Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab.22 Kepergok


__ADS_3

Paginya Deya merasakan tubuhnya pegal semua. Dia enggan untuk pergi pulang hanya ingin berbaring di tempat tidur saja.


Diraihnya handphone yang tergeletak di atas nakas, mengaktifkan kembali setelah dia mematikan total tadi malam.


Beberapa panggilan dan chat dari Angga dan panggilan dari Tuan Recehan. Lalu dari dua adiknya yang menanyakan keberadaannya.


Deya lalu membalas chat adiknya yang mungkin sedang bersekolah hari ini. Handphone itu pasti ada di rumah jadi Ayah atau ibunya bisa membaca.


'Deya bersama Mas Edward semalam. Sekarang sudah mau pulang.'


Kakinya malas untuk melangkah karena pegal dan sakit diantara kedua pangkal paha nya tetapi dia harus melakukannya. Dia tidak ingin berlama-lama di sini, ruangan yang membuat dia terluka.


Deya lantas keluar dari kamar utama dan disambut dengan sapaan dari pengawal Edward.


"Selamat pagi Nona Deya, itu sarapan Anda sudah disiapkan sedari tadi." Deya melirik dengan enggan.


"Tidak, aku sedang tidak berselera."


"Nona, Tuan menitip pesan agar Anda harus sarapan."


Deya menatap sinis pengawal itu. "Aku mau pulang!"


"Tapi...."


"Jika kau menghalangiku aku akan laporkan pada Tuanmu jika kau berlaku buruk padaku!" ancam Deya membuat pengawal itu mundur. Deya lantas pergi keluar dari ruang presiden suit room hotel.


Dia diikuti oleh pengawal itu hingga sampai di lobi hotel. Deya membalikkan tubuhnya.


"Aku bukan anak kecil yang harus selalu diikuti. Kau kembali saja pada, Tuanmu!"


Pacar Tuan Edward ini lebih galak dari majikannya sendiri. Tuan Edward sendiri tidak pernah membentak dan selalu berkata halus tapi tegas. Pikir pengawal itu.


"Saya harus mengantar Anda kemanapun Anda pergi!"


Deya menahan geram. Dia berjalan keluar hotel lalu menelfon Edward.


Edward sendiri baru saja duduk di ruang rapat dengan jajaran direksi perusahaan. Dia hendak mengatakan sesuatu ketika sebuah panggilan datang.


"Selamat pagi semuanya, kali ini kita akan melakukan rapat terkait dengan... " bunyi handphone Edward yang terdengar ke seluruh ruangan. Handphone pribadinya hanya berisi dari beberapa orang terdekatnya saja, Soraya, Zahra kedua orang tuanya, Kakaknya, Satria dan yang terakhir adalah Deya. Jika ada panggilan berarti dari orang-orang yang penting dalam hidupnya.


Edward menatap handphone itu melihat nama peri manis di sana. Semua mata menatap ke arahnya. Dia mematikan handphone itu tetapi panggilan kembali lagi.

__ADS_1


Edward lantas memasang earphone dan menjawab telepon dari Deya.


"Ya, ada apa?"


"Assalamu'alaikum!" sapa Deya dengan suara marah membuat satu alis Edward terangkat.


"Wa'alaikum salam." Edward hendak bertanya ketika Deya sudah mengomel terlebih dahulu.


"Sudah kukatakan jika jangan perlakukan aku seperti seorang putri. Aku suka dengan gaya hidupku yang apa adanya. Tolong suruh pengawalmu untuk pergi jauh dariku dia memaksa untuk mengantarku pulang padahal aku lebih suka naik bus dari pada naik mobilmu yang ber-AC."


"Aku hanya ingin kau bisa nyaman."


"Bukan nyaman malah tertekan!" Edward melihat ke arah sekitarnya dan tersenyum.


"Baiklah jika itu maumu. Serahkan handphone ini pada bodyguard."


"Selamat Pagi, Tuan."


"Turuti maunya dan kau boleh kembali!"


"Baik!"


"Wa'alaikum salam!" ucap Deya ketus lalu dimatikan sebelum Edward sempat membalas. Dia menatap handphone nya. Anak ini memang perlu di perlu di beri pelajaran. Edward tersenyum sendiri. Deya seperti Zahra yang suka marah dan merajuk tetapi dari nada bicaranya lebih kalem Zahra. Dia seperti punya anak lagi bukan seorang istri.


Edward memang bukan orang arrogant yang suka marah-marah tetapi wajahnya yang serius dan tatapan tajam matanya sudah bisa membuat orang lain terdiam seribu bahasa.


Kembali ke Deya.


Deya menyerahkan dua paper bag pada pengawal Edward. Paper bag berisi baju dari pria dan sepatu.


"Katakan simpan ini di rumahnya atau di buang saja. Aku tidak mau membawa pulang," ujar Deya santai. Dia pergi dengan berjalan kaki menjadi Deya yang sebenarnya.


Deya sedang menunggu bus trans ketika sebuah panggilan masuk ke dalam handphonenya.


"Ya, aku mau pergi KKN. Apakah kau tidak ingin mengantar kepergianku?" tanya Angga. Deya menghela nafas. Dia akan memikirkan cara memutuskan Angga setelah pria itu kembali dari KKN tetapi sebelum itu, dia akan membuat kenangan yang indah dengan Angga. Dia tidak ingin menyakiti pria itu setelah hubungan yang mereka jalani hampir tiga tahun ini.


Satu setengah jam kemudian Deya sampai di depan sebuah apartemen mewah tempat berkumpulnya teman satu kelompok Angga sebelum pergi ke lokasi KKN.


Angga yang melihat Deya langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya.


"Aku pasti akan merindukanmu," ucap Angga.

__ADS_1


"Kau belum berangkat sudah mengatakan rindu."


"Aku tidak bisa membayangkan pergi jauh darimu," ucap Angga.


"Lebay!" ujar Deya tersenyum. Deya mulai menyapa semua teman Angga yang Deya kenal kecuali Nungki. Nungki melirik nya dengan tajam seolah memperlihatkan permusuhan.


"Titip Angga, ya Septian jangan sampai ada Kunti yang menyambar nya hingga lupa diri."


"Ketika ada bidadari surga mana mau Angga melihat setan," celetuk Septian.


"Eh siapa tahu, setannya bermuka bidadari merayu kekasihku ini," kata tajam tertuju langsung ke arah Nungki.


"Ngga, Tante menelfon katanya panggilannya tidak kau angkat," ujar Nungki lembut pada Angga.


"Eh, aku silent," ucap Angga lalu melihat handphonenya. Dia melakukan panggilan dengan mamanya. "Iya, Mom. Sebentar lagi mau berangkat."


Nungki berjalan melewati Deya dan sengaja menabrak pundak Deya hingga limbung dan hampir terjatuh.


"Eh Loe mau apa sih? Nantangin gue, gue ladenin!"


"Ih, elo-nya aja yang ngalangin jalan," ucap Nungki berlalu pergi sambil tersenyum sinis.


Angga yang melihat langsung mendekati Deya dan memegang bahunya. "Ada yang sakit?"


"Nggak kok," jawab Deya.


Edward tidak sengaja melihat Deya bersama dengan Angga ketika dalam perjalanan menemui rekan bisnis. Istri simpanannya tampak terlihat mesra dengan pria lain. Tangannya mulai mengepal erat. Wajahnya menegang seketika. Otot tipis terlihat di dahinya.


"Berhenti sebentar, Pak," perintah Edward sambil melihat ke arah Deya yang berdiri di seberang jalan.


Dia mengambil handphone dan menelfon Deya.


"Kau dimana, De?" tanya Edward yang melihat Deya mulai menjauhi Angga dan teman-temannya.


"Aku bersama teman-teman yang mau pergi KKN." Satu poin Deya berkata dengan jujur.


"Siapa saja?" Terdengar ******* nafas keras dari Deya.


"Apakah se-perlu itu untuk mengetahui apa saja yang akan kulakukan. Aku punya kehidupan sendiri juga yang tidak bisa ditinggalkan karena bersama dengan dirimu."


"Aku suamimu, De!" ucap Edward tegas namun lembut.

__ADS_1


"Aku ingat itu dan aku tahu batasan dalam bergaul." Deya langsung mematikan panggilan di handphone nya kesal. "Aku istrinya? Hah! Aku kira aku hanya gundiknya."


__ADS_2