
Edward memajukan kepalanya ke arah Deya sehingga wajah mereka hampir bersentuhan.
"Katakan berapa yang kau mau?"
Deya balik menatap mata Edward sehingga pandang keduanya terkunci.
"Aku ingin cintamu. Bisakah kau memberikannya?"
Raut wajah Edward terkejut untuk sesaat lalu berubah lagi menjadi santai.
"Kenapa kau ingin cintaku, bukankah itu akan mengikat kita berdua?"
"Cinta akan membuatmu melakukan apapun untukku, hanya itu alasannya."
"Kau memang benar-benar serakah!" ucap Edward menjauhkan diri dari Deya dan membenarkan letak duduknya.
"Sudah kukatakan kau tidak akan bisa melakukannya." Deya bangkit dan berjalan pergi tapi tangannya ditarik oleh Edward sehingga terjatuh dalam pangkuan pria itu.
"Cinta bisa dimakan oleh waktu dan habis tidak berbekas," bisik Edward di telinga Deya dan menghirup aroma rambutnya yang wangi buah-buahan.
"Setidaknya ada masa bahagia yang pernah dijalani dan melakukan sesuatunya tidak dengan terpaksa," jawab Deya.
"Tahu apa kau tentang cinta?"
"Aku belajar banyak dari hubungan Ayah dan Ibuku. Dimana mereka saling memberi dan saling menjaga satu sama lain tanpa melihat kekurangan pasangannya."
"Itu arti hubungan suci pernikahan Deya."
"Lalu pernikahan yang ingin dijalani hanya sebagai kesenangan belaka itu keinginanmu kan?"
"Ya."
"Kau melakukan itu hanya karena bosan pada istrimu atau karena sedang ada masalah dengannya?"
"Bukankah sudah kukatakan jika kita tidak akan mencampuri urusan pribadi satu sama lain. Kau adalah istriku tapi dibalik layar."
"Sampai kapan? Apakah sampai kau bosan? Lalu bosanmu sampai kapan? Sebulan, dua bulan, tiga bulan, setahun, dua tahun? Deya sedikit merubah posisi duduknya menghadap pria itu persis.
"Akh! Jangan bergerak Deya."
Deya merinding seketika mendengar erangan pria itu tapi dia harus berani kali ini. Dua kakinya berada di antara paha Edward kepalanya menunduk sehingga wajah mereka bersentuhan antara hidung dan bibir. Dada Deya berdegub dengan kencang kali ini.
__ADS_1
"Posisi seperti saja membuat dada dan hatiku tidak karuan. Lalu jika kita melakukan hal lebih apakah kita bisa melakukan itu tanpa hati? Kau mungkin bisa karena kau punya istri yang kau cintai tapi aku? Aku tidak yakin dengan diriku sendiri."
Tangan Edward memegang kepala Deya lalu mengecupnya bibir yang dia inginkan beberapa hari ini untuk sekilas. Deya terdiam, memejamkan matanya.
Melihat Deya yang pasrah Edward kembali mencium bibir wanita itu dan ******* nya dalam, menggoda dengan keahlian dan pengalaman yang dimiliki. Deya membuka bibirnya sehingga celah tercipta di dalamnya. Edward. Edward semakin mengeksplor kemampuan dirinya hingga membuat Deya kewalahan dan mengeluarkan suara aneh dari tenggorokannya. Tangannya memegang erat lengan Edward.
Deya mulai membalas dan terjadi pergumulan lidah di dalamnya. Tangan Edward mulai turun memegang leher Deya. Ciuman mereka lalu dilepaskan ketika mereka sama-sama butuh oksigen lebih. Keduanya terengah-engah seperti habis berlari puluhan kilo.
Deya mengusap mulutnya dengan tangan lalu turun dari pangkuan Edward.
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku takut suka padamu lalu kau membuangku seperti sampah tidak berharga. Maaf. Kau boleh tidak men-ACC lamaran magangku."
Deya lalu keluar dari ruangan itu dengan tenang. Edward sendiri menjilati bibirnya dengan lidah. "Manis dan membuat candu."
Deya langsung pergi masuk ke dalam lift. Untung saja tidak ada orang lain disana. Lututnya masih terasa gemetar setelah apa yang terjadi antara dia dengan Edward. Dia menumpu tubuhnya dengan satu tangan. Sedangkan tangan lainnya memegang dadanya.
Dia pernah berciuman dengan Angga tetapi tidak membuatnya seperti ini. Ini terlalu liat dan membuat akalnya hilang sekejap membuatnya melayang dan melupakan segalanya. Itu ciuman terdahsyat yang dia pernah rasakan. Ini gila.
Dia tidak bisa bertemu dengan pria itu lagi jika tidak pria itu akan memberikan racun berbisa yang membuatnya lumpuh oleh perasaannya sendiri.
Sebuah panggilan masuk ke dalam handphone Deya.
"Ya, Ayahmu jatuh di kamar mandi tadi. Lalu... " Suara Ibu Ratmi menangis.
"Ayah dimana Bu, apakah sudah dibawa ke rumah sakit?
"Masih di rumah, Ibu tidak tahu harus melakukan apa?"
"Bawa Ayah ke rumah sakit, aku akan menyusul kesana."
"Ibu hanya punya uang untuk modal usaha saja, Nak."
"Tenang Ibu ada Deya."
"Nak kita pergi ke tukang urut saja ya?"
"Jangan Ibu, Ayah baru melakukan operasi akan berbahaya jika tukang urut yang menangani kita tidak tahu cedera apa yang dialami oleh Ayah."
"Ayah hanya mengerang kesakitan sedari tadi. Ibu sangat takut."
"Semua akan baik-baik saja," balas Deya.
__ADS_1
"Ibu aku baru selesai wawancara aku matikan dulu ya, namaku sedang dipanggil.
Deya lalu memencet balik ke lantai atas. Dia berjalan cepat ke arah ruangan Edward dan langsung membukanya. Edward sedang berbicara dengan sekretarisnya menghentikan perkataannya dan menatap Deya. Tangannya dia gunakan agar Deya menunggu.
"Kau urus laporan ini bermasalah ini ke manager keuangan dan harus selesai nanti sore. Lalu koordinasikan pada semua orang jika rapat akan diundur setengah jam lagi."
"Baik, Pak." Sekretaris Edward lalu keluar dari ruangan itu. Setelah pintu ruangan kembali di tutup. Hawa dingin mulai terasa.
"Ada apa? Katamu kau tidak mau melakukannya? Apakah kau berubah pikiran dalam waktu sekejap?" ada nada mengejek dalam nada bicara Edward.
Deya menggigit bibirnya. Dia berjalan mendekat ke arah Edward. Pria itu memutar kursi kebesaran dan menyuruh Deya untuk duduk di pangkuannya.
Deya menghela nafas dan menuruti keinginan pria itu. Mulai berjalan pelan lalu duduk kembali ke pangkuannya.
"Katakan apa yang membuatmu kembali." Edward memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Deya yang nampak cemas. Matanya berembun dan melihat ke arah Edward.
"Ayah baru saja jatuh di kamar mandi dan kesakitan." Tenggorokannya terasa tercekat, sulit untuk menjilat kembali kata-kata yang tadi dia ucapkan sebelum keluar dari ruangan ini.
"Lalu?"
"Ibu menangis dan Ayah mengerang kesakitan terus. Aku menyuruh Ibu membawa Ayah ke rumah sakit tapi...." Deya menatap manik mata cokelat berusaha untuk percaya bahwa ini adalah pilihan terbaik yang akan dia pilih.
"Tapi apa?"
"Aku tidak punya uang. Uang yang kau pakai itu untuk..." perkataan Deya terpotong ketika telunjuk Edward mampir di bibirnya.
"Aku tahu, kau menggunakannya untuk kebutuhan keluargamu dan membayar kuliah."
"Serta membeli pena mahal untuk Angga," ucap Deya menangis.
"Ck gadis nakal. Kau membelikan pria lain hadiah dari uang yang kuberikan. Keterlaluan. Lain kali kau tidak boleh kelakuannya." Edward menghapus air mata Deya. Deya mengangguk.
Edward lalu mengambil sebuah kartu dari dompet dan menyerahkan pada Deya.
"Pakai ini, kau bisa menggunakan berapapun untuk biaya rumah sakit dan keperluanmu."
"Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat wanita menangis."
Deya mengangguk cepat. "Terimakasih."
"Hanya itu?"
__ADS_1
Deya mencium Edward cepat tapi Edward membuatnya lama. "Katakan pada orangtuamu kalau aku ingin menikah denganmu secepatnya jika kau ingin menikah dengan ijin mereka. Jika tidak kita akan menikah diam-diam."