Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 74 Melawan


__ADS_3

Deya pergi ke rumah Edward untuk bertemu dengan Soraya. Dia memanggil Deya untuk datang bahkan memanggil sopir juga untuk menjemputnya. Deya menuruti semua yang Soraya inginkan.


Kakinya yang panjang dan langsing terlihat memasuki ruang tamu Edward. Tidak ada orang di sana. Bahkan Mr Lee sekalipun, nampaknya wanita itu memang ingin bicara secara pribadi dengan Deya.


Dia terus masuk hingga menemukan Soraya di bar dalam ruangan luas, tempat orang biasa berpesta di rumah itu. Deya menghela nafas.


"Akhirnya kau datang juga Deya," kata Soraya meletakkan gelas berisi minuman keras berwarna kuning.


"Mana aku berani menentang permintaan istri pertama suamiku," jawab Deya tenang. Soraya tertawa terkekeh.


"Apa kau sudah melihat berita hari ini?" tanya Soraya.


"Berita tentang apa?" ucap Deya dengan wajah tidak mengerti.


"Jangan sok polos di depanku."


"Aku betul-betul tidak tahu." Deya mendekat laku duduk di kursi baru berseberangan meja dengan Soraya.


"Berita tentangmu dan Edward."


"Iyakah, baguslah setidaknya kini mereka tahu siapa aku. Aku jadi bukan istri yang disimpan lagi."


Wajah Soraya mendadak menegang tetapi se perdetik kemudian dia terlihat bersahabat. Dia menenggak minumannya dan tersenyum.


"Apakah itu masalah untukmu, Mbak?" balik Deya.


"Tidak tapi akan menimbulkan masalah untuk suami kita."


"Aku yakin dia sudah bersiap untuk hari ini dari jauh-jauh hari."


Soraya menghela nafas panjang. Ternyata Deya tak sepolos wajahnya. Dia nampak selalu tenang tetapi bisa membalikkan keadaan.


"Dimana Zahra?" tanya Deya melihat ke sekeliling rumah itu.


"Dia sekolah, De?"


"Mbak Aya membiarkan dia bersekolah?" Deya nampak kesal.


"Lho dia itu kan pelajar sudah seharusnya dia bersekolah."


"Apakah dia tidak akan menemui tekanan di sana?"

__ADS_1


"Bukankah Edward sudah mempersiapkan hari ini?"


"Ya, dia sudah bersiap tapi dia kira Mbak akan peduli tentang kebahagiaan anak dan perasaannya!" tegas Deya.


"Maksudmu aku tidak peduli dengan kebahagiaan Zahra?" suara Soraya terdengar meninggi.


"Jika Mbak peduli, Mbak akan singkirkan dia dari masalah yang ada dan menyelamatkan kondisi psikisnya sebelum hal ini terjadi."


"Bukankah itu salah kalian kenapa aku harus bertanggungjawab?" Soraya nampak santai sekarang. Deya tersenyum dan tertawa. Membuat Soraya bingung.


"Apa yang kau tertawakan tidak ada yang lucu di sini!" Bukan berhenti Deya turun dari kursi dan menyalakan musik yang ada di ruangan itu.


Soraya mengikuti langkah kaki Deya.


"Biar tidak sepaneng," jawab Deya tersenyum lebar.


"Deya! Aku sedang berbicara denganmu hentikan suara musiknya!" teriak Soraya.


"Ini alasanku menyetel sebuah lagu dengan keras agar tidak ada yang mendengar pembicaraan ini selain kita." Deya mendekat ke arah Soraya. Menunjuk ke dadanya. "Antara jau dan aku."


"Apa yang kau rencanakan pela*** kecil?" tanya Soraya.


"Seharusnya panggilan itu tersemat di dirimu bukan aku. Aku ini seorang istri dan hanya melayani suamiku saja sedangkan kau seorang wanita yang sudah melayani beberapa pria," jawab Deya melihat daftar lagu dari layar televisi.


"Tangan yang indah ini dan tidak terjamah dapur jangan dipakai untuk menyentuh kulit kasar ku nanti ketularan miskin sepertiku."


"Kau berani melawan ku. Hah!" teriak Soraya.


"Aku tidak melawan Anda, Mbak Aya, hanya sebuah saran saja."


"Deya kau tidak seperti yang terlihat, kau sama seperti wanita pelakor lainnya?"


"Lalu sebutan yang tepat untuk Mba Aya apa?" Wajah Aya memucat. "Wanita yang tidur dengan sahabat dari suaminya demi sebuah kepuasan yang tidak di dapat dari suaminya.


"Deya!" Mata Soraya keluar menatap tajam ke arah Deya.


"Aku akan baik jika Mbak Aya bersikap baik dan aku akan bersikap buruk jika aku dihina atau dipermainkan!"


"Ha... ha... ha...," tawa Soraya terdengar hingga ke seluruh sudut ruangan.


"Deya... Deya aku terkejut dengan sikapmu ini!"

__ADS_1


"Namun aku tidak terkejut dengan sikap Mbak Aya ini," ungkap Deya.


"Sepertinya aku menemukan lawan yang sepadan."


"Kau jual aku beli, bagitu kata pepatah, Mbak." Deya duduk di sebuah kursi.


"Baiklah, aku akan jujur padamu jika aku sangat membencimu."


Deya menghela nafas duduk dengan sikap anggun.


"Hanya itu?"


"Aku ingin kau pergi dari kehidupan Edward!"


"Jika Mas menginginkan itu, aku akan pergi."


Soraya melempar gelas yang dia pegang ke lantai dekat dengan Deya.


"Itulah bedanya kau dan aku. Aku selalu bersikap mengalah sedangkan kau ingin selalu menang. Aku terima hanya dijadikan istri kedua tanpa status sedangkan kau yang istri sah malah mensia-siakan kesempatan keduamu. Aku berusaha agar kau diterima lagi oleh Zahra dan Mas Ed tetapi kau malah berniat buruk padaku. Kau ingin bermain, maka ayo kita selesaikan permainan ini. Siapa yang akan menang menjadi istri Mas Ed ke depannya!"


"Kau seperti malaikat pada sisi yang lain tetapi jauh didalam hatimu kau sama sepertiku."


"Jika aku sama sepertimu, aku akan menghasut Zahra untuk membencimu itu sangat mudah bagiku karena anak itu sangat kecewa padamu sebelumnya, betul tidak?"


"Satu lagi, aku akan membuat Mas Edward langsung menceraikan mu dan mengusir mu dari sini setelah itu aku yang akan berkuasa di rumah ini. Nyatanya, aku memilih tinggal di sebuah apartemen. Tanpa pelayan sama sekali! Aku juga tidak pernah menjelekkanmu di depan Mas Ed? Terserah kau percaya atau tidak."


"Sekarang kau malah menyebarkan hubunganku dengan Mas Ed ke dunia luar, untuk apa? Agar semua orang mendukungmu, istri yang dikhianati dan teraniaya. Silahkan, aku tidak peduli yang aku pedulikan hanya hidupku dan Mas Ed saja. Zahra itu urusannu karena kau yang ingin merawatnya. Beda urusan jika Zahra bersamaku maka akan ku bahagiakan dia sebisa yang ku mampu."


Soraya tidak bisa berkata-kata lagi. Deya lantas bangkit dan merapikan bajunya.


"Siapa kau Deya berani melawanku?" tanya Soraya tersenyum sinis.


"Aku bukan siapa-siapa, hanya orang lemah yang mencoba berdiri tegak dalam himpitan masalah keluarga kalian. Aku akan melindungi Mas Ed darimu atau orang-orang yang akan berbuat jahat padanya. Namun, jika kau ingin kita berdamai ayo." Soraya memalingkan wajah tertawa mengejek.


"Aku rasa kau tidak akan pernah menginginkannya. Kau seperti ratu manja yang ingin segala keinginanmu terpenuhi dan kau juga tipe orang yang tidak mau kalah hal itu yang akan membuat kau tersingkir dari orang-orang di sekitar mu sendiri."


"Deya!" bentak Soraya penuh emosi. Matanya memperlihatkan kebencian yang teramat sangat.


"Jangan berteriak padaku karena aku bukan pelayanmu, aku sama sepertimu, istri dari Mas Edward, pemilik rumah ini."


"Pergi kau dari rumah ini," usir Soraya. "Pelayan usir wanita murahan ini dari rumahku!"

__ADS_1


Seketika dua pengawal Deya datang mendekat


"Tidak perlu kau usir, aku akan pergi sendiri. Suatu saat, aku akan kembali sebagai Nyonya dari rumah ini."


__ADS_2