
"Apakah makanan sudah siap?" tanya Mr. Lee melipat tangan di dada sambil menatap remeh pada Deya. Dasi bergaya Victorian bergerak terkena semilir angin dari jendela yang terbuka.
Deya meletakkan kedua tangan di pinggang. Lalu tersenyum jahil.
"Semua sudah siap tinggal di hidangkan."
Deya menunjuk ke arah deretan piring yang sudah ditutup dengan penutup saji yang terbuat dari perak.
"Ini makanan pembuka, makanan berat lalu makanan penutup."
Mr Lee hendak membuka penutup makan itu untuk melihat apa dan bagaimana rupa makanan yang Deya sajikan. Deya menutupnya kembali sebelum terbuka. Pria keturunan Tionghoa itu menyipitkan matanya.
"Aromanya akan menguap jika dibuka, nanti kenikmatan rasanya akan berkurang."
"Kau jangan main-main denganku gadis kecil."
"Aku serius bahkan dua rius malah," tegas Deya tidak mau kalah.
Mr. Lee menegakkan tubuhnya yang kurus dan tinggi menepuk tangannya seperti sedang membersihkan debu yang menempel.
"Jika kau melakukan kesalahan...." ucap Mr Lee menunjuk ke arah Deya. Deya merentangkan tangannya.
"Aku tidak akan melakukan kesalahan kecuali kau mencurangi rasa makananku. Tapi aku masih menyimpan rasa makanan asli ku agar jika...."
"Aku pria sejati selalu bertindak dengan benar."
"Semoga saja karena kau sangat ingin aku pergi dari sini."
Seorang pelayan wanita datang mendekat.
"Mr.Lee Tuan dan Nyonya serta Nona Xavier sedang menunggu makanannya."
"Kalian bawa makanan ini." Perintah Mr Lee. Serentak beberapa orang bergantian membawa makanan dan minuman yang disajikan.
"Aku akan sholat dulu karena sudah terlambat. Aku harap kau bertarung dengan fair," ucap Deya meninggalkan ruangan itu dengan langkah ringan.
Mr. Lee menggelengkan kepalanya. Dia melihat handphone Deya tergeletak di meja dapur lalu melihat ke sekeliling baru berjalan mendekat mengambil handphone itu. Di saat yang sama handphone berbunyi dan tertera nama Tuan Recehan. Mr. Lee hendak mengangkat.
"Eits tidak sopan mengambil handphone milik orang lain." Deya langsung merebutnya.
"Aku hanya ingin melihat itu handphone jelek siapa yang tertinggal di dapur ini," kilah pria berumur itu.
__ADS_1
Deya menatap sinis tetapi menggemaskan. Dia pergi begitu saja meninggalkan ruang dapur sambil memegang dadanya yang berdegub kencang karena hampir saja ketahuan.
Dia melihat Edward masih melakukan panggilan padanya.
Deya berjalan cepat ke kamar sambil melihat ke kanan kiri.
"Kau di mana?"
"Aku mau sholat, di kamar." Panggilan dimatikan secara sepihak membuat Deya kesal.
"Huh, dasar Tuan Recehan. Masih saja bertingkah semaunya," gerutu Deya. Sesampainya di kamar dia langsung membuang handphone di atas tempat tidur lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan wudhu baru setelah itu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Sementara di ruang makan. Edward duduk dengan tenang dan tanpa ekspresi. Di sebelah kanannya ada Soraya yang menundukkan menahan kesedihannya dan sebelah kiri ada Zahra yang terdiam.
Anak itu tidak mengucapkan satu patah katapun. Dia hanya menunduk saja, sambil sesekali melihat ke samping seperti mencari seseorang.
Suasana terasa dingin dan kaku. Tidak nampak seperti sebuah keluarga yang semestinya yang penuh dengan canda dan tawa.
Edward yang tidak menemukan keberadaan Deya lalu mencoba menghubunginya. Dia menelfon Deya di depan anak dan istrinya.
Dua kali melakukan panggilan tidak terangkat hingga membuat Edward yang sedang marah bertambah kesal. Saat ini, yang bisa membuatnya tenang, lalu dimana wanita itu bersembunyi. Sedari pulang bekerja dia tidak melihat rupanya sama sekali.
Panggilan ketiga baru tersambung.
"Aku mau sholat, di kamar." Edward langsung memutuskan panggilannya dan menghela nafas. Wanita itu darimana, hingga sudah jam segini baru melakukan sholat maghrib.
Ingin rasanya dia menjewer telinga gadis kecilnya yang sudah tidak perawan lagi. Namun, dia tahan.
Sedangkan di sudut lain, Mr. Lee mengernyitkan dahinya. Di saat yang sama Deya dan Edward sama-sama memegang handphone. Ini sebuah kebetulan atau mereka punya hubungan lebih seperti yang dia tebak dari pertama kali Deya menjejakkan kaki di rumah ini.
Tugas Deya sebagai mentor Zahra berakhir jika malam tiba, jadi dia bisa melakukan segalanya di kamar. Dia mulai membuat laporan di laptop dengan serius. Mengabaikan apa yang dia lihat dan dengar tadi sore sewaktu Edward kembali dari kantor.
Dia sempat mendengar tangis keras Soraya, entah apa itu tapi Deya tahu jika suami-istri itu sedang bertengkar. Itu masalah mereka, dia tidak ingin mencampurinya.
Terdengar ketukan dari pintu kamarnya. Deya lantas bangkit untuk melihat siapa yang mengetuk nya. Pintu dibuka dan Deya melihat Zahra duduk di kursi roda menatap ke arahnya. Pandangan matanya sendu.
"Kak, boleh aku masuk?" tanya Zahra.
"Tentu saja," jawab Deya membantu Zahra untuk masuk lalu mengarahkannya di pinggir tempat tidur karena kamar ini hanya ada ranjang dan lemari serta satu meja saja.
"Kenapa?" tang Deya berdiri di pinggir ranjang berhadapan dengan Zahra.
__ADS_1
Zahra langsung memeluk pinggang Deya, terisak.
Sepuluh menit kemudian mereka telah berbaring di ranjang berdua. Zahra menangis dalam pelukan Deya.
"Kalau ingin menangis, menangis saja. Tidak perlu ditahan. Keluarkan semuanya, agar hatimu tenang." Deya mengusap punggung Zahra.
"Katakan yang kau rasakan agar semuanya terasa lega," lanjut Deya.
"Aku tidak suka jika Ayah dan Ibu bertengkar. Aku benci dengan suara itu seolah ingin menghilang dari dunia dan pergi ke dunia yang damai dan tenang."
Mendengar pertengkaran orang tua memang akan membuat banyak masalah untuk anak. Anak akan merasa bahwa dia bertanggung jawab atas terjadinya pertengkaran orang tua. Apalagi jika dia mengetahui bahwa sumber pertengkarannya ada hubungan dengannya.
Seperti itu juga yang sedang dirasakan Zahra.
"Jika itu salahku maka aku memilih mati saja agar ayah dan ibu berhenti bertengkar."
"Mereka bertengkar bukan karena mu atau kondisimu, tetapi mereka bertengkar karena pikiran mereka berbeda dan tidak ada yang mau mengalah."
"Tapi mereka memang bertengkar karenaku, Kak."
"Bukan sayang, kau jangan merasa bersalah seperti itu. Ada tidak adanya dirimu mereka tetap bertengkar karena sudah tidak sepaham lagi. Mereka harus saling mengerti agar bisa terus sejalan."
"Bukan karena aku?" tanya Zahra.
Deya menggelengkan kepala. "Bukan."
"Dengarkan Kakak, Sayang. Kadang kita juga sering berdebat dengan diri kita sendiri. Contohnya, 'hari ini aku ingin makan ini, yang itu terlihat enak, tapi tidak enak ini. Lalu kau bingung makanan mana yang akan kau pilih, ini atau itu?' Benar kan?"
"Benar, Kak."
"Padahal itu satu tubuh. Sekarang kalau dua tubuh dan dua kepala akan sangat sulit menyatukannya jika salah satu tidak menurunkan egonya."
Zahra mengangguk mengerti.
"Kau masih belum tahu permasalahan orang dewasa, tetapi sering melihatnya. Sehingga sering kali membuatmu merasa tertekan dan sedih."
Wajah Zahra mengkerut dengan mata berkaca-kaca.
"Jika kau seperti itu terus maka kau akan merasa sendiri dan kesepian."
"Sekarang tidak lagi, ada Kakak."
__ADS_1
Deya tersenyum samar dan menghela nafasnya. Bagaimana andai Zahra tahu jika dia adalah orang ketiga dalam hubungan orang tuanya. Apakah Zahra akan merasa jijik dan benci padanya?