
Deya masih berdiri di depan pintu condonium milik Edward yang dulu diberikan untuknya. Sudah lima belas menit dia di sana namun belum memencet bel atau membuka pintu itu sendiri. Dia terlampau bingung untuk melakukan apa.
Dia pikir sebaiknya dia masuk saja langsung melihat apa yang terjadi sebenarnya. Apakah Edward sakit betulan atau itu hanya karangan Satria belaka. Jika dia memencet bel, Edward bisa berakting sedang sakit betulan. Kalau tidak dia bisa keluar lagi dengan mengendap-endap.
Deya menghembuskan nafas keras, memencet kata kunci untuk membuka pintu utama. Tanggal pernikahan mereka. Masih sama kata sandinya. Edward memang benar, dia tidak pernah merubah apapun, semua yang ada di rumah masih sama seperti dulu.
Dengan langkah hati-hati dan perlahan Deya memasuki rumah itu seperti seorang maling yang takut ketahuan. Mencari keberadaan Edward tetapi sepi. Tidak terlihat ada kehidupan di sini. Deya mulai naik ke atas. Membuka pintu kamarnya yang terletak persis di depan anak tangga.
Tangan Deya menegang ketika memegang knop pintu. Sejenak ragu, sedetik kemudian dia merasa kepalang tanggung karena sudah berada di sini. Deya menghembuskan nafas kelas menata hati jika melihat Edward. Merancang kalimat apa yang akan dia katakan jika pria itu bertanya mengapa dia ada di sini.
Pintu mulai dibuka pelan. Deya melihat Edward terbaring di tempat tidur. Matanya membelalak. Apakah yang dikatakan Satria benar jika Edward memang sakit. Pria itu tidak pernah bangun kesiangan apalagi tidur di jam ini. Deya melangkah masuk. Dia mendekati ranjang. Tangannya terulur, menyentuh dahi Edward.
Seketika tangannya dipegang erat Edward. Dia membuka matanya dan tersenyum.
"Apakah ini mimpi?" tanya Edward. "Kalau iya aku tidak ingin bangun dari mimpiku, uhuk... uhuk...." Edward terbatuk. Bangkit, duduk.
Deya mengambil tissue yang ada di atas nakas duduk di sebelah Edward.
"Kau sakit?" tanya Deya khawatir mengamati wajah Edward yang nampak tidak segar dan kuyu.
"Kau benar ada di sini, De?" kata Edward lagi, tidak percaya istrinya ada di sini. Dia lalu menarik tubuh Deya dan memeluk. Menghirup aroma yang tadi singgah di hidung dan membuatnya terbangun.
Deya terdiam. Tidak membalas atau menyambut. Setelah puas memeluk Deya, Edward melepaskannya dan menangkup wajah Deya.
"Ini benar kau." Edward menyatukan dahi mereka. Mengecup bibir Deya berkali-kali.
"Aku tahu kau akan pulang suatu hari lagi." Suara Edward bergetar membuat Deya tersentuh. Netra cantik wanita itu merebak.
"Aku hanya... ingin melihat keadaanmu. Katanya kau sakit," jawabnya ragu pada ucapannya sendiri.
"Siapa yang bilang?" Edward menjauhkan wajahnya agar bisa melihat Deya lebih jelas.
__ADS_1
"Satria." Mendengar itu Edward tersenyum. Pikirnya besok anak itu akan dia beri bonus mobilnya karena telah membawa istrinya kembali kemari. Dia boleh memilih mana mobil yang dia suka.
"Memang sakit."
"Sakit apa, katanya parah. Katakan padaku," tanya Deya khawatir.
"Sakit merindukanmu." Edward memeluk lagi Deya. Deya hendak melepaskan diri, tetapi Edward malah mengencangkan pelukannya.
"Itu tidak lucu. Aku sudah khawatir sedari tadi."
Edward kembali batuk, menutup mulut dengan lengannya. Deya menengadah melihat wajah suaminya.
"Mas sakit betulan?"
"Aku tidak apa-apa hanya sedikit batuk dan pilek." Satu tangan Edward mengambil tissue untuk menyeka cairan di hidungnya yang tinggi lalu membuang ke tempat sampah yang ada di bawah tempat tidurnya. Satu tangan lagi masih memeluk Deya dengan posesif takut wanita itu pergi lagi.
Deya masih menatap Edward dengan seksama.
"Kalau tidak apa-apa aku akan pulang." Deya merasa dipermainkan oleh Satria. Namun, dia juga tenang karena Edward baik-baik saja.
"Kau tega meninggalkan aku sendiri dalam keadaan seperti ini?" Edward keberatan jika Deya pergi lagi, dia harus mencegahnya dengan halus. Menyadarkan Deya jika Deya mempunyai perasaan yang sama dengannya.
Deya terdiam nampak sedang menimbang.
"Aku membutuhkanmu ada di sini," bisik Edward lantas mendekatkan bibir mereka dan mencium lembut Deya.
Deya mendorong tubuh Edward. "Mas, aku...." ucapnya dengan bibir yang masih bertemu. Sentuhan pria itu selalu bisa membuat bergetar tubuhnya. Melayang seperti terbang ke nirwana.
"Jangan katakan apapun, aku tahu kau juga rindu padaku," ungkap pria itu ******* bibir Deya lalu membaringkan tubuh wanita itu di tempat tidur. Sentuhan Edward selalu membuatnya lupa diri, tidak bisa berpikir waras hingga tidak bisa mencegah atau menolaknya.
Deya hanya bisa meremas seprai kuat-kuat ketika tubuhnya menegang merasakan gelombang gairah yang semakin membara di tubuhnya. Tubuhnya bergerak tidak beraturan dan suara kecil dan seksi keluar dari tubuhnya hingga dia meringis kesakitan tatkala sesuatu merasuki tubuhnya. Rasanya seperti pertama kali Edward melakukannya dulu.
__ADS_1
"Pelan Mas," ucap Deya.
"Kenapa bisa seperti ini lagi? Tapi aku menyukainya sama seperti pertama kali kita melakukannya."
Edward mulai menggerakkan panggulnya membuat Deya hilang kendali dan terengah-engah. Wajah cantiknya nampak memerah dengan bara hasrat yang tersirat di dalam pupil mata yang membesar.
"Sebut namaku, Sayang dengan suara seksimu."
"Mas Ed," panggil Deya ketika dia menemukan puncak dari kenikmatan. Edward menghentikan gerakannya dan mengerang. Lalu memacu lebih cepat lagi hingga dia mengeluarkan cairan hangat yang kental dan membuat seprai basah.
"Deya," panggilnya serak. Tubuh pria itu bergetar memeluk istrinya. Kepalanya masuk ke dalam ceruk leher wanita itu. Setelah itu mencium dalam bagian bawah lehernya dan mengangkat wajah menatap Deya.
"Terimakasih untuk ini. Kau membuatku berpuasa selama tiga tahun ini, tapi semua terbayar sudah."
"Mas, aku...." Deya menangis. Edward turun dari tubuh Deya dan berbaring, mendekap kepala wanita itu.
"Jangan menangis." Edward mengecup tetes air mata Deya. Hal yang selalu membuat Deya tenang dan senang ketika sedang kacau. "Kali ini bersabarlah karena aku akan menyelesaikan semuanya untukmu. Secepatnya."
"Tapi-" perkataan Deya terhenti ketika Edward menggelengkan kepala.
"Tidak ada tapi, mulai sekarang kau harus jujur padaku apapun itu agar aku bisa tahu apa yang harus aku lakukan. Kau jangan ambil keputusan sendiri."
"Kumohon percayai suamimu kali ini saja Deya." Mata Edward memerah membuat Deya tidak berdaya. "Kau tidak tahu seberapa berat aku menanggung derita karena kehilanganmu. Aku masih bernafas dan waras karena yakin kau akan kembali padaku. Kau tahu betapa aku sangat mencintai dirimu."
"Tapi aku bukan prioritasmu," ucap Deya pada akhirnya. Menarik nafas, tersengal,merasa lega karena pada akhirnya dia bisa mengatakan hal. ini.
Edward tercengang sejenak. "Jadi karena ini kau pergi?" lirih Edward tidak percaya.
"Kukira kau tahu jika kau adalah jantung hidupku dan nafasku, dadaku sesak setiap kali teringat dirimu yang berada jauh dariku. Di sini sakit Deya." Edward mengambil tangan Deya dan meletakkan ke jantungnya. "Kau segalanya bagiku."
"Jika aku sebagai seorang ayah menjadikan kebahagian Zahra adalah tujuan hidupku apakah itu salah? Namun, aku tidak pernah mendahulukannya dengan mengorbankan dirimu. Zahra anakku, itu adalah tanggung jawab ku dan kau belahan hidupku yang tidak mungkin aku abaikan kepentingannya. Kalian sama-sama berarti untukku."
__ADS_1
"Tidak ada namanya bekas anak Deya, tapi jika kita bercerai maka kau bukan siapa-siapaku lagi dan aku tidak ingin itu terjadi. Jangan sampai terjadi. Selamanya, aku akan tetap mempertahankan pernikahan kita walau apapun caranya karena aku ingin kau selalu menjadi bagian diriku."