Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 102 Meyakinkannya Hati


__ADS_3

Makan malam di rumah Pak Seto selalu terasa hangat. Mereka duduk melingkar di ruang tengah dengan berbagai hidangan sederhana yang terasa lezat karena disertai dengan hati yang berbahagia.


Deya tidak makan karena harus menyuapi Dafi terlebih dahulu serta melayani Edward. Edward yang melihat mempercepat makannya. Lalu meletakkannya setelah habis tidak bersisa.


"Biar aku saja, kau makan dulu." Deya terkejut menatap ke arah piring Edward yang bersih tanpa sebulir nasi pun ada.


"Makan bersama dengan Ayah ya?" tanya Deya pada Dafi. Dafi melihat Edward dengan meringis sedikit antara setuju tapi takut karena belum terlalu mengenal.


"Biar Uti saja," kata Ibu Ratmi.


"Dafi maukan makan disuapin Ayah?"


"Ehm...," suara Dafi ragu melihat ke semua orang yang sedang menatap ke arahnya.


Deya meletakkan piring ke tangan Edward. "Kalau kau mau makan dengan Ayah, dia akan membawamu jalan-jalan besok."


Mata Dafi berkilat.


"Ya, Ayah akan mengajakmu ke tempat yang kau ingin datangi," tambah Edward menyuapi Dafi.


"Aku ingin pergi ke Timezone, bermain di sana sepertinya seru."


Wajah Deya nampak tidak suka. Edward bisa melihatnya. Pria itu lantas tersenyum.


"Boleh, kita pergi ke sana besok bersama dengan Ibu tapi kita jemput dulu Kak Zahra."


"Kak Ara ikut?"


"Bolehkan?" tanya balik Edward.


"Aku suka," jawab Dafi menepuk tangannya. Lantas berdiri memegang baju Deya. "Besok jalan-jalan bersama Kak Ara, Bu."


Deya tersenyum canggung, menganggukkan kepala. Bukankah Zahra bersama orang tua Edward, berarti dia harus ikut ke sana? Pikir Deya tidak tenang.


Dia tidak tahu apa yang akan dipikirkan kedua orang tua Edward terhadap dirinya besok. Dia belum siap namun Edward memang terlihat yakin dengan keputusannya.


Setelah selesai makan mereka duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.

__ADS_1


"Nak Edward akan tidur di sini kan?" tanya Pak Seto.


"Sudah lama sekali tidak menginap lho," goda Raihan yang diiringi tatapan tajam mata Deya.


"Maunya begitu hanya saja kamar Kakak juga masih berantakan belum tertata semua barang yang ada," terang Deya.


"Berarti pulang ke rumah dong, kasihan dengan Dafi kan baru ketemu Ayahnya," sindir Raihan lagi sambil menggigit keripik kentang.


"Kau ikut Nak Edward pulang saja, De," ucap bijak Ayah Seto. Deya melihat ke arah Edward.


"Aku akan senang jika seperti itu tapi jika tidak aku tidak keberatan tidur di kamar Deya kalau diijinkan."


Deya terlihat bingung. Kamarnya hanya berukuran 3x3 meter dan masih banyak barang bertumpuk yang belum dia tata karena masih dalam proses beres-beres.


"Sudah bareng ikut Nak Edward saja," kata Ibu Ratmi yang tahu jika mantunya tinggal di apartemen lama Deya. "Istri yang baik harus mengikuti suami."


"Dafi maukan ke rumah Ayah bersama dengan Ibu?" tanya Edward pada putranya yang masih malu-malu di dekatnya.


"Dafi mah asal ada Kakak aja kemanapun mau. Dia kalau tidur harus cubit-cubit lengan ibunya baru bisa tertidur," terang Roy.


"Oh iyakah?"


"Itu bukan sayang-sayang, Dafi, karena sakit," ledek Roy. Dafi bangkit dan memeluk leher ibunya.


"Tidak sakit ya, Bu. Sayang-sayang." Deya yang gemas dengan tingkah Roy menepuk paha anak itu keras.


"Mulutmu bisa tidak, tidak membuat Dafi menangis."


"Enggak, kalau nggak nangis rumah ini akan sepi," jawab Roy enteng. Sebenarnya dia keberatan jika Kakaknya secepat itu ikut Edward. Dia pernah dibully oleh teman-temannya yang menganggap dia berubah menjadi berada karena kakaknya adalah simpanan pria kaya. Dia malu dan tertekan saat itu hingga enggan pergi ke sekolah.


"Roy," panggil Pak Seto.


"Lho memang iya kan. Dafi adalah sumbernya keceriaan keluarga ini kalau Dafi pergi nggak seru."


"Roy, kau tidak boleh mengatakan itu," bisik Ibu Ratmi.


"Kenapa tidak boleh? Jika Kakak kembali bersama dengan Kak Ed apakah semua akan kembali seperti dulu? Kita baru saja hidup tenang haruskah kita hidup kembali seperti beberapa tahun kemarin. Aku bahkan harus keluar dari sekolahku hanya karena masalah Kakak."

__ADS_1


"Roy!" bentak Pak Seto merasa tidak enak pada Edward. Deya pun terkejut dengan perkataan Roy.


"Apa yang Roy katakan itu benar. Seharusnya Kak Deya kembali bersama Kak Ed setelah semua permasalahan selesai jangan sampai hal yang telah lalu terjadi lagi," bela Raihan untuk Roy.


"Lagian sudah benar Kak Deya bersama dengan Kak Angga kenapa sekarang langsung kembali lagi dengan Kak Ed. Maaf Kak, bukan aku tidak suka dengan Kak Ed tapi aku tidak suka dia membawa masalah untuk Kakak."


Roy langsung pergi ke kamarnya diiringi tatapan semua orang. Edward sendiri menghela nafas.


"Apa yang Roy katakan itu benar, selesaikan dulu masalah Kak Ed baru bawa Kak Deya kembali. Aku sebagai adiknya tidak terima jika Kakakku hanya dibawa saja tanpa suatu kejelasan. Aku tidak ingin yang telah lalu akan terjadi lagi untuk kedua kalinya." Raihan ikut berdiri mengejar adiknya.


"Maafkan mereka Nak Ed, mereka masih kanak-kanak tidak tahu dengan urusan orang dewasa."


"Namun, yang mereka katakan itu benar. Seharusnya aku membawa Deya dengan kehormatan bukannya membawanya ke dalam masalah yang akan membuat kalian semua malu. Hal wajar jika seorang adik membela dan melindungi kakaknya. Aku malah salut dan bangga mempunyai adik seperti mereka."


"Jadi kau akan membawa Deya dan Dafi sekarang atau tidak?" balik Pak Seto. Edward menatap ke arah Deya meminta persetujuannya


"Terserah Deya, kali ini aku telah berjanji padanya tidak akan ada paksaan. Jika dia ingin ikut kembali pulang ke rumah aku dengan sehati dan bersuka cita membawanya pergi. Namun, jika tidak, itu tidak masalah, hanya menunggu waktu saja." Edward menyerahkan lego yang dia susun sedari tadi menjadi pesawat kepada Dafi.


"Wah, bagus, Bu," kata Dafi memperlihatkan pada Deya.


"Kau suka? Ayah sudah siapkan banyak mainan untukmu di rumah jika kau pulang nanti."


Deya mengangkat alisnya ke atas.


"Satu kamar yang tidak digunakan di atas sudah ku rubah menjadi kamar khusus untuk Dafi sedangkan sebelahnya lagi untuk Zahra. Sudah kukatakan, dia ingin tinggal bersama kita."


Deya menatap ke arah orang tuanya meminta saran dari mereka. Pak Seto mengusap kepala Dafi yang ada di depannya. Bermain lego bersama dengan Edward.


"Dafi nampak senang bermain dengan Ayahnya."


Pak Seto nampak tersenyum tipis namun menatap sedih pada cucunya. Matanya menerawang jauh.


"Roy benar jika rumah ini akan sepi tanpa Dafi dan kau Deya."


"Namun, jangan lupa kau berkewajiban menjaga rumah suamimu." Pak Seto menghela nafas. "Yang akan terjadi biarlah terjadi. Menuruti omongan orang tidak akan menyelesaikan masalah. Namun, mengikuti perintah Tuhan adalah kewajiban. Kewajibanmu berbakti pada suamimu. Kau berhak tidak melakukan itu jika Nak Edward berbuat buruk padamu dan kau sudah tidak cocok dengannya. Namun, kau masih ingin bersamanya kan? Dan Nak Ed, apakah kau mencintai Deya dengan semua kekurangannya, serta memaafkan semua kesalahan yang Deya lakukan yang membuatmu tidak ridho padanya?"


"Aku memaafkan semua yang Deya lakukan. Apapun itu, yang penting dia kembali lagi padaku karena cintaku lebih besar untuk melihat kesalahan Deya. Walau aku sedikit marah karena Deya dekat dengan pria lain. Namun, aku coba mengerti."

__ADS_1


"Kau lihat betapa beruntungnya kau mendapatkan suami sebaik dia. Kini jangan pikirkan apapun ikuti suami pergi dan yakin kau akan bisa melewati semuanya dengan baik," ucap Pak Seto membuat Deya lega Ayahnya tidak berpikiran sama dengan kedua adiknya.


__ADS_2