
Edward tersenyum kecut melihat kotak bekal milik Deya. Melihat secarik kertas yang dilipat di atasnya.
"Maaf Pak, Ibu berpesan untuk menyerahkan ini pada Anda," ucap pelayan.
Edward membuka kertas lipat itu. Mulai membaca.
Makan dulu, pekerjaannya nanti. Jaga kesehatan.
Edward menghela nafas. Dia lantas menutup laptop. Memasukkannya ke dalam tas. Bangkit. Deya dari balik stand nya melihat gerakan Edward.
"Katakan rasa terimakasihku yang dalam pada atasanmu. Namun, aku sedang tidak ingin makan. Jadi katakan juga permintaan maafku karena menolak makanan darinya."
Satria mendekat ke arah Edward. "Tuan Anda mau kemana?"
"Kau tahu aku ingin kemana. Temui Mr. Lee katakan permintaan maafku karena tidak bisa menemuinya. Satu lagi, selesaikan pekerjaanku hari ini dan beri laporannya nanti malam di apartemen."
Edward berjalan keluar stand. Dia sama sekali tidak melihat ke arah Deya. Pergi, begitu saja melewatinya.
Bawahan Deya menyerahkan kotak makan pada Deya dan mengatakan pesan dari Edward. Deya menatap sedih punggung Edward yang semakin menjauh. Dia masuk kembali dengan lemas ke dalam stand miliknya.
***
Edward menghentikan mobilnya ketika melihat badut di pinggir jalan.
"Pak, ingin uang?" tanya Edward. Badut itu langsung mengangguk. Singkat cerita Edward membeli kostum berbentuk upin dari sang pemilik kostum.
Edward lantas pergi ke sebuah toko membeli sebuah permen dan mainan sederhana. Ingin rasanya dia membeli semua isi toko ini dan memasukkannya ke kamar khusus untuk putra yang baru dia tahu keberadaannya tadi.
Rasa kecewa dan sakit menyergap diri Edward pada Deya. Ingin rasanya dia memarahi wanita itu karena berani menyembunyikan putra yang selama ini dia tunggu. Namun, kemarahan saja tidak cukup bagi wanita itu. Dia harus menerima pelajaran yang akan dia ingat seumur hidupnya.
Edward menggigit jarinya sembari menyetir mobil. Mengingat semua perkataan Deya terakhir kalinya. Cintamu akan selalu bersamaku.
Apakah dia sudah tahu jika dia sebenarnya sudah hamil saat itu? Hanya menyembunyikan semua kenyataan itu darinya?
***
Sedangkan di rumah Deya satu jam sebelumnya. Zahra dengan langkah berdebar mengetuk gerbang rumah Deya. Bodyguardnya berteriak mengucapkan salam.
"Rai, bukankan pintu gerbang, sepertinya ada tamu di luar."
"Tamu? Paling Kak Angga atau pegawai Kak Deya, Bu. Biasanya mereka buka sendiri, kok," jawab Raihan.
"Tapi tetap saja kau harus bukakan."
"Iya, Bu." Raihan lalu pergi ke gerbang dan mulai membukanya sedikit. Wajahnya memucat ketika melihat Zahra ada di depannya.
"Hai, Rai?" sapa Zahra tersenyum lebar.
__ADS_1
"Mau apa kau kesini?" Ada nada kebencian dalam suara Rai. Dia sakit hati mengingat apa yang telah dilakukan oleh Zahra pada Kakaknya.
"Aku ingin bertemu, Kak Deya," jawab Zahra takut.
"Untuk apa? Untuk memberi kesulitan padanya lagi?" Raihan berdecih hendak menutup pintu gerbang lagi. Namun, tangan pengawal Zahra mencegahnya.
"Nona kemari berniat baik. Saya harap adik bisa menerimanya."
"Tidak, pergi jauh saja dari kami. Sudah cukup luka yang kalian berikan pada keluarga kami."
"Siapa Rai?" tanya Bu Ratmi datang menggendong Dafi. Dia terkejut ketika melihat Zahra yang ada di sana.
"Zahra, kau di sini? Bersama siapa?" tanya Bu Ratmi dengan suara hangatnya.
"Bu...." Raihan nampak keberatan. Bu Ratmi melebarkan mata tajam pada Raihan membuat anak itu membukakan pintu untuk Zahra.
Zahra mulai masuk mengambil tangan Bu Ratmi dan menciumnya. Netranya yang sangat mirip dengan Edward menatap ke arah Dafi yang takut melihatnya. Anak itu menyembunyikan wajah di leher Bu Ratmi.
"Masuk Nak Zahra," ajak Bu Ratmi. Zahra lantas masuk ke dalam rumah sederhana. Di sana ada Roy yang sedang bermain dengan gadgetnya. Anak itu sama seperti Raihan memandang tidak senang padanya. Roy mendekat ke arah Rai, sambil bertanya dengan tatapan mata. Raihan hanya mengedikkan bahu.
"Pak, lihat! Nak Zahra datang kemari," teriak Bu Ratmi.
Pak Seto keluar dari dalam dan tertegun sejenak melihat Zahra. Dia memang sudah bertanya pada Deya sebelumnya ketika mereka pindah kembali ke kota apakah dia sudah siap bertemu kembali dengan Edward serta seluruh keluarganya? Deya menjawab jika dia lelah bersembunyi. Biarkan mereka tahu dimana keberadaannya. Dia sudah pasrah dengan semua yang akan terjadi.
"Nak Zahra, sudah lama?" tanya Pak Seto seperti biasanya, ramah.
"Baru saja, Pak," jawab Zahra malu mencium punggung tangan Pria tua itu.
Wajah Dafi itu seperti Deya namun ada beberapa bagian yang mirip dengan Edward seperti bagian mata ke atas mirip dengan Edward.
"Dia?" tanya Zahra takut, merasa bersalah jika pikirannya benar.
"Namanya Dafi, anak Kak Deya."
"Dengan ayah?" tanya Zahra dengan lirih dan tersumbat, nada suaranya bergetar.
Pak Seto dan Bu Ratmi saling memandang lalu menganggukkan kepala.
"Dia adikmu," jawab Bu Ratmi merasa sesak.
Mata Zahra memerah seketika. Dia menangis tertahan. Mendekat ke arah Dafi, duduk di sebelahnya dan menyentuh pipi gembulnya. Pak Seto pindah tempat duduk.
"Nangis," ucap Dafi menatap ke arah Zahra yang menyeka pipinya. Zahra menggeleng.
"Hai, adik...," panggilnya tertahan. Dia menyesal karena memisahkan Dafi dari ayahnya karena ingin Ayahnya untuk dirinya sendiri. "Ini Kakak." Zahra menunjuk ke dadanya.
"Kakak?" ulang Dafi melihat ke arah Bu Ratmi.
__ADS_1
Bu Ratmi mengangguk. "Ka...kak." Rasa haru menguar dalam suasana rumah itu.
Zahra mengangguk sambil menangis. Tubuhnya bergetar, menutup wajah dengan tangannya.
"Cengeng," celetuk Dafi membuat tertawa Zahra dan semua yang ada di ruangan itu.
Bu Ratmi tidak menyangka jika tanggapan Zahra akan berbeda dari yang dia pikirkan. Dia kira anak itu akan tidak suka pada Dafi dan tidak akan menerimanya. Sejauh yang dia tahu. Deya mengatakan jika Zahra tidak ingin Deya berada didekat dengan anak itu karena rasa cinta Edward akan berkurang padanya.
"Tunggu Kakak punya cokelat untukmu," ucap Zahra mengambil tas sekolah dan mengambil cokelat di dalam tas. Lalu kembali lagi duduk di sebelah Dafi. Dia mengulurkan cokelat.
Dafi menatap Nenek dan Kakeknya. Tahu jika dia tidak boleh makan itu terlalu banyak. Namun, melihat neneknya tidak melarang, Dafi mengambil cokelat itu dan menutup wajahnya dengan cokelat. Giginya yang bersih terlihat jelas ketika sedang tersenyum. Membuat Zahra menjadi gemas.
"Kamu lucu sekali, boleh Kakak cium?" tanya Zahra mendekat dan mencium adiknya. Dalam waktu sebentar saja mereka berdua telah akrab. Darah memang akan mengenali mana darahnya.
Tiba-tiba, bunyi handphone milik Zahra berbunyi. Zahra berjalan pergi menjauh.
"Maaf, aku harus mengangkatnya," pamit Zahra keluar diiringi tatapan dari kedua orang tua Deya.
"Hallo, Bu."
"Kau di mana? Kata pelayan kau belum pulang ke rumah?"
"Aku sedang di jalan tadi sedang macet, Bu."
"Oh, ya sudah. Ibu khawatir terjadi apa-apa denganmu."
"Ibu pulang kapan?"
"Ibu pulang sore hari ini hanya ada syuting di infotainment. Ibu ingin mengajakmu ke butik membeli gaun untuk gala dinner acara anugrah film award."
"Oh," jawab Zahra singkat. Dia hanya menghela nafas.
"Aku akan kembali secepatnya."
Setelah itu Zahra berpamitan pada semua orang. Tidak terkecuali Dafi.
"Besok, Kakak akan datang lagi. Kau yang manis-manis ya di sini. Bilang pada Ibumu jika kakak ingin bertemu dengannya," kata Zahra mencium pipi Dafi.
"Ibunya Dafi akan kau panggil Kakak juga?" tanya sinis Royhan membuat Zahra terdiam.
"Roy jaga bicaramu!"
"Dia memanggil dirinya kakak pada Dafi tetapi tidak mau mengakui ibu Dafi sebagai istri dari Ayahnya. Lucu!" Roy masuk ke dalam.
"Yang dikatakan Roy benar, Bu. Anak keras kepala sepertinya mana tahu tentang sopan santun, yang dia tahu hanya memerintah saja. Jika keinginannya tidak tercapai maka akan merengek seperti bayi," ejek Raihan.
"Ck, kalian berdua itu."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bu ," ujar Zahra faham dengan perkataan mereka.
"Jika kau mau dekat dengan Dafi, hormati dulu ibunya. Kau paham!" ucap keras Raihan sebelum masuk ke dalam rumah.