Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 14 Bayaran Pelayanan


__ADS_3

Deya duduk di depan orang yang akan melakukan interview. Rasa cemas dengan pertanyaan yang akan dilayangkan jelas menghantui tetapi dia mencoba untuk tetap rileks dalam menghadapinya.


"Mengapa kamu tertarik untuk magang di sini dan apa harapanmu?" tanya seorang pewawancara.


"Ini perusahaan besar yang mempunyai reputasi bagus dan pencapaian keuntungannya selalu meningkat dalam. beberapa tahun ini. Itu tidak akan terjadi jika tanpa di dukung oleh pimpinan yang hebat juga karyawannya yang ulet bekerja. Untuk itu saya ingin mendapatkan banyak ilmu di perusahaan ini selama saya magang. Harapan saya agar bisa diterima dengan baik di perusahaan ini.''


Pewawancara dengan name tag Desi Saputri mencecarnya dengan pertanyaan lain.


"Apakah kamu pernah bekerja secara tim? "


"Saya ikut dalam semua kegiatan BEM di Fakultas. Jadi bekerja di bawah tim itu sudah biasa bagi saya."


"Apakah kamu pernah mengerjakan proyek dari nol?"


"Sudah, saya pernah membangun sebuah usaha minuman teh yang divariasikan dalam beberapa rasa . Awalnya modal lima juta dari patungan dengan teman-teman lama kelamaan berkembang menjadi lebih besar hingga sempat membuka cabang. Akan tetapi karena kesibukan kami terpaksa outlet minuman kamu ditutup untuk sementara. "


"Bagaimana kamu menghadapi dan mengatasi sebuah masalah yang besar?"


"Harus dengan tetap tenang karena pikiran kita tidak bisa bekerja dengan baik jika kita sedang kalut. Tidak boleh buru-buru dalam mengambil satu keputusan karena akan berdampak buruk nantinya."


Lalu beberapa pertanyaan yang lain mulai ditanyakan. Setelah itu, Deya disuruh menunggu diluar.


"Tidak lama kemudian Deya dipanggil oleh seorang pegawai. Dia diminta oleh pegawai itu untuk mengikutinya.


"Tinggalkan dia disini biar dia naik keatas sendiri," ucap seorang petugas keamanan.


"Baiklah," ucap wanita itu membiarkan Deya masuk ke dalam lift sendiri.


Lift membawanya dengan kecepatan tinggi ke lantai dua puluh. Pintunya bergeser terbuka dan dia di lobi besar berikutnya – lagi semua terbuat dari kaca, baja, dan batu pasir putih. Deya dihadapkan oleh sebuah meja dari batu pasir dan seorang perempuan muda berpakaian tanpa cela berwarna hitam dan putih yang bangkit untuk menyapa.


“Deya Almaira, bisakah kau menunggu di sini, sebentar?” Dia menunjuk ke area duduk dari kursi kulit putih.

__ADS_1


Di belakang kursi kulit adalah ruang rapat berdinding kaca yang luas dengan meja kayu gelap yang sama luasnya dan sedikitnya dua puluh kursi yang secorak di sekitarnya. Di luar itu, ada jendela dari lantai ke langit-langit dengan pemandangan cakrawala Jakarta yang terlihat keluar ke seluruh kota. Ini adalah vista yang menakjubkan dan dia sesaat lumpuh oleh pemandangan itu. Wow.


Deya duduk dan memasukkan handphone ke dalam tas dan melangkah masuk ke dalam dalam hati menyumpahi Lia karena tidak memberitahu jika ada interview langsung dengan pimpinannya Deya tidak tahu apapun bagaimana cara untuk bersikap dengan sang pimpinan. Rasa gugup muncul kembali, membuatnya gelisah.


Wanita tadi lantas masuk ke dalam sebuah pintu besar dan keluar lagi.


"Mr Xavier akan menemui anda sekarang, Nona Deya. Langsung saja masuk, ” kata wanita yang tadi menyapa Deya.


Mr Xavier nama itu terasa tidak asing untuk Deya namun ada beberapa Xavier di negeri ini, bukan hanya dia saja.


Deya berdiri agak gemetar mencoba untuk menekan gugup. Memegang tasnya, berjalan ke pintu yang setengah terbuka.


“Kau tidak perlu untuk mengetuk – langsung saja masuk.” Dia tersenyum ramah.


Deya mendorong pintu dan tersandung, tersandung oleh kaki sendiri, dan jatuh kepala duluan kedalam kantor.


"Sialan besar, aku dan dua kaki kiriku!'' Dia pada posisi merangkak di ambang pintu ke kantor Mr. Xavier dan tangan yang lembut membantunya untuk berdiri. Deya sangat malu, mengumpat untuk kesialan nya hari ini.


“Deya Almaira” Dia menjulurkan tangan berjari panjang-panjang kepadaku begitu aku tegak. “Kau baik-baik saja? Apakah ada yang sakit?"


Begitu matang dan menarik bahkan sangat menarik. Dia tinggi, mengenakan setelan abu-abu halus, kemeja putih, dan dasi hitam dengan rambut hitamnya yang sulit diatur dan mata berwarna gelap dan intens, coklat terang yang menyorot tajam padanya. Butuh beberapa saat baginya untuk menemukan suara.


"Kau, kenapa selalu bertemu denganmu?"


"Jodoh mungkin," ucap Edward asal. Dia menyuruh Deya duduk di sofa berwarna putih gading.


"Bagaimana apakah ada yang luka?"


"Tidak ada, kau jangan khawatir.'' Jantung Deya mulai bertalu-talu dengan cepat seolah ingin keluar dan masuk menyatu ke dalam dada Edward.


"Aku akan menyuruh Katrine untuk membawa minuman untukmu."

__ADS_1


"Tidak usah aku sudah bawa minuman sendiri." Deya mengeluarkan minumannya dari tas dan minum setengah botol dengan sekali teguk. Rasa gugup membuat dia haus luar biasa.


Semua yang Deya lakukan alami tidak dibuat-buat tidak seperti wanita lain yang Edward temui penuh kepalsuan bahkan wajahnya pun terkadang palsu karena sudah masuk dalam ruang operasi. Hal itu yang membuat Edward tertarik padanya.


"Aku baru saja selesai melakukan interview lalu dipanggil kemari, untuk apa?"


"Untuk membuat penawaran." Edward duduk menghadap Deya dalam satu sofa.


"Ya Tuhan, apakah kau tidak lelah melakukan penawaran untukku secara terus menerus? Bukankah sudah kukatakan jika aku tidak akan melakukan itu lagi."


"Kali ini aku akan memaksa. Kau akan mendapatkan kesempatan magang jika mau menjadi istri simpananku."


"Kau gila!"


"Tidak aku akan memberikan penawaran bagus. Kau akan mendapatkan berbagai fasilitas dariku, seperti apartemen. Uang juga mobil selain itu, jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa langsung meminta padaku."


"Itu terlihat menggiurkan. Berapa uang yang akan kudapatkan jika mau melakukan ini."


"Berapa yang kau mau, 30,40,50 juta perbulan? Akan kuberikan."


"Berapa uang yang biasa kau berikan pada istrimu sebulannya?" cecar Deya.


Edward terdiam.


"Aku kira mungkin sepuluh, dua puluh bahkan bisa seratus kali lipat dari yang kau tawarkan. Sekali belanja dia bisa membeli tas mewah seharga ratusan juta. Sepatu mewah bermerk yang bisa dia pamerkan ke seluruh negeri. Belum lagi perawatan yang dia lakukan setiap bulannya. Uang jajan untuknya. Uang tiga puluh juta itu bagai uang parkir untuk sekelas istrimu. Lalu kau ingin aku melayani mu seperti seorang istri dengan jumlah itu? Hanya itu harga ku? Ayolah, itu tidak sebanding." Edward menaikkan kedua alisnya mendengar cara Deya melakukan negosiasi dengannya. Wanita itu seorang pembisnis ulung.


"Menjadi pelakor itu penuh risiko, jadi bayarannya harus sesuai dengan risiko yang akan didapatkan," imbuh Deya.


Edward lalu tertawa terbahak-bahak. Deya tidak seperti wanita polos dalam pikirannya. Dia sama dengan wanita lainnya memikirkan untung ruginya terlebih dahulu.


"Lalu kau ingin minta berapa?" Edward balik bertanya ingin tahu seberapa serakah Deya yang memiliki wajah naif.

__ADS_1


"Bayaran ku mahal, kau tidak akan sanggup."


"Katakan! Aku akan membayar pelayanan mu, berapapun yang kau mau."


__ADS_2