Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 118 Mencintai adalah hal terindah bagiku?


__ADS_3

Edward dan keluarganya datang ke sidang terakhir. Berdebar-debar menunggu keputusan yang selama ini ditunggu dari pihak Edward. Sedangkan dari pihak Soraya sendiri lebih banyak diam. Mereka nampak tegang, mungkin karena merasa kekalahan akan menghampiri. Wajah pengacara Soraya di tekuk dalam membaca kertas demi kertas di depannya. Sedangkan Soraya sendiri melihat ke kanan kiri sambil membalas senyuman orang-orang yang terarah padanya. Dia terlihat biasa saja, tetapi pancaran netranya nampak gelisah tidak menentu.


Mama Claudia memegang tangan Deya erat. Memberi semangat padanya. Papa Adam sendiri tidak bisa hadir karena menggantikan Edward bertemu dengan klien penting. Dia mengatakan pada putranya untuk fokus ke masalah perceraian ini saja karena ini berefek pada perusahaan mereka. Untung saja kini orang tua Soraya sudah tidak memiiki saham di sana sehingga tidak ada pergolakan di dalam struktur kepemimpinan perusahaan itu.


Hakim mulai masuk, sidang di mulai. Semua orang terdiam mendengarkan dengan khusuk surat keputusan yang dibacakan oleh pengacara.


"Dengan ini pasangan Soraya dan Edward Xavier resmi bercerai." Ketuk palu terdengar tiga kali.


"Alkhamdulilah." Edward memanjatkan rasa syukur sedangkan Mama Claudia langsung memeluk Deya erat.


" Selamat Deya. Mama ikut senang." Wanita paruh baya itu merasa lega dengan keputusan hakim. Lalu hal yang menjadi suasana kembali tegang adalah pembacaan keputusan hak asuh anak.


"Menimbang adanya kelainan penyakit kejiwaan yang diderita oleh Nyonya Soraya, kami memutuskan untuk menyerahkan hal asuh anak pada Tuan Edward Xavier."


Kali ini Edward menangis hari dan bahagia. Usaha dan kesabarannya tidak sia-sia. Dia memeluk para pengacaranya yang bekerja dengan solid, mengucapkan banyak terima kasih pada mereka.


Lalu pembacaan harta gono-gini. Edward memberikan banyak uang dan harta pada Soraya yang menjadikannya seorang janda kaya raya.


Soraya sendiri tidak peduli dengan apa yang Edward berikan. Dia sudah cukup kaya tidak perlu dengan harta itu. Kekalahannya membuat hatinya terguncang. Dia langsung keluar dari ruangan setelah sidang selesai tanpa menoleh ke kanan kiri.


Sesampainya di luar wartawan mulai bertanya tentang kebenaran berita yang beredar jika dirinya mengidap kelainan jiwa. Soraya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja dan tertekan, mendorong wartawan yang mencoba merangsek di depannya, menghalangi jalan dengan sebal dan kesal.


"Bisa tidak kalian memberiku ruang dan waktu untuk bernafas sedikit saja. Keputusan ini sangat menyesakkan dadaku dan aku mohon jangan ganggu aku. Maaf jika aku kasar tapi aku mohon mengertilah!" Soraya menangkupkan kedua tangan di dadanya. Lantas pergi masuk ke dalam mobilnya.


Sebagian para wartawan yang tidak terima rekannya di dorong oleh Soraya menyoraki nya.

__ADS_1


"Kalau tidak ada kami kau juga tidak akan se terkenal ini," teriak salah satu wartawan.


"Pantas saja dia dicerai, attitudenya sangat buruk. Beda dengan istri kedua suaminya walau dipojokkan dan terluka karena terkena lemparan batu, dia masih bersikap sopan."


"Walau tidak memberikan keterangan apapun," timpal yang lain.


"Ya, keluarga itu tidak pernah memberikan statemen apapun. Tapi keputusan hakim yang memenangkan pihak suami Soraya membuat kita yakin siapa yang salah dalam perceraian rumah tangga ini."


"Tidak seperti berita yang kita tulis selama ini."


"Akan sangat bagus jika kita mengulik lebih dalam rumah tangga Soraya. Apalagi jika bisa mewawancarai suaminya secara eksklusif, pasti kita bisa dapat berita besar."


"Aku rasa itu tidak bisa. Kau tahu sendiri Tuan Edward Xavier bukan orang biasa dan mereka biasanya menutup rapat masalah pribadi mereka."


Mereka mengangguk. Mereka terdiam lalu kembali lagi berlari ketika melihat Deya dan Edward berjalan ke mobil.


"Kau benar," jawab wartawan lainnya.


Deya berjalan dengan dipeluk Edward, dia tidak ingin kejadian yang lalu terulang lagi. Para wartawan mulai membuat jalan mereka sulit. Edward dan Deya diam saja hingga salah seorang wartawan bertanya tentang peristiwa pelemparan kemarin.


"Nyonya apakah Anda akan memenjarakan lama orang yang melempar Anda dengan batu kemarin?"


Deya tertegun, lalu melihat kearah Edward. "Aku sudah mencari orang itu dan ku masukkan ke penjara."


"Wanita atau pria?"

__ADS_1


"Seorang wanita usia 35 tahun, Nyonya dia... " Satria berbisik pada Deya. "Dia wanita yang dibayar oleh Soraya untuk melakukan itu. Orang yang demo juga bayaran darinya."


Deya menghela nafas panjang. "Aku pikir itu hanya salah faham saja. Dia salah faham mengira aku aktris antagonis yang sangat jahat. Jadi karena itu dia melampiaskan kekesalan itu padaku. Padahal dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak perlu memaafkannya karena dia tidak bersalah. Dia hanya tidak tahu. Aku akan meminta suamiku untuk membebaskannya. Dia pasti punya keluarga yang membutuhkannya, tidak adil jika hanya karena kesalahan kecil membuat dia mendekam di penjara sedangkan banyak orang melakukan kesalahan besar tetap bebas karena mereka punya uang dan kekuasan. Bisa memanipulasi keadaan," sindir Deya pada Soraya dalam statemennya.


"Jika ada yang berkata aku sangat jahat karena seperti senang dengan perceraian suamiku, itu hak kalian. Hak ku adalah meminta suamiku untuk menikahi aku secara sah. Jika itu salah maka maafkanlah aku yang bukan orang suci karena mencintai pria beristri," ucap Deya yang blak-blakan dan membuat orang terperangah.


Deya lantas berjalan lagi meninggalkan para wartawan yang masih mengajukan banyak pertanyaan. Dia masuk ke dalam mobil bersama dengan Edward.


"Kau baik-baik saja?" tanya Edward. Deya mengangguk masuk ke dalam pelukan Edward dan menangis.


"Hei, kau kenapa?" tanya Edward khawatir. Memegang dagu Deya agar bisa melihat wajahnya.


"Aku tidak menyangka akan bisa tetap berdiri tegak hingga hari ini. Padahal jika dipikir serangan bertubi netizen itu membuat hatiku down dan aku sering merasa tidak sanggup menghadapi. Namun, ketika melihat kegigihan mu dan luka yang Zahra dapatkan dari perlakuan Mbak Aya membuatku bertahan. Aku menghargai perjuanganmu untukku itu bukti cintamu. Itu membuatku terkesan."


"Aku juga tidak mau Zahra menderita lagi dan ingin memberikan kehangatan dan kebahagian dalam sebuah keluarga yang tidak dia dapatkan dari pernikahan Mas dan Mbak Aya. Dia berhak untuk tersenyum dan menikmati harinya tanpa rasa tertekan."


Edward memeluk Deya erat. "Terimakasih karena telah masuk dalam hidupku."


"Kau sudah terlalu sering mengatakan itu."


"Dan akan terus tetap kulakukan."


"Kadang aku berpikir jika bukan kau yang datang untuk membayarku pada malam itu, aku tidak tahu bagaimana nasibku selanjutnya. kehormatan dan harga diriku sebagai wanita pasti tidak ada lagi. Namun, kau memberikan semua yang kuperlukan. Uang, kehidupan keluargaku juga kehangatan cinta. Kini kau menaikkan harga diriku dari seorang pelakor menjadi seorang istri di depan orang banyak. Kau tidak malu memperkenalkan aku di mata dunia sebagai istrimu padahal aku hanya wanita dari kalangan bawah, aku juga pernah jadi wanita murahan. Jadi yang seharusnya berterimakasih itu aku."


"Sudah!"

__ADS_1


"Kau tidak pernah menjadi wanita murahan Deya karena dari awal kau hanya milikku. Kau menyerahkan semuanya padaku, jadi aku akan menjaganya dengan sepenuh hati." Deya menatap ke dalam manik mata kelam di depannya.


"Aku tidak melihatmu dari mana kau berasal karena aku tahu kau lebih berharga dari sebuah berlian. Kau lebih indah dari sebuah pelangi di langit. Kau tidak ada samanya dengan hal apapun karena aku mencintaimu apa adanya," ungkap Edward yang membuat hati Deya berbunga-bunga serasa terbang ke atas awan.


__ADS_2