Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 129


__ADS_3

"Maksud Pak Lee itu apa?"


"Ini rekaman CCTV-nya. Nyonya bisa periksa sendiri."


Mr Lee memberikan hardisk pada Deya. Mereka lantas ke ruangan kerja Edward untuk memeriksanya. Deya mulai menancapkan hardisk itu komputer dan mulai melihat rekamannya.


"Lihat di menit 36 Nyonya," terang Mr. Lee.


Deya mulai melihat seksama. Gerak-gerik pelayan itu memang terlihat mencurigakan. Dia melirik ke kanan kiri sebelum mendekati Soraya. Lalu mereka terlibat pembicaraan.


Deya menghela nafas. Menatap ke arah Mr. Lee.


"Apakah ada CCTV yang mencurigakan lainnya?"


"Sayangnya, di kamar Nyonya Besar tidak ada kamera CCTV-nya, jadi kita tidak tahu apa yang terjadi di sana."


"Tapi Dokter mengatakan jika Mama tidak mengalami keracunan."


"Aku hanya curiga Nyonya, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."

__ADS_1


"Kalau begitu diam-diam kau beri kamera di kamar Mama."


"Apa itu tidak menimbulkan masalah Nyonya?"


"Biarkan itu jadi urusanku. Aku yang akan mengawasi Ibu secara langsung. Kau biarkan pelayan itu bekerja seperti biasanya. Satu lagi buat dia bekerja di dekat Mama agar kita tahu dia tulus atau tidak ketika tidak ada orang. Mama mungkin tidak bisa apa-apa tetapi kita bisa melihat reaksinya jika melihat dia bersama Mama ketika berdua."


"Nyonya sungguh bijaksana dalam menangani masalah ini."


"Aku hanya curiga mengapa Soraya se pas itu tahu jika Mama sakit dan dibawa ke rumah sakit Momennya sangat tepat dan dia tidak pernah mau melepas pengawasannya pada Mama. Selalu bertanya dengan detail soal Mama seperti ingin meyakinkan sesuatu bahwa ... aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku hanya berpikir ini pikiran jelek ku saja yang merasa terancam jika dia dekat dengan keluarga ini."


"Anda tidak salah Nyonya, menuduh tidak boleh tanpa bukti. Kita hanya perlu waspada dan memperhatikan sekitar jika itu memang benar maka kita perlu melakukan tindakan lanjut."


Hari ini Deya pergi ke dokter ahli kandungan untuk mengecek kondisi kehamilannya. Untuk kehamilan kali ini dia merasa tidak fit seperti kehamilan sebelumnya. Dia merasa lemah dan tidak bertenaga sehingga tidak bisa membantu mertuanya.


"Ma... Pa .. aku akan ke rumah sakit dulu," kata Deya sebelum pergi.


"Tidak bersama dengan Ed?" tanya Papa Adam. Mama Claudia menatapnya dengan sedih.


Deya yang melihat lalu berjongkok. "Ma... aku tahu Mama peduli padaku. Mas sedang sedikit sibuk, dia ada rapat dengan para jajaran eksekutif. Namun, Mama jangan khawatir, Mas nanti akan ke rumah sakit untuk menemaniku."

__ADS_1


Sebuah senyuman terbit di bibir Mama Claudia.


"Pa, Deya pergi dulu." Deya mulai meninggalkan, rumah dengan sopir.


Papa Adam melihat jari Mama Claudia. Menimang dan menciumnya.


"Ini tangan cantik yang dulu membuatku terpana pertama kali kita bertemu. Kau ulurkan tanganmu untuk mengajak berkenalan. Setelah itu, tangan ini memberikan cinta untuk ku dan anakku. Kini aku merindukan sentuhan tangan ini." Papa Adam menempelkan tangan Mama Claudia ke wajahnya.


Mama Claudia merasa terharu, mulai menitikkan air mata.


"Kau dulu cantik sekali membuatku jatuh hati, kini kau masih sama cantik seperti dulu pertama kali kita bertemu. Aku bahagia menua bersamamu. Kita hanya menunggu kematian datang menjemput sambil bergenggaman tangan seperti ini. Ini mimpi kita dulu dan aku bersyukur kita masih bersama hingga hari ini."


"Terimakasih karena telah menemaniku sampai sekarang."


Mr. Lee lalu mendatangi Papa Adam. Menyerahkan handphone pada pria tua itu.


"Tuan Besar, Tuan Edward ingin agar Tuan ikut melakukan rapat secara virtual. Biar Nyonya meminum obatnya dan beristirahat di kamarnya," kata Mr. Lee. Dia lantas menyuruh pelayan wanita yang dia curigai untuk membawa Mama Claudia ke kamarnya.


Papa Edward menerima telepon dari Edward lantas pergi ke ruang kerja.

__ADS_1


Mama Claudia nampak membelalakkan matanya. Dia seperti kebingungan tetapi tidak bisa melakukan apapun. Pelayan itu membawanya pergi masuk ke dalam kamar.


__ADS_2