
Deya datang ke rumah Edward sebagai mentor untuk Zahra. Ini dilakukan agar dia bisa mengambil hati Zahra terlebih dahulu. Hal sulit karena Zahra adalah tipe anak introvert yang susah untuk dekat dengan orang asing.
Seorang wanita separuh baya membuka pintu untuknya. "Apa kau mentor baru cucuku?" pertanyaan itu langsung terucap dari bibir manis berlapis lipstik warna nude.
"Ya, saya adalah mentor baru cucu Nyonya, saya sudah melakukan wawancara langsung dengan Pak Edward dan dia setuju."
Mama Claudia menyatukan kedua alisnya sehingga tiga garis samar terlihat diantaranya. Netranya melihat penampilan Deya dari bawah sampai atas. Seperti tidak yakin.
"Silahkan masuk dulu," kata Mama Claudia. Deya merasa nervous ketika pertama kali melangkahkan kaki ke rumah Edward. Dia berjalan pelan sambil melihat sekitar ruangan itu. Desain interior yang sangat mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dan juga perabotan yang dominan berwarna coklat tua. Beberapa hiasan dari kristal serta guci besar dan antik. Sangat indah dan mewah.
Mereka lalu duduk bersama di kursi sofa yang saling berhadapan. Wanita itu nampak anggun dan berkelas membuat Deya gugup sendiri. Dia merasa kecil di depannya seperti tidak layak untuk jadi bagian dari keluarga ini. Mendadak dia insecure dengan dirinya sendiri.
"Mbak, tolong ambilkan minum untuk dia dan sekalian panggil Zahra. Katakan jika ada mentor baru yang datang kemari."
"Baik, Bu," ucap pelayan dengan baju bebas.
Wanita itu kembali melihat ke arah Deya. "Kita belum berkenalan sebelumnya. Kenalkan namaku adalah Claudia, aku adalah nenek dari Zahra."
'Oh, dia adalah ibu dari Mas Edward.' Deya mulai merasa gugup. Menelan salivanya dengan sulit.
'Ibu mertua,' batin Deya merasa takut memberi kesan pertama yang buruk pada mertuanya.
"Na-nama saya Deya Almaira, saya masih kuliah di Universitas Negeri di kota ini. Sebenarnya saya magang di perusahan Pak Edward namun saya ditawari menjadi mentor Zahra. Jadi saya ditempatkan di sini. "
"Lho kok bisa?" balik Mama Claudia heran.
"Saya juga tidak tahu persisnya bagaimana saya hanya menjalankan perintah saja."
"Berarti kau masih kuliah?"
Deya mengangguk.
"Artinya kau belum berpengalaman dalam mengurus seorang anak?" tanya Mama Claudia.
Otak kecil Deya mulai bekerja.
"Terkadang saya memberi les pada beberapa anak di kampung sebagai tambahan pemasukan. Uang itu bisa saya gunakan untuk membayar uang kuliah." Soal les itu benar adanya tetapi soal membayar uang kuliah itu tidak benar karena Deya gunakan untuk uang saku kuliahnya.
"Baiklah kalau begitu. Ed pasti tahu yang terbaik bagi putrinya."
"Kak Deya," panggil seorang anak kecil membuat dua orang yang sedang berbicara melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Kau kenal dia Sayang?" tanya Mama Claudia.
"Kak Deya pernah menyelamatkan aku di mall."
"Menyelamatkan! ?" ulang Mama Claudia menoleh ke arah Deya.
"Tidak menyelamatkan sebenarnya saya hanya memegang kursi rodanya agar tidak berjalan saja."
"Bukan seperti itu, kursi roda ku ditabrak oleh seseorang sehingga berjalan cepat sendirian dan hampir menabrak tembok pembatas kaca. Jika tidak ada Kak Deya mungkin aku tidak akan selamat hingga sekarang."
"Kau tidak pernah cerita itu pada Nenek Sayang?" Mama Claudia mendekap kepala Zahra.
"Ya, aku rasa Ed punya alasan tersendiri untuk menjadikanmu mentor Zahra, mungkin salah satunya ini." Mama Claudia mendekat ke arah Deya dan memegang satu tangannya lalu menepuk dengan tangan yang lain.
"Terimakasih banyak karena kau telah menyelamatkan Zahraku yang manis ini."
Deya mengangguk.
"Tunggu dulu, Kak Deya kesini ini untuk menjadi mentor ku?" tanya Zahra. Deya mengangguk.
"Ye... aku senang sekali. Tapi bagaimana dengan guruku, apakah mereka akan berhenti mengajar?"
"Tidak, aku hanya akan mendampingi mu belajar saja serta menemani keseharian mu."
"Ya, aku harap kau mau menerimaku jika tidak Ayahmu akan mengeluarkan aku dari tugas ini."
"Aku senang jika kau ada di sini." Deya tersenyum senang, langkah pertamanya memasuki rumah ini tidak sesulit yang dia bayangkan.
"Apa kau akan menginap di sini?" tanya Mama Claudia.
"Aku akan pulang sore, sesuai dengan jam kerja."
"Baiklah kalau begitu." Mama Claudia, Deya serta Zahra mulai mengobrol ringan setelah itu Mama Claudia pergi karena ada urusan lain.
"Titip Zahra dulu ya Nak Deya. Dia ini sedikit rewel jadi jangan diambil hati."
"Aku tidak pernah rewel Oma," sanggah Zahra.
"Bercanda Sayang. Oma pergi dulu ya, Oma ada arisan dengan Oma-Oma lainnya. Zahra sama kakak cantik ini dulu." Zahra mengangguk. Mama Claudia lalu meninggalkan rumah.
"Kak Deya mau lihat rumahku, aku ajak berkeliling biar tidak kesasar."
__ADS_1
Deya menaikkan satu alisnya.
"Rumah ini sangat besar Kakak, jadi aku takut jika Kakak tidak tahu jalan kembali. He... he.... Kata Ayah, luas rumah ini adalah 3 hektar."
"Satu kelurahan kalau begitu," celetuk Deya. Zahra cekikikan. Deya mulai mengikuti Zahra. Anak itu memakai kursi roda canggih yang dioperasikan dengan sentuhan tangan pada ujung pegangan kursi. Mereka mengelilingi lantai dasar rumah itu.
"Itu kolam renangnya." Kolam renang itu ditutup dengan penutup otomatis yang akan terbuka jika tombol di sebelah pintu di pencet.
"Lho kenapa di tutup?" tanya Zahra.
"Ibu pergi jadi tidak ada yang memakainya. Kata Ayah sebaiknya ditutup saja karena berbahaya untukku."
Deya mengangguk. Mereka kembali melawati jalan setapak melewati kebun bunga.
"Memang ibumu sudah pergi lama?" tanya Deya pertanyaan yang menggelitik nya dari dulu.
"Sudah berbulan-bulan yang lalu." Zahra menunduk. "Ayah dan Ibu bertengkar karena aku." Titik-titik air yang berkilauan mulai jatuh ke tangan Zahra. Deya yang melihat lalu bersimouh depan anak itu dan mengangkat dagu Zahra dengan satu tangan.
"Hei, kau tidak bersalah dalam hal itu. Itu karena keegoisan orang tua yang membuat mereka bertengkar dan bukan karena salah anak."
"Tapi... Ibu dan ayah menyebut namaku."
"Itu karena mereka menyayangimu dan ingin yang terbaik untukmu tetapi pikiran mereka berbeda dan timbul konflik. Jadi semua bukan salahmu."
"Tapi Ibu pergi," lanjut Zahra.
"Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Dia pasti sangat menyayangimu," terang Deya menghapus jejak air mata Zahra dengan tangannya.
"Iya dulu ibu sangat menyayangimu tapi sekarang berubah...."
"Semua ibu pasti akan selalu menyayangi anaknya, walau dia tidak dekat denganmu dia pasti juga memikirkanmu."
"Iya, kami masih bertemu atau saling menelfon."
"Nah itu, Ayah dan Ibumu hanya butuh waktu untuk saling mengerti keinginan pasangannya. Kau harus sabar ya," nasihat Deya membuat Zahra tenang.
"Wah itu?" tunjuk Deya pada beberapa kandang hewan hias di rumah itu. Ada beberapa jenis burung langka dan binatang jinak lainnya yang beraneka warna serta kolam ikan besar lengkap dengan gazebo di sebelahnya.
"Ayah membuat ini agar aku tidak bosan di rumah. Aku bisa menikmati kebun bunga dan buah serta memberi makanan banyak binatang."
"Kalau rumahnya seperti ini, Kakak juga betah di dalam rumah. Semuanya sudah ada, tidak perlu capai keluar rumah."
__ADS_1
"Kakak tinggal di sini saja menemaniku."