Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 70 Makan Malam Menegangkan


__ADS_3

Pintu kamar mulai terbuka. Edward masuk ke dalam kamar.


"Kau terlambat pulang terlambat, Mas," ujar Deya memasang kalung di lehernya.


Edward masuk dengan malas, mendekat ke arah Deya, mencium pipi dan membantunya.


"Kau yakin kita akan makan malam dengan Aya?"


"Tentu saja, semoga ini akan menjadi awal yang baik untuk kita semua," ucap Deya antusias. Mengambil tangan Edward dan mencium punggung tangannya.


"Aku sudah menyiapkan air hangat di kamar mandi untukmu."


"Bajunya terlalu terbuka," ujar Edward.


"Iya sih, tapi Mbak Aya yang berikan untuk acara ini. Jika kau tidak nyaman ganti saja. Memberikan bukan berarti wajib kau gunakan."


Deya mengamati pakaian yang dia gunakan di depan cermin. Cantik dan terlihat elegan tetapi memang terbuka di bagian dada.


"Aku akan memakai syal untuk menutupi ini."


"Terserah, aku lebih suka kau memakai pakaianku sendiri atau membeli yang baru. Buat apa kuberi uang bulanan jika kau tidak pernah menggunakan."


Edward menyindirnya sekali lagi karena tidak pernah menggunakan uang yang Edward berikan.


"Untuk apa? Semua kebutuhan sudah kau penuhi, urusan rumah, baju, pakaian, kosmetik sudah tersedia bahkan ayah dan ibu pun sudah kau beri uang."


"Biasanya wanita tahu apa yang mereka mau," ujar Edward yang terbiasa dengan gaya hidup Soraya dan keluarganya yang hedonis.


"Aku memang dari keluarga miskin jadi tidak tahu bagaimana cara hidup keluargamu," ucap Deya.


Membuat langkah kaki Edward yang hendak ke kamar mandi terhenti.


Dia membalikkan tubuh. "Aku lebih suka kau memakai pakaian yang kau beli sendiri, walau harganya selangit daripada kau menerima pemberian orang. Kau harus punya gengsi, jatidiri, dan identitas sehingga tidak mudah tertipu oleh kebaikan orang dan diperdaya orang lain. Baru dibelikan baju saja sudah bahagia minta ampun."


"Bukan soal bajunya Mas. Namun, ini bentuk perhatian Mbak Aya," ucap Deya namun Edward sudah masuk terlebih dahulu ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Satu setengah jam kemudian mereka sampai di sebuah rumah makan yang terletak di sebuah rooftop gedung bertingkat. Edward memeluk pinggang Deya yang memakai balutan kain sutra hitam yang melekat pas ditubuh.


Dia nampak cantik dengan dandanan yang natural dan juga rambut yang diikat tinggi ke atas. Nampak muda, seksi dan memikat. Membuat semua pria melihat ke arahnya. Hal itu membuat Edward semakin posesif memeluknya. Seolah ingin memberi tahu semua orang bahwa Deya adalah miliknya.


Di pinggir tembok pembatas, nampak Soraya dan Zahra sedang duduk menunggu kedatangan mereka. Soraya langsung berdiri ketika kedua orang itu datang, menyembunyikan kesedihan hatinya yang mendalam dengan sebuah senyuman pahit.


"Lihat, ayahmu dan istri mudanya sudah datang," tunjuk Soraya pada Zahra. "Mereka terlihat serasi kan, Sayang."


Zahra melihat ke arah mereka. "Mereka tampak bahagia sekali ya, terutama Ayahmu," imbuh Soraya membuat wajah Zahra terlihat masam.


"Ayo, kau harus terlihat senang dan bahagia sayang agar semua membaik," bisik Soraya memeluk bahu Zahra dan mengajaknya berdiri.


"Hallo, Mbak," sapa Deya mendekat mereka lalu bercipika-cipiki. Edward tidak mau menyentuh Soraya, lebih memilih memeluk Zahra.


"Hai Sayang, bagaimana kabarmu?"


"Baik, sangat baik walau ayah tidak pernah pulang kembali ke rumah." Zahra melirik tajam ke arah Deya.


"Sayang, kau tidak boleh seperti itu," tegur Soraya pada Zahra. Zahra memalingkan muka ke samping.


"Kata Ibu aku harus selalu memahami Ayah!" kesal Zahra duduk dengan melipat tangan di dada.


"Hai Zahra, bagaimana keadaanmu. Kakak merindukanmu," kata Deya lembut hendak memeluk Zahra tapi gesturnya seperti dingin.


"Aku baik-baik saja karena ada Ibu."


Deya melihat ke arah Edward yang juga sedang melihat interaksi keduanya. Berbicara dari hati. Lalu, tersenyum ke arah Zahra dan mengusap kepalanya lembut.


"Syukurlah kalau begitu, Kakak ikut senang." Zahra melepaskan tangan Deya dari kepalanya.


"Sebaiknya kalian duduk dan kita makan malam bersama." Soraya berusaha mengalihkan perhatian mereka. Menengahi suasana yang tidak enak.


Mereka lalu duduk saling berhadapan. Deya duduk di samping Edward dan Soraya duduk bersama Zahra. Pelayan mendekat.


"Kau ingin makan apa Deya?" tanya Soraya. Deya membolak-balik buku menu makanan.

__ADS_1


"Aku ikut saja dengan pesanan Mbak. Mas mau pesan apa?" Deya tidak tahu harus memesan makanan apa karena dia tidak pernah masuk ke restoran bintang lima seperti ini. Harga yang tertera pun sangat mahal, satu porsi bisa untuk makan keluarga sederhananya selama sebulan.


"Biar Aya saja yang pesan kan. Dia tahu makanan apa yang biasa kami pesan," jawab Edward yang sama sekali tidak membuka buku menu masakan itu. Deya menganggukkan kepala.


Soraya tersenyum lebar. "Kepiting saus tiramnya satu, salad telur hitam untuk makanan pembukanya, lalu.....," Soraya memesan banyak makanan kali ini. Terutama kesukaan Edward dan Zahra. Tidak menanyakan apa yang Deya inginkan.


Setelah itu satu persatu makanan di sajikan. Deya nampak canggung dengan tatacara makan orang kaya. Walau sebelumnya dia sudah belajar otodidak dari internet. Apalagi menghadapi menu kepiting.


Edward yang tahu lalu membantunya.


"Kemari, biar aku buka cangkangnya." Edward mulai membuka cangkang kepiting sehingga Deya bisa menikmati makanannya. Dia juga mengelap sudut bibir Deya yang kotor.


Sepanjang makan malam itu wajah Zahra nampak ditekuk, lebih cenderung ke arah marah dan kecewa.


"Biar Ibu bantu, Nak," kata Soraya yang tahu suasana hati anaknya yang tidak baik. Deya pun bisa merasakan sikap dingin Zahra yang tidak seperti biasanya.


"Dua hari lalu Zahra panas," kata Soraya ketika mereka memakan puding coklat berbentuk kelapa yang manis. Edward menghentikan makannya dan menatap ke arah Zahra.


"Kau tidak memberitahu Ayah, Sayang."


"Ibu menelfon Ayah berkali-kali tapi Ayah tidak mengangkatnya." Edward menghela nafasnya. Ayah terlalu sibuk hingga melupakan aku sekarang."


"Sayang, bukan maksud ayah seperti itu. Kau adalah prioritas Ayah, hidup Ayah, tidak ada yang lebih penting kecuali kau, Sayang."


"Sungguh?" Nampak ada keraguan dalam suara Zahra.


"Tentu saja, kau tetap akan jadi prioritas Ayah," tegas Edward sambil tersenyum canggung merasa ada yang salah di sini.


"Kalau begitu pulanglah ke rumah Ayah. Aku rindu Ayah membacakan cerita untukku. Menemaniku tidur, membangunkanku dan bercanda denganku," nada suara Zahra nampak mengiba.


Edward tertegun menatap Zahra. Memejamkan matanya dan menghela nafas. Dia bisa melihat wajah terluka anak semata wayangnya. Edward memang salah, selama tinggal dengan Deya dia tidak mengunjungi Zahra. Dia sering pulang malam karena pekerjaan dan setelahnya hanya ingin berbaring di sisi istrinya tersayang.


"Aku rindu Ayah, rindu kebersamaan kita."


Deya memegang lengan Edward.

__ADS_1


__ADS_2