu akan tahu apa yang kau inginkan. Kejujuranmu penting baginya. Kau tahu mengapa?" Zahra menggelengkan kepala. "Sebab kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ayahmu. Dia bisa melihat kau bahagia atau tidak dari pancaran matamu jika kau berbohong maka dia juga ikut sedih karena dia merasa kau tidak mempercayainya."
"Apakah seperti itu?"
"Jadi tidak apa-apa kalau aku menangis?"
"Iya, itu hal umum yang dilakukan anak-anak se usiamu, tertawa, menangis, meminta dan merajuk juga bermanja-manja."
"Kalau Ayah ikut sedih bagaimana?"
__ADS_1
"Itu tanda dia sayang dan peduli padamu." Zahra mengangguk, mengerti. "Kau tidak perlu berpura-pura dewasa hanya untuk menyenangkan ayahmu. Tetap jadi diri sendiri dan katakan apa yang kau mau tetapi tetap mendengarkan nasihat orang tua."
Zahra memeluk Deya. "Apa aku boleh bercerita apapun pada kakak?"
"Tentu saja."
Deya mengusap lembut rambut Zahra.
Mama Claudia dan Edward saling memandang.
"Instingmu benar dengan membawa dia kemari." Mama Claudia mengusap sudut matanya yang basah. Dia bukan tidak tahu tentang keruwetan masalah rumah tangga Edward, hanya tidak ingin melihat Zahra semakin tertekan karena masalah orang tuanya. Zahra sangat butuh dukungan kedua orang tuanya. Itu bisa terjadi jika anak dan menantunya saling menekan ego masing-masing.
Setengah jam kemudian mereka duduk di meja makan yang panjang. Untuk pertama kali dalam hidupnya Deya ikut dalam perjamuan makan malam. Kikuk dan cemas andai melakukan kesalahan mulai merasuki tubuhnya. Dia menatap ke semua orang yang ada, mengikuti semua yang mereka lakukan.
Di depannya ada berbagai jenis sendok dan pisau, dia tidak tahu harus memilih yang mana. Edward yang duduk di sebelahnya memegang tangan Deya yang ada di bawah meja, meremasnya. Seolah mengatakan agar dia tidak gugup.
Seorang pelayan masuk dengan membawa satu macam hidangan dengan porsi kecil di depan semua orang. Tampilannya cantik hanya saja Deya berpikir apakah makan itu saja bisa mengenyangkan perutnya yang terbiasa makan berat. Deya meringis.
"Kenapa?" tanya Mama Claudia.
"Aku belum pernah makan makanan seperti ini," ucap Deya berterus-terang dia tidak perduli jika dikatakan kampungan. Sejak tadi dia menolak makan bersama keluarga itu tetapi semua orang memaksanya.
"Jangan menambah karena akan ada beberapa hidangan nantinya, perutmu tidak akan muat," ucap Edward dengan suara lirih. Pria itu seperti menjaga jarak dengan Deya.
Mereka mulai makan malam dengan tenang. Edward mengajarinya apa yang harus dia lakukan tanpa seorang pun tahu.
"Berapa lama lagi waktu magangmu?" tanya Mama Claudia.
"Dua bulan lagi selesai."
"Berarti Kakak hanya dua bulan saja di sini?" tanya Zahra.
"Sepertinya seperti itu," jawab Deya melihat kw arah Edward.
"Jika kau nyaman dengannya, kau bisa meminta pada Kak Deya untuk memperpanjang masa kerjanya di sini," terang Edward.
"Aku ingin Kak Deya menemaniku terus."
"Kalau Nak Deya mau, dia juga pastinya sibuk dengan kuliahnya," lanjut Papa Adam.
__ADS_1
Zahra menekuk wajahnya. "Apa tidak bisa sambil menemaniku?"
"Kita lihat nanti ya, Zahra. Mungkin kakak bisa mengaturnya dengan jadwal kuliah."
"Kau dengar? Sekarang kita makan dengan tenang. Bicarakan lagi nanti setelah makan." Edward memberi jawaban itu membuat Zahra terdiam.
Benar apa yang Edward katakan jika akan ada beberapa makanan lainnya setelah makanan pembuka membuat perut Deya kekenyangan.
"Ini sudah malam sebaiknya saya pulang," pamit Deya.
"Tidak menginap saja?" tanya Zahra. Deya hanya tersenyum.
"Pulangnya diantarkan sopir saja."
"Tidak usah, Bu, biar saya pesan taxi online saja."
"Eh, berbahaya bagi anak gadis, biar nanti Pak Sobri mengantar." Di saat yang sama handphone Edward berbunyi dan dia mengangkatnya.
"Hallo, Aya," sapa Edward melalui sambungan video.
"Ed, bisa aku beri teleponnya pada Zahra, aku ingin berbicara dengannya?" ucap Soraya yang terdengar di seluruh ruangan karena Edward sengaja mengeraskan nya agar semua mendengar.
"Sebentar," Edward menyerahkan handphone pada Zahra.
"Ibu, kapan Ibu pulang?" tanya Zahra pada Soraya.
"Belum sekarang, Nak. Ibu masih ada syuting di Beijing mungkin seminggu lagi Ibu baru sampai di Indonesia."
"Yah, masih lama dong."
"Maaf, ya kalau membuatmu kecewa," kata Soraya.
"Tidak apa-apa, Bu," ucap Zahra menghela nafas.
"Sayang, ada Oma kah di sana?" tanya Soraya yang melihat beberapa orang di ruangan itu.
"Bu, saya pergi dulu," kata Deya pada Mama Claudia, tidak ingin mendengar lebih banyak interaksi antara Soraya dengan keluarga Edward. Dia merasa tidak nyaman.
"Ada Oma, Opa, itu teman baruku, eh, Kak Deya mau pergi?" Deya yang sedang bersiap pergi menghentikan langkahnya. Dia dalam posisi memunggungi kamera handphone. Dia tidak tahu harus berbalik atau tetap melangkah pergi.
__ADS_1