Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 21 Seperti Sekuntum Bunga


__ADS_3

Edward masuk ke dalam kamar hotel dengan langkah pelan. Namun, tidak menemukan Deya ada di sana. Dia lalu melihat ke ruangan yang menjadi kamar utama ruang presiden suit itu. Mulai membuka pintu dengan pelan lalu melihat pemandangan yang membuat hatinya tenang. Sebuah senyum tipis terbit di bibirnya yang tebal.


Edward melangkah masuk ke dalam ruangan itu, duduk di pinggiran tempat tidur menatap ke arah Deya yang sedang melakukan salam terakhir dari sholatnya.


"Lho, Mas kok sudah datang. Aku tidak mendengar," kata Deya mendekat. Dia lalu ingat jika belum bersiap sama sekali karena baru mandi lalu sholat.


Tangan Edward diulurkan agar Deya mendekat. Wanita itu menuruti, melangkah ke depan Edward dan berdiri di depan pria itu. Edward memeluk pinggang Deya dan meletakkan kepalanya di tempat ternyaman. Menghirup aroma Deya dan memejamkan mata. Terasa damai dan nyaman.


Secara naluri Deya memasukkan jarinya ke dalam helaian surai hitam Edward. Mengusapnya lembut.


"Sudah sholat belum?" tanya Deya pelan.


"Sebentar saja," jawab Edward.


Mereka tetap seperti itu hingga lama. Setelah itu, Edward pergi ke kamar mandi dan Deya memesan makanan untuk mereka. Dia lalu mencoba alat make up nya dan menyapukan tipis-tipis.


"Sudah cantik," kata Edward melihat istri mudanya. Deya menoleh melihat ke arah Edward.


"Aku memang cantik. Bahkan aku disebut sebagai kembang kampus walau dengan keterbatasan yang ada."


"Cantik itu dari dalam dan memancar keluar. Tidak perlu banyak gaya dan riasan tebal."


"Aku setuju."


Edward lantas sholat dan Deya keluar kamar, menyiapkan makan untuk suaminya. Dadanya sebenarnya sudah berdetak dengan cepat. Takut-takut cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini pertama kali untuknya jadi wajar jika dia merasa gugup.


Tidak lama kemudian Edward keluar dan melihat Deya duduk di meja panjang sofa. Menata makanan dan minuman. Pria itu menatap ke arah Deya tanpa berkedip.


Wanita itu memakai jubah putih yang dia pesan, entah apa yang ada dibaliknya? Edward bertanya apakah Deya memakai lingerie yang dia pesan? Imajinasinya memang tidak terwujud tetapi dia melihat bidadari surga ada di depannya.


"Mas, makan dulu," panggil Deya dengan suara yang merdu, wanita itu menoleh dan tersenyum. Dia bukan seperti pelakor yang genit dan menggoda tetapi seperti istri sempurna yang lama tidak dia dapatkan dari diri Soraya. Hanya awal-awal saja. Apakah Deya akan seperti itu juga? Hatinya tiba-tiba mendesir dengan kenyataan itu. Semoga saja Deya berbeda dengan Soraya karena latar mereka berbeda.


Soraya dilahirkan dari keluarga mampu dan selalu hidup bergelimang harta dari dulu sedangkan Deya lahir dari keluarga taat ibadah dan pas-pasan. Biasanya mereka akan lebih menghargai suaminya.


Edward lantas melangkah mendekat dan berdiri di depan Deya mencondongkan tubuh padanya.


"Aku mau kamu," kata Edward membuat wajah Deya menegang seketika Edward memegang dagu Deya dan menyatukan bibir mereka.


Entah apa saja yang dilakukan oleh pasangan itu hingga Deya merasa tiba-tiba tubuhnya melayang karena Edward membawanya ke kamar dan meletakkan di atas tempat tidur berwarna putih bersih.

__ADS_1


Dada mereka naik turun bersamaan dan tatapan mereka saling mengunci. Jakun di leher Edward nampak naik turun menahan hasrat yang ada.


"Kau seperti imajinasiku walau tanpa highless."


Deya seperti makanannya yang menggiurkan untuk Edward. Tubuhnya masih kencang dan kenyal juga padat di bagian yang seharusnya. Putih dan bersih seperti susu murni yang baru peternak ambil dari sapinya.


Bibirnya yang merekah seperti tanaman Psychotria Elatra yang ada di tengah hutan belantara Africa.


"Apakah ada yang pernah menyentuh ini selain aku?"


Deya memalingkan wajahnya.


"Kekasihmu itu?"


"Apakah yang lain juga?" Hari-hari Edward bergerak turun ke bawah. "Ini apakah iya?"


Deya menelan salivanya. Balik menatap Edward. Gairah yang tadi sudah memercik keluar dan membesar kini mulai padam.


"Hanya bibir, selain itu semuanya belum tersentuh oh aku lupa tangan dan pipi," ucapnya sinis menahan geram.


"Kalau begitu aku akan menghapus jejak pria yang telah menyentuhmu agar yang kau ingat hanya aku."


Edward mulai merobek pakaian Deya membuat wanita itu memejamkan matanya, meringis.


"Kenapa?"


"Sayang.Harganya mahal," jawab Deya jujur.


Edward tersenyum geli. Dia mencium pipi Deya berkali-kali karena gemas.


"Jangan berpikir tentang harga bila bersamaku."


Sekarang tubuh Deya yang tanpa busana terpampang nyata di depannya membuat Edward berdecak kagum. Dia lalu membuat Deya melupakan segalanya karena hanya ada erangan seksi dan rintihan.


Edward tidak memakai pengaman untuk momen berharga ini tetapi menyemburkan nya keluar diatas perut Deya.


Nafas wanita itu tersengal-sengal. Wajah cantik itu kemerahan menatap ke arahnya. Edward merasa sangat puas sore ini. Deya membuktikan ucapannya jika dia memang masih utuh dan belum tersentuh. Terbukti dari noda darah yang ada di antara kedua p*** wanita itu.


"Terima kasih," ucap Edward mengecup bibir Deya yang kini menjadi candu dirinya.

__ADS_1


"Apa kau puas?" tanya Deya yang membuat Edward terperanjat.


"Melebihi apa yang kau pikirkan," balas Edward mengambil tissue dan membersihkan noda cairan yang menempel di tubuh Deya.


"Apakah aku akan hamil?" tanya Deya mencoba menegakkan tubuhnya dengan menjadikan siku sebagai tumpuan. Melihat apa yang Edward lakukan. Dia merasa malu karena Edward mengelap semuanya tapi pria itu memang telah mencicipi semua bagian tubuhnya tanpa ada yang terlewat.


"Apa kau tidak jijik?" tanya Deya.


"Tidak ada yang menjijikkan dalam hubungan seperti ini."


Setelah itu, Edward menggendong Deya masuk ke dalam kamar mandi dan memandikannya. Namun, sayangnya itu tidak hanya sebatas mandi semata.


Belum juga rasa perih dan pegal yang dia rasakan pulih, Deya harus kembali melayani suami rahasianya. Antara nikmat dan lelah.


Deya tidak kuat menahan rasa kantuknya. Dia membiarkan Edward mengangkat tubuhnya dari bath up dan mengeringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Pria itu bahkan memakaikannya baju tidur setelah itu Deya berbaring di atas tempat tidur.


"Kau tidak ingin makan dulu."


"Aku ingin tidur." Edward lalu berbaring di sebelahnya dan memeluk Deya. Memberikan kehangatan pada wanita itu.


"Kau belum cerita mengapa kau memutuskan panggilanku tadi."


"Jangan buat sesuatu yang indah ini hancur karena sebuah masalah. Biarkan kita akhiri ini dengan berbagi kehangatan. Aku sangat lelah dan mengantuk." Tidak lama Deya telah tertidur pulas.


Edward melihat jam yang menunjukkan pukul delapan malam. Dia langsung bangkit karena Zahra pasti menunggunya di rumah.


Dia memakai baju dan menatap Deya. Kakinya enggan untuk pergi tetapi dia punya kehidupan lain yang tidak bisa diabaikan.


Edward mengambil uang dari tasnya dan meletakkan di atas tempat tidur. Satu kecupan dia berikan ke kening Deya sebelum meninggalkan ruangan itu.


"Aku pergi dulu, peri manis ku," ucap Edward lirih di telinga Deya.


"Hmmm...," jawab Deya tanpa sadar.


Deya terbangun dari tidurnya. Tubuhnya mencari kehangatan yang tadi melingkupinya. Tidak ada yang ada hanya rasa dingin yang menyerang. Deya lalu membuka matanya dan tidak mendapatkan Edward ada di sebelahnya lagi. Deya menyalakan lampu.


Dadanya berhenti berdetak ketika melihat setumpuk uang di atas tempat tidur yang tadi digunakan oleh Edward.


Suara tangisan keras keluar dari mulutnya. Kali ini dia merasa Edward memperlakukannya seperti wanita bayaran saja. Entah mengapa hatinya menjadi sakit seketika. Bukankah ini yang dia inginkan tetapi mengapa dia merasa kecewa.

__ADS_1


__ADS_2