
Sidang lanjutan kasus perceraian Edward dan Soraya kembali dibuka. Para wartawan sudah menyerbu kedua orang itu untuk menberikan statemen, Edward tidak mengatakan apapun berbeda dengan Soraya yang menjawab dengan isak tangis.
"Aku seorang Ibu yang merindukan anaknya, apakah itu salah?" ujar Soraya menjawab statemen para wartawan. Dia lantas memakai kacamata hitam terbarunya bermerk branded yang harganya setara dengan sebuah rumah.
Mereka lantas masuk bersama karena sidang akan segera dimulai. Hakim masuk dan sidang dimulai, terdapat silang pendapat antara dua belah pihak.
Soraya mengatakan Edward telah menikah dengan wanita lain tanpa persetujuannya. Namun, demi kebaikan keluarga dia akhirnya menerima. Dia malah mengatakan pihak ketiga itu menginginkan menjadi istri sah satu-satunya dan dia terbuang. Semua orang yang mendengar ikut merasakan kesedihan yang Soraya ciptakan. Mereka mulai menatap sengit pada Edward.
Edward hanya tersenyum jenaka dan menggelengkan kepala dengan pengacaranya mendengar drama dari Soraya. Kini saatnya Edward melakukan pembelaan.
"Saya sebenarnya malu untuk membongkar aib ini. Ini merupakan kelemahan saya yang tidak bisa memberikan kebahagiaan bagi istri saya Soraya. Saya menyadari semua kesalahan saya waktu itu dan memperbaikinya di rumah tangga saya yang baru ini."
"Soraya memang benar jika saya tidak bisa menjadi suami yang baik karena menikah kembali. Saya akui itu, tetapi saya melakukan itu karena Soraya yang telah memulai masalah terlebih dahulu. Dia telah tidur dengan pria lain dan saya merasa sakit hati."
Terdengar gumaman dari semua orang. Hakim mengetuk palu.
"Atas dasar bukti apa, Anda menuduh klien saya."
"Biar pengacara saya yang memberikan buktinya."
Pengacara Edward lantas memutar video kebersamaan Soraya dan Mario, hanya saja wajah Soraya tidak terlihat jelas.
"Apakah Anda yakin ini adalah Nyonya Soraya?" balik pengacara Soraya.
"Saya suaminya, faham dengan tubuh istri saya walau bagi kalian itu terlihat tidak jelas."
"Kalau begitu kita panggil Tuan Mario sebagai saksi dalam kasus ini."
Persidangan akhirnya berhenti dan dilanjutkan hari esoknya. Berbagai spekulasi datang. Ada yang membela Soraya dan mengatakan itu hanya editan dan ada yang membela Edward.
Keesokan harinya, Mario datang sebagai saksi. Dia terlihat sangat percaya diri duduk di kursi saksi. Hakim mulai bertanya tentang datanya. Kini giliran pengacara Soraya yang bertanya.
"Tuan Mario, apakah yang dalam video itu Anda?"
"Benar itu saya."
"Hu... Hu... Hu...." Suasana sidang terdengar riuh.
"Berarti Anda tahu siapa pasangan Anda saat itu terjadi."
"Ya."
"Apakah itu adalah wanita yang ada di sana?" tanya sang pengacara.
__ADS_1
"Bukan." Mario menatap penuh kemenangan pada Edward. Sebelumnya dia memang telah membicarakan ini dengan Soraya. Dia dendam setengah mati pada pria itu setelah apa yang terjadi. Dia ingin Edward menemui kesulitan dan dia tahu masalah ini menyita pikiran Edward.
Edward terlihat kesal, dia mulai berbisjk dengan pengacara.
"Anda dengar Yang Mulia Hakim jika wanita itu bukan Nyonya Soraya."
Pengacara Edward lalu bangkit setelah diberi kesempatan berbicara dengan Pak Hakim. Dia lantas menerangkan kejadian itu terletak di mana dan pada jam berapa.
Soraya begitu yakin jika tidak ada bukti rekaman CCTV yang ada di hotel karena dia telah menyuruh orang untuk menghapus keberadaan dirinya.
Namun, pengacara Edward tidak kalah pintar. Seorang netizen pernah melihat Soraya pada malam itu di hotel yang sama pada satu jam sebelum kejadian. Ada postingan foto orang itu dengan Soraya yang tertera di instagramnya.
"Ini tidak hanya sebuah kebetulan semata bukan jika Nyonya Soraya berada di tempat kejadian dan pada waktu yang sama. Kita hanya ingin Tuan Mario jujur agar bisa masalah perselingkuhan ini juga lekas selesai."
Kali ini Edward bisa tersenyum karena punya pengacara yang gesit dan pintar. Dia tidak menyangka jika Mario akan menyangkalnya.
Mario nampak gusar.
"Bagaimana Tuan Mario apakah Anda masih menyangkal atau apa?" Pengacara mendessk Mario menjawabnya. "Jika ini masih belum cukup kami bisa berikan bukti lain."
Pengacara Edward men-zoom gambar itu. "Anda melihat baju yang tergeletak di lantai itu? Warna dan coraknya sama dengan pakaian dalam postingan orang ini." Pengacara Edward mendekatkan dua gambar Soraya dalam waktu yang berbeda.
Semua orang menghela nafas. Wajah Soraya dan Mario menjadi pucat seketika. Mereka saling melirik.
"Terimakasih banyak atas bantuan kalian. Saya tidak menyangka kalian begitu hebat mempersiapkan semuanya."
"Ini tugas kami Tuan Edward lagipula nama baik kami dipertaruhkan dalam sidang kasus ini. Jika kita kalah maka instansi kami juga kehilangan kepercayaan karena kasus ini menjadi sorotan besar orang banyak di negeri ini."
Edward hendak berjalan mendekati Mario, di saat yang sama Soraya hendak berjalan melewatinya. Edward lantas mundur, mengedikkan bahu jijik. Dia tidak tahu apa yang dia lihat pada Soraya dulu hingga buta dengan kelakuannya.
Setelah Soraya lewat, Edward mendekat ke arah Mario dan berbisik padanya.
"Sudah kukatakan jangan pernah bermain-main denganku, Mario. Kau tidak belajar dari kesalahanmu. Jika kau suka Soraya ambillah, aku sudah tidak minat. Kau dan dia sama saja gilanya dan kalian akan hancur karena kegilaan kalian."
Senyum smirk terbit dari bibirnya, lalu memakai kacamata hitamnya dan berjalan pergi dengan kepala tegak dengan barisan pengacara serta ajudannya di belakangnya.
Tidak perlu banyak mengumbar kata-kata, cukup berikan bukti dan itu cukup. Kali ini para wartawan tidak berani bertanya apapun pada Edward karena tahu para pengawalnya pasti akan menghalangi.
Pengacara Soraya sibuk memberikan klarifikasi pada wartawan. Edward menurunkan kacamata dan tertawa mengejek, pengacara Soraya sempat berhenti bicara dan melihat Edward.
Edward lantas masuk ke mobil dan meninggalkan semua orang. Edward lantas menelfon Deya.
"Assalamu'alaikum, De?"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Bagaimana Mas sidangnya?"
"Semua berjalan dengan baik karena doamu."
"Syukurlah."
"Besok tinggal sidang menentukan hak asuh Zahra."
"Apakah Zahra akan datang?" balik Deya.
"Ya, tolong berikan pengertian padanya. Kau yang bisa menenangkannya dan meyakinkannya."
"Ini pasti akan berat untuknya. Melawan ibunya sendiri." Terdengar helaan nafas berat dari Deya.
"Jika kau yang bicara dan ada untuknya, Zahra akan bisa melakukan itu dan melaluinya. Dia butuh dukungan dari kita. Aku hanya ingin kau siapkan Zahra lahir dan batinnya karena aku yakin Soraya akan kembali melakukan drama."
"Iya, Mas, aku akan coba melakukannya setelah Zahra pulang sekolah nanti."
"Terimakasih, De. Kau memang Ibu dan Istri yang baik."
"Aku juga bersyukur karena kau menjadi suamiku."
"I love you, Deya."
"Love you too," jawab Deya. "Ehm... jangan lupa hadiahnya ya."
"Hadiah, oh Okey... kau ingin apa?" tanya Edward.
"Ehm kalau minta itu bukan surprise, tapi aku ingin kau membelikan ku bunga mawar segar."
"Hanya itu?"
"Ya, apalagi memang? Kau sudah lupa tidak memberiku hadiah lagi. Kau hanya ingat dengan Dafi dan Zahra saja, sedangkan Ibunya tidak pernah diingat," protes Deya dengan suara manja.
Edward tertawa. "Baiklah, aku akan mulai perhatian ibunya juga. Maaf, Sayang, jika beberapa waktu ini aku begitu sibuk dengan persidangan dan pekerjaan."
"Hmmm."
"Aku akan kirimkan lingerie model terbaru juga, kau gunakan ya," pinta Edward.
"Kau malah yang minta hadiah. Sudahlah, aku matikan saja telepon ini, jika tidak kau akan minta hal lain lagi."
Edward lantas tertawa keras.
__ADS_1