Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 110


__ADS_3

Ini adalah sidang pertama perceraian Edward dengan Soraya. Gugatan diajukan oleh pihak Edward. Keduanya di panggil untuk menjawab pertanyaan dari hakim.


Soraya datang dengan di dampingi oleh keluarganya sedangkan Edward meminta tidak seorang pun dari keluarganya untuk datang menemani karena dia tidak ingin mereka ikut dalam pusaran masalahnya.


Adapun dalam sidang pertama yang beragendakan perdamaian, hakim akan mendamaikan penggugat dan tergugat. Dalam proses perdamaian tersebut, akan terjadi dialog dan negosiasi.


Pihak tergugat dan penggugat sama-sama hadir ke ruang sidang. Hakim mulai mengajukan pertanyaan seputar identitas keduanya lalu mencocokkan dengan data yang ada.


Setelah itu hakim bertanya apa penyebab utama terjadi perceraian.


"Kami tidak sepaham dalam berbagai hal. Masalah ini sudah ada sejak lama. Kurang lebih tujuh tahun kami hidup dalam pertengkaran. Tiga tahun ini kami sudah hidup terpisah," terang Edward jelas. "Perlu Pak Hakim ketahui jika saya sudah mengatakan cerai pada Soraya dan sudah menggugat cerai dirinya semenjak tiga tahun lalu namun dia melakukan bunuh diri dan saya menahan diri untuk meneruskannya. Saya menarik gugatan saya karena pertimbangan anak kami masih butuh ayah dan ibunya."


Edward lalu menjawab pertanyaan lain soal rumah tangganya.


"Bukan karena adanya pihak ketiga? Saya pernah mendengarnya dari berita yang yang beredar di media sosial."


"Pihak ketiga ada tetapi bukan saya dulu yang memulainya."


Semua terdiam, terkejut.


"Kau jangan fitnah anakku, terang-terang kau yang menikah lagi dengan wanita dari kelas bawah, seorang pel###r," teriak Paris, ayah dari Soraya. Gumaman dari orang yang saling berbisik terdengar di seluruh sudut ruangan. Membuat hakim mengetuk keras palunya agar suasana sidang kembali kondusif.


Soraya sendiri meletakkan kepala di meja dan menangis tersedu-sedu. Tubuhnya terlihat gemetar. Beberapa wartawan mengambil fotonya.


Setelah suasana kembali kondusif, hakim mulai menanyakan pada Soraya, apakah dia ingin berdamai dan rujuk dengan suaminya?


"Saya sangat mencintai suami saya." Dia mengatakan itu dengan suara bergetar membuat semua orang iba padanya. "Sudah saya katakan padanya, saya lebih baik tiada jika harus berpisah dengan suami saya. Apakah itu tidak bisa menjelaskan seberapa besar cinta saya? Bagaimanakah saya cara saya harus membuktikannya? Jika ada saya akan melakukannya. Hanya itu yang ingin saya sampaikan Tuan Hakim yang terhormat."

__ADS_1


Edward memalingkan wajah kesal dengan akting Soraya yang sangat bagus. Sebuah senyum tipis mengejek tersemat di bibirnya.


"Yang mulia Tuan Hakim bisa melihat sendiri bagaimana cintanya Nyonya Soraya pada Tuan Edward dan dia ingin tetap mempertahankan biduk rumah tangga yang telah mereka lewati selama beberapa belas tahun ini. (Edisi othornya lupa udah berapa tahun) Saya mohon kebijaksanaannya untuk membatalkan gugatan cerai dari Tuan Edward agar dan membuat mereka kembali memperbaiki kehidupan rumah tangga yang baik ke depannya." ucap pengacara dari pihak Soraya.


Edward menghela nafas dan mengepalkan tangan, melihat ke arah pengacaranya. Si pengacara mencoba memberi dukungan lewat pandangan matanya.


"Yang mulia Tuan Hakim yang terhormat. Klien saya sebenarnya tidak ingin membuka masalah pribadinya atau aib dalam keluarga. Tidak ingin memperpanjang masalah yang ada. Namun, seandainya Nyonya Soraya tetap kekeh dengan pendiriannya untuk menolak gugatan cerai dari Tuan Edward, kami akan memberikan beberapa bukti yang ada. Hanya itu yang ingin saya sampaikan, Yang Mulia Tuan Hakim yang terhormat."


Suasana sidang terasa panas ada perang argumen antara pengacara Edward dan Soraya. Hakim memutuskan untuk menghentikan sidang dan melanjutkannya besok dengan agenda proses mediasi.


Soraya keluar dari ruang sidang dan banyak wartawan yang telah menunggunya memberi statemen. Namun, wanita itu tidak mau berbicara apapun. Dia pancaran matanya memperlihatkan kesedihan yang mendalam. Sesekali dia menyeka air mata yang keluar. Hal itu membuat iba orang yang melihat. Sebuah mobil yang terparkir di depan langsung membawa wanita cantik itu masuk ke dalam mobil. Para wartawan yang sudah menunggu dari tadi terlihat kecewa karena tidak mendapatkan hasil. Mereka lalu mengejar pengacara Soraya. Pengacaranya pun hanya mengatakan Soraya tidak ingin berpisah karena dia sangat mencintai suaminya.


Saat Edward keluar, wartawan tidak ada yang mendekat walau mereka ingin. Pria itu membawa barisan pengawal yang membuat pagar untuknya. Dia langsung masuk ke dalam mobilnya. Sebelum mobil berjalan pergi, Edward menurunkan kaca jendela.


"Untuk Zahra, anakku, Ayah dan Ibu sangat menyayangimu. Ingin yang terbaik untukmu. Ingat kau tidak sendiri ada kami yang akan selalu bersamamu." Edward lantas menutup kembali kaca jendela. Hal itu, membuat para wartawan kembali mengejarnya walau mobil mulai berjalan maju.


***


Soraya langsung duduk di kursi setelah sampai ke rumahnya. Dia langsung meminta pelayan menyalakan televisi.


"Pak Lee, ambilkan aku segelas vodka, tenggorokanku kering," teriaknya.


Ketika layar televisi dinyalakan langsung saja berita yang pertama keluar adalah tentang proses perceraiannya.


"Saya bilang apa Nyonya mereka akan merasa iba jika Nyonya tidak mengatakan apapun hanya memperlihatkan wajah tertekan sedih dan depresi."


"Kau benar, kejadian tiga tahun lalu mulai lagi naik ke permukaan tanpa aku harus mengatakan apapun. Netizen itu hanya melihat dari satu sisi dan selalu membela istri sah."

__ADS_1


"Itu yang saya maksud. Buat yang terlihat adalah Tuan Edward yang bersalah sehingga hakim condong pada Anda. Kita hanya perlu bermain kata-kata saja."


Mr. Lee lalu membawa nampan berisi botol vodka dan dua gelas kosong. Pria itu lantas mengisi setelah menyerahkan gelas itu pada Soraya dan pengacara.


"Seseorang mungkin telah membunuh tetapi jika tidak ada bukti yang menjelaskan dia telah membunuh maka dia tidak akan ditetapkan sebagai pembunuh. Kita hanya perlu membuktikan bahwa apa di lontarkan oleh Tuan Edward tidak benar."


"Aku serahkan semuanya padamu."


'Untuk Zahra, anakku, Ayah dan Ibu sangat menyayangimu. Ingin yang terbaik untukmu. Ingat kau tidak sendiri ada kami yang akan selalu bersamamu.'


Statemen Edward terlihat di layar televisi membuat Soraya tertegun. Dalam hatinya Soraya senang kalau pria itu tahu bahwa dia menyayangi Zahra.


"Pertanyaan Tuan Edward bisa kita gunakan untuk membuat orang yakin bahwa Anda adalah ibu terbaik untuk putri Anda, Nyonya."


Soraya mengangguk dan menghela nafas lega.


"Kita harus membawa Nona Zahra kembali kemari dan setelah itu Anda meng upload kebersamaan mesra Anda dengan anak itu," saran dari Pengacara.


"Kalau begitu aku akan menjemput Zahra kembali kemari."


"Apakah perlu saya temani, Nyonya? Jika ada apa-apa biar kita bisa dokumentasikan."


"Kau benar."


"Ingat jadikan disini Anda korban. Jangan perlihatkan sisi kekuatan Anda tetapi perlihatkan sisi lemah Anda."


Soraya menghela nafas, mengangguk setuju. Wajahnya memancarkan seribu rencana licik yang akan dia lakukan ke depannya.

__ADS_1


'Jika aku hancur, kau akan jauh lebih hancur dari ku, Ed," batinnya.


__ADS_2