
Edward membuka pintu kamar Deya ketika tengah malam tiba. Mengendap masuk dalam suasana kamar yang gelap, hanya ada cahaya bulan saja yang masuk melalui celah korden. Menyatukan kedua alisnya ketika melihat ada dua orang diatas tempat tidur.
Edward merogoh saku bajunya, mengambil handphone dan mulai menyalakan senter. Kedua alisnya ditarik ke atas ketika melihat Zahra yang sedang tidur bersama dengan Deya. Seulas tipis senyuman terpatri di bibirnya. Buru-buru mematikan cahaya.
Deya membuka matanya merasakan kehadiran orang lain dalam kamarnya.
"Mas," panggil berbisik Deya bangkit dengan pelan dan hati-hati.
Edward memberi isyarat agar Deya tetap di tempat. Lalu mendekat dan mencium kening wanita itu.
"Terimakasih." Edward lalu pergi keluar kembali ke kamarnya.
Sejenak Deya terpaku lalu kembali memejamkan matanya sambil tersenyum.
***
"Bagaimana? Tuan Edward menyukainya kan? Akun tahu itu.... ha... ha... kau kalah taruhan." Deya mengerling nakal pada pria itu itu.
Mr. Lee melirik sinis pada Deya. Lalu berjalan mengabaikannya. Deya tertawa.
"Ada apa?" tanya Edward tiba-tiba di telinga Deya dari belakang tubuhnya.
"Tidak apa-apa, hanya candaan saja."
"Mr.Lee bercanda? Itu akan terjadi jika kepalanya terkena gempa skala 8." Edward merapikan jasnya.
Deya melirik ke arah Edward.
"Separah itu?"
"Hummm dia nyaris tidak pernah tertawa. Aku bahkan belum pernah melihatnya."
"Kau pasti terkena virusnya sehingga selalu terlihat tegang dan serius, membosankan."
Edward refleks mencubit pipi Deya.
"Mem...," ucapnya terpotong ketika melihat Soraya bersama dengan Zahra keluar dari lift. Edward melepaskan cubitan itu.
"Ih, sakit tau!" gerutu Deya tidak sadar jika Soraya sedang melangkah ke arahnya dengan tatapan penuh curiga.
"Ayah kok nakal dengan Kak Deya?" tanya Zahra.
Deya langsung melihat ke samping, wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"Dia bandel selalu memberimu makanan yang tidak bergizi jadi Ayah beri pelajaran padanya."
"Saya minta maaf, Tuan, tidak akan mengulang kesalahan yang sama," ucap Deya salah tingkah.
"Nona sudah siap, mau sarapan dulu?" tawar Deya mengatasi suasana yang canggung.
"Sebaiknya kita sarapan terlebih dahulu," ajak Edward.
Edward mendahului diikuti oleh Soraya, sedangkan Zahra didorong oleh Deya ke meja makan.
Deya menyiapkan makan Zahra sedangkan Mr. Lee menyiapkan sarapan untuk Soraya dan Edward.
__ADS_1
Mereka makan dalam diam. Deya hanya berdiri di belakang Zahra bersama dengan Mr. Lee dan satu pelayan lainnya.
"Ck, kopi atau apa ini?" ujar Edward meletakkan cangkir kopinya.
"Biar saya buatkan lagi," kata Mr. Lee mengambil cangkir minuman itu.
"Bagaiamana kalau ku buatkan kopi espresso?" tawar Soraya.
"Aku suka produk dalam negeri, kopi Aceh kopi kesukaanku. Deya kau buatkan aku kopi seperti biasanya."
"Hah! Aku eh saya, Tuan." Deya nampak gugup, panik dan bingung yang bercampur aduk menjadi satu.
"Ya, kau kopi buatanmu itu enak."
Soraya menghentikan suapannya. Dia menatap ke arah Deya dengan tatapan sulit dimengerti.
"Dia tadinya sempat magang di perusahaan dan menjadi assisten dari Katrine. Jadi aku tahu rasa kopi buatannya. Enak pas di lidah, kalau kau mau Deya akan membuatkannya untukmu."
"Tidak, aku suka dengan kopi cappucino, ini pas dengan cornetto ini." Soraya lalu nampak cuek menikmati sarapan paginya.
"Permisi." Deya lantas membuatkan kopi untuk Edward.
Kopi telah dibuatkan, Deya meletakkan di dekat Edward. Soraya sendiri nampak cuek dan tidak peduli. Dia lebih asik melihat handphonenya.
Edward menyesapnya. "Ini baru pas. Mr Lee kau harus belajar cara membuat kopi dari Deya."
"Tidak usah belajar saja bisa tinggal tuang kopi aduk selesai."
"Jika bisa kenapa kau tidak pernah membuatkannya untukku." Soraya menoleh ke arah Edward. Menatapnya tajam lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menghembuskan nafas kasar.
"Ayo, Zahra kita berangkat sudah siang."
"Zahra biar aku antar."
"Kau ada jadwal syuting kan?"
"Lokasi syuting kali ini sejalur dengan sekolah Zahra."
"Apa tidak akan merepotkanmu?" ujar Edward jalan ke depan tidak peduli.
"Zahra adalah anakku tidak mungkin akan merepotkan."
"Sejak kapan?" ejek Edward yang masih merasa sakit hati pada Soraya.
"Ed," Soraya memegang tangan suaminya.
"Lepaskan!" tepis Edward.
Deya menghela nafas tidak sabar. "Bisakah kalian tidak bertengkar setiap saat! Apakah kalian sadar yang kalian lakukan malah akan membuat Zahra semakin tertekan? Kalian telah menyakitinya secara psikis."
Kedua orang itu menatap ke arah Zahra yang menunduk. Sesekali tangannya menyeka mata. Bibir bawahnya digigit dengan nafas yang terdengar tersengal.
Edward dan Soraya menatap ke arah Deya. Gadis muda itu mendorong kursi roda Zahra, melewati dua orang itu ke depan.
Edward dan Soraya terpaku. Mr.Lee menghela nafas lega. Akhirnya, ada yang menyuarakan perasaan Zahra.
__ADS_1
Deya menenangkan Zahra di depan rumah.
"Hei, bagaimana kalau kita jalan-jalan nanti sehabis sekolah."
"Di mana? Mall?" suara Zahra masih terdengar parau. Dia mengusap matanya yang basah.
"Bukan di danau buatan."
"Yang dekat sekolah?" Deya mengangguk.
"Aku mau," jawab Zahra.
Soraya dan Edward mendekat ke arah Zahra. Deya menyingkir, Soraya memeluk anaknya.
"Maafkan Ibu, Sayang. Sekali lagi maaf, karena Ibu selalu membuatmu bersedih."
"Ayah juga minta maaf ya," ucap Edward mengusap kepala Zahra.
"Ayo kita berangkat sekarang, jika tidak aku akan terlambat ke sekolah."
"Pakai mobil Ibu ya, Nak," ajak Soraya.
"lya, tapi Ibu jangan keluar dari mobil."
"Lho kenapa?"
"Nanti Ibu malu karena ketahuan punya anak cacat sepertiku," ucapan Zahra terasa menohok hati Soraya.
"Siapa yang mengatakan itu?"
"Tidak ada."
"Jika kau ingin mengantar Zahra sekarang, kalau tidak dia terlambat. Apalagi lalu lintas di jam sekarang juga sudah macet."
Soraya menahan diri untuk bertanya lebih lanjut karena waktunya belum tepat. Mereka lalu naik ke dalam mobil.
Edward menatap kosong kepergian ketiga orang yang penting di hidupnya. Entah apa yang dia pikirkan saat karena wajahnya nampak sedih dan tertekan. Dia mende***, lalu membalikkan tubuh.
Dia terkejut karena Mr. Lee tepat berada di depannya tanpa ekspresi.
"Kau," sungut Edward.
Mr. Lee memundurkan tubuhnya, mempersilahkan Edward untuk lewat. Pria itu lantas melewatinya. Baru beberapa langkah, Mr Lee memanggilnya.
"Tuan."
"Nona Deya sangat manis, dia juga pandai memasak. Menu tadi malam itu masakannya. Saroh sakit sehingga tidak bisa memasak."
"Aku tahu," jawab Edward dingin.
"Anda tahu? Apakah Nona Deya memberitahu Anda?"
Edward membalikkan tubuh tersenyum misterius pada Mr. Lee, lalu meninggalkan pria itu dalam kebingungan.
***
__ADS_1
Kirimkan jejak di tulisanku ya biar aku semangat nulisnya. Tekan favorit dan jangan lupa beri likenya.... terimakasih