
Perkataan Edward cukup dimengerti oleh Deya. "Maaf, mungkin aku belum terlalu dewasa untuk menyingkapi permasalahan kompleks itu."
"Tidak semua orang bisa menghadapinya. Kita juga belum lama mengenal jadi kau belum tahu karakterku. Wajar jika kau mempertanyakannya."
"Kembalilah bersamaku, di sini," pinta Edward menatap Deya penuh harap.
"Aku tidak bisa," jawab Deya.
"Kenapa, katakan padaku. Untuk membuat suatu hubungan lancar harus dengan saling terbuka dan berkata jujur."
"Jangan paksa aku mengatakannya."
"Apa karena kau masih mencintai pria itu?" tanya Edward. Deya menggeleng cepat.
"Aku akan kemari jika kau sudah selesaikan semua masalahmu dengan Soraya dan semua orang."
"Hanya itu yang ingin kau katakan tidak ada lagi?"
"Hanya itu alasannya."
"Adakah hal lain yang ingin kau katakan padaku?"
'Apakah dia tahu tentang Dafi?'
Deya mulai gelisah. Menggerakkan ibu jari kaki dan jari tangannya.
"Deya," panggil Edward lirih.
"Aku... aku...." Deya tidak tahu harus mengatakan apa. Dia lantas mengambil handphone yang dia letakkan di atas nakas. Melihat dengan serius handphone itu lantas memperlihatkan gambar seorang anak kecil.
Edward tersenyum menaikkan kedua alisnya keatas.
"Dia anak kita." Deya menggigit ujung satu ibu jarinya.
Edward menarik nafas lega. Deya mengernyit. "Kau tidak terkejut?"
"Pasti Zahra telah memberitahumu tentang hal ini."
"Zahra tahu tentang Dafi?" balik Edward bertanya.
"Zahra tidak memberitahumu?" Deya sedikit kecewa, seharusnya dia tahu jika anak itu memang tidak ingin adiknya dekat dengan ayahnya.
"Anak itu," geram Edward.
"Dia pasti punya alasan sendiri."
Edward lantas tahu pikiran Deya.
"Jangan marahi dia, Mas."
"Kau masih membelanya?"
"Dia anakmu," jawab Deya.
__ADS_1
"Seharusnya kau marah atau membencinya karena berbagai alasan."
"Dia hanya anak kecil yang tidak tahu permasalahan orang dewasa."
"Aku bahkan marah pada Zahra karena memisahkan aku dari istri dan anakku yang lain."
"Mas, kau tahu?"
"Aku baru tahu dua hari yang lalu dari Zahra. Dia menyesal telah memintamu pergi."
Deya seperti tidak percaya dengan yang dikatakan oleh Edward. Pria itu memeluk Deya dengan erat. "Dia juga ingin ikut tinggal bersama kita tetapi takut jika kau akan membencinya."
Deya melebarkan mata, menatap ke dalam manik berwarna gelap. "Aku tidak marah atau membencinya jadi untuk apa aku menghalangi dia tinggal bersamamu."
"Dia ingin tinggal bersama kita, bukan aku saja."
"Mas." Hati Deya mendesir tidak karuan. Edward meletakkan dagunya di pucuk kepala Deya.
"Kita jemput Dafi dan membawanya kemari. Aku ingin sekali memeluknya. Memeluk anak yang sudah kuinginkan sejak lama. Kau tahu betapa aku menginginkannya dari dulu kan, De?"
Deya mengangguk. Dia merasa terharu dan sedih.
"Kalau begitu ijinkan aku untuk mengenal putraku," pinta Edward.
Jari Deya memainkan dada Edward yang bidang nampak ragu. "Kau boleh mengenal Dafi karena kau ayahnya, tetapi jangan paksa aku untuk tinggal bersamamu jika urusan mu belum selesai."
"Itu tidak adil, tiga tahun aku menunggumu pulang dan kini kau sudah di sini lantas kau ingin pergi lagi. Tidak Deya jangan menyiksaku lebih lama lagi."
"Mas...."
Deya menghentikan gerakan jarinya. Terdiam sejenak. "Apakah cinta itu perlu dikatakan?" tanya Deya. "Apakah semua yang kulakukan tidak menggambarkan perasaanku padamu?"
"Kau meninggalkanku De, kau juga dekat dengan pria itu."
"Aku sebenarnya tidak tahu tentang perasaanku sendiri. Ingin jauh darimu tapi rindu. Tidak peduli tapi khawatir. Tidak cinta tapi aku kecewa."
"Kecewa?"
"Iya, katanya kau mencintaiku nyatanya kau masih bersama istrimu. Artinya kau juga enggan untuk melepaskannya. Kau hanya menjadikanku pemuas nafsumu semata."
"Ya Tuhan, De, kenapa kau bisa berpikir seburuk itu padaku. Dari awal sudah kukatakan jika aku mencintaimu dan aku sudah melayangkan gugatan cerai pada Aya. Namun, ada tragedi di rumah yang membuat aku mengurungkan niatku itu. Kau juga pergi meninggalkan aku jadi aku tidak peduli lagi dengan masalah pribadiku. Aku hanya ingin kerja dan kerja saja untuk mengalihkan pikiranku darimu. Aku begitu tersiksa tanpamu di sisiku. Hampir setiap malam aku tidur di rumah ini walau terkadang aku pulang jika Zahra memanggilku. Aku bertahan dengan Aya karena Zahra."
"Andai sekarang Zahra masih ingin kau bersama Mbak Aya apakah kau masih akan bersamanya?"
"Tidak De, hanya kau. Aku hanya ingin kau bukan yang lainnya."
"Jika orang tuamu tidak setuju dengan hubungan kita?" Deya ingin mendengar jawaban Edward tentang hal ini.
"Aku sudah terlalu dewasa untuk menentukan pilihanku sendiri Deya. Jadi jangan berpikir macam-macam. Walau satu dunia menentang hubungan kita, aku tetap akan mempertahankannya."
"Apa kau masih ragu padaku?"
"Aku tidak pernah ragu padamu, tetapi aku tidak yakin dengan diriku."
__ADS_1
"Yakinlah, untuk tetap mendampingiku selamanya."
"Menikahlah denganku sekali lagi untuk mengesahkan hubungan kita."
Edward turun dari ranjang pergi mengambil sesuatu di dalam lemari. Dia kembali dengan kotak kecil berwarna emas.
"Aku sudah menyiapkannya dari dulu, tapi belum ku sematkan di tanganmu kau sudah pergi terlebih dahulu."
Mata Deya berkaca-kaca. Jenjang umur mereka sangat jauh, tetapi dari awal hatinya sudah terjerat dalam perhatian dan cinta Edward.
Edward mengambil tangan kiri Deya dan melihat tidak ada cincin dalam jari Deya.
Deya seperti mengerti apa yang dipikirkan suaminya.
"Aku menjadikannya liontin kalung untuk dipakai Dafi agar dia merasa dekat dengan mu."
Edward masih tidak puas dengan jawaban Deya. "Sungguh, hanya barang itu yang kubawa sebagai ganti dirimu jadi aku menginginkan itu dekat dengan Dafi."
"Bukan karena kau ingin terlihat lajang?" selidik Edward.
"Kenyataannya di status KTP aku masih single," jawab Deya menggoda Edward. Benar saja pria itu langsung menajamkan mata.
"Itu kenyataan kan?" kata Deya.
"Kukira aku harus membuat kau hamil lagi agar tidak ada yang menganggap kau wanita single. lagi."
"Maunya."
Edward memasukkan cincin dengan berlian besar ditengahnya. "Ini juga buat tanda kalau kau sudah punya pasangan."
"Pasang jika kita menikah saja."
"Kita sudah menikah Deya."
"Maksudku menikah secara negara."
"Pakai ini dulu, besok aku beli yang lain lagi yang kau suka."
"Ini sudah bagus."
"Kalau begitu pakai."
Deya tersenyum lantas memeluk leher Edward dan duduk di pangkuannya. Meletakkan kepala di atas bahu suaminya. Dia merasa beruntung karena punya suami pengertian seperti Edward yang mendahulukan keinginannya bahkan selalu menyiapkan semuanya sebelum dia meminta.
Perut Deya berbunyi keras.
"Mas, aku lapar."
"Aku akan pesankan makanan untukmu."
"Aku ingin makan mie yang kau buat dulu."
"Kita baru membuat adik untuk Dafi tapi kau sudah ngidam."
__ADS_1
"Sepertinya sudah jadi," ujar Deya tersenyum nakal.
"Kita buat lagi saja biar kokoh di dalam sana," jawab Edward membaringkan Deya lagi di tempat tidur.