
Setelah makan malam, Dafi meminta Deya untuk menemaninya tidur. Edward ikut tidur di samping Deya.
"Ayah geser, sempit," rengek Dafi. Ukuran tempat tidur itu memang sempit untuk dua orang saja sudah mepet itu tambah Edward.
"Mas, ini ikut-ikut aja, jadi susah."
Bukannya pergi, Edward malah memeluk pinggang Deya dari belakang dan meletakkan kepala di bahu wanita itu. Menyesapnya pelan.
"Ayah, jangan! Ini Ibu Dafi," seru Dafi posesif yang membuat orang ingin selalu meledek. Dafi memang paling tidak suka jika ibunya didekati orang lain selain dirinya.
Anak itu menyingkirkan tangan Edward dari tubuh Deya. Bukannya melepaskan Edward malah mempererat pelukannya meletakkan kaki diatas kaki Deya membuat wajah Dafi tambah memerah.
"Ibu itu Ayah, jangan di sini," rengeknya.
"Ih, Mas ini senang sekali bikin Dafi nangis!" geram Deya. Mencubit tangan Edward yang ada di pinggangnya.
"Aw! Sakit, Sayang," ujar Edward.
Di pintu Zahra mengintip kebersamaan ketiga orang itu dengan sedih. Seingatnya, dia tidak pernah melakukan itu dengan Ibu dan Ayahnya. Entah ketika kecil, mungkin dia sama seperti Dafi.
Deya yang melihat ada Zahra langsung memanggil. "Zahra tolong Ibu, ini Ayahmu meledek Dafi terus." Edward melepaskan Deya. Semua duduk.
Zahra tertegun karena dipanggil, dengan malu-malu dia masuk ke dalam.
"Selama ini kan Ibu dengan Dafi sekarang Ayah pinjam boleh?" Edward memeluk bahu Deya lagi. Dafi semakin keras memukul tangan Ayahnya.
"Kak Ara tolong Dafi," teriak Dafi. Zahra lantas tersenyum ikut naik ke tempat tidur dan menjauhkan tangan Ayahnya dari Deya. Gantian Edward menggelitik Dafi dan Zahra. Mereka tertawa keras. Suasana rumah terasa hangat dan ceria.
Setelah lelah bercanda. Edward memutuskan untuk menggelar tempat tidur lipat di kamar Dafi. Edward dan Dafi akhirnya tidur di atas setelah pria itu membacakan sebuah cerita spiderman yang dia tahu. Tidak mungkin dia bercerita tentang putri seperti yang dia lakukan pada Zahra semasa anak itu kecil. Anak lelaki harus mendengar cerita superhero.
Zahra sendiri tidur dipeluk oleh Deya, ikut mendengar cerita Ayahnya.
"Kau sudah mengerjakan PR-mu?" tanya Deya. Zahra mengangguk.
"Buku?"
"Sudah aku masukkan ke dalam tas, tidak ada yang tertinggal, Bu."
"Anak pintar."
"Sekarang tidur, sudah malam. Biar besok tidak kesiangan."
Zahra mengangguk. Lalu memejamkan matanya. Belum lama dia membuka matanya lagi.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Deya.
"Bagaimana dengan ulang tahun Ayah?" bisik Zahra. Deya tersenyum. Edward diam-diam mendengar ucapan kedua orang itu.
"Nanti Ibu bangunkan. Sekarang kau tidur dulu."
Zahra kembali memejamkan mata. Jemari Deya mengusap dahi Zahra membuat anak itu tidur dalam damai.
Melihat gerakan suaminya, Deya menghentikan gerakannya. Pura-pura tidur.
"Ck... malam ini tidak ada jatah, De?" tanya Edward tapi tidak mendapatkan respon dari Deya.
"Huft, harus puasa lagi." Edward membalikkan tubuh memeluk Dafi. Ikut memejamkan mata. Deya membuka mata pelan dan tersenyum. Lantas bangkit setelah mendengar dengkuran halus dari suaminya.
Dia berjalan masuk ke kamar. Mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Baru saja dia hendak memasukkan dress tidur Edward sudah menyergap nya dari belakang.
"Nakal! Meninggalkan suami tidur sendiri." Pria itu menyesap tengkuk istrinya dalam sebelum sempat dijawab.
"Sudah kubilang aku rindu." Edward membalikkan tubuh istrinya lantas mencium bibir wanita itu dalam. Tangannya mulai membuka penutup bagian tubuh penting Deya.
"Mas pintunya?" tanya Deya.
"Sudah aku tutup dan kunci," ucapnya dengan suara berat penuh gairah.
"Kau tidak tidur?" tanya Edward menyesap rokok lantas mematikannya di asbak.
"Aku ingin membuat pesta kejutan untukmu bersama dengan anak-anak tapi kau menghancurkan acara itu karena belum tidur sampai sekarang. Ini tidak akan surprise lagi."
"Aku bantu, nanti jika sudah siap aku pura-pura tidur. Kau bangunkan anak-anak untuk membangunkanku."
"Ih, itu tidak lucu," gerutu Deya menekuk wajahnya.
"Yang lucu wajahmu jika ditekuk seperti itu. Tambah cantik dan manis. Ehm, bibirmu yang bengkak tambah seksi lho."
Edward langsung bangkit memungut bajunya yang berserakan di lantai dan memakainya. Dia lantas mengambil baju Deya.
"Sini aku pakaikan."
"Aku bisa sendiri," kata Deya.
"Aku pakaikan tidak apa-apa. Aku suka melakukannya," kata Edward merentangkan penutup depan tubuh Deya membuat wanita itu memerah wajahnya. Deya langsung menarik pakaian dan memakainya.
"Apa yang harus kita lakukan untuk membuat surprise?" tanya Edward polos setelah mereka berada di lantai bawah. Tingkahnya membuat Deya semakin kesal tapi gemas.
__ADS_1
Deya mengeluarkan beberapa benda dari dalam laci dapur. "Tiup balon ini."
Jam dua belas kurang. Semua sudah tersedia di atas meja terompet, balon, hiasan kertas kue dan bunga.
"Sepuluh menit lagi hari ulangtahun ku. Aku akan ke kamar tidur dan kau bangunkan anak-anak. Jangan buat mereka kecewa ya!"
Edward lantas pergi ke atas, ke kamarnya. Sedangkan Deya pergi ke kamar Dafi untuk membangunkan kedua anaknya.
"Dafi, Zahra, bangun. Ini sudah waktunya kita berikan kejutan untuk Ayah." Dafi dan Zahra akhirnya membuka mata dan duduk setelah hampir lima menit Deya berusaha membangunkan keduanya.
"Oh, ya. Ini jam berapa, Bu."
"Jam dua belas malam kurang lima menit."
Zahra langsung membuka mata. "Wah, kita belum siapkan apapun."
"Sudah Ibu siapkan semua dibawah. Kita hanya harus memberikan kejutan itu."
"Sudah, Ibu sendiri yang mengerjakan?" Deya mengangguk.
'Bersama Ayahmu!' batin Deya.
Deya mengangkat Dafi yang masih mengantuk. Mereka berjalan ke bawah. Zahra membawa kue untuk Edward dan Deya membawa bunga serta terompet. Dafi memegang senter.
Mereka masuk kamar yang gelap. Dafi dan Zahra cekikikan sendiri. Si kecil lantas naik ke atas tempat tidur.
"Ayah bangun," kata anak itu mengoyak tubuh Edward. Suami Deya pura-pura membuka matanya.
"Surprise." Teriak ketiganya. Lalu mulai menyanyikan lagu ulang tahun.
"Make a wish," ucap Zahra. Edward memejamkan mata. Dia hanya berharap semoga rumah tangganya selalu bahagia seperti ini selamanya hingga akhir hayatnya. Dia bahagia bisa hidup bersama dengan Deya.
Edward meniup lilinnya. Lalu mencium kening Deya dalam. " I Love you."
"Love you too," jawab Deya membuka mata Edward terbuka lebar. Baru kali ini Deya mengatakan cinta untuknya.
"Katakan lagi, Sayang," pinta Edward. Deya melihat ke arah anak-anak.
"Aku menagih nya nanti," bisik Edward. "Kau tahu ini hadiah terindah sepanjang hidupku." Edward lantas mencium kedua anaknya secara bergantian. Memotong kue dan memakannya.
Mendadak handphone Edward berbunyi. Tertera nama Soraya di sana. Suasana hening seketika. Edward sebenarnya malas mengangkat, tetapi ada Zahra di sana yang harus dia jaga perasaannya.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga di tahun ini kau mendapatkan kebahagiaan melimpah. Sayangnya di ulang tahunmu kali ini kita harus merayakannya di pengadilan agama besok." Terdengar helaan nafas dalam. "Aku harap kau membatalkan surat gugatan cerai karena aku masih sangat mencintaimu."
__ADS_1