Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 92 Kenangan Ini.


__ADS_3

Edward menghirup dalam aroma tubuh Deya yang dia rindukan selama ini. Mengeratkan pelukannya sehingga membuat Deya kesulitan bergerak. Hingga akhirnya wanita itu terdiam dan Edward melepaskan tangannya.


"Kau hampir membuatku mati, Mas," kata Deya marah.


"Kau sudah membuatku mati terlebih dahulu," balik Edward.


"Mas.... Kau tahu alasanku."


"Aku tak tahu, kau pergi begitu saja meninggalkan diriku sendiri." Edward meletakkan dagunya di pundak Deya.


Deya menghela nafasnya. Mencoba bertahan agar rasa sakit itu tidak menguasainya lagi.


"Kenapa De? Apakah semua yang ku berikan padamu tidak bisa mengetuk hatimu walau sedikit?"


Mereka terdiam hingga sampai di condonium milik mereka.


"Turun," kata Edward.


"Aku ingin pulang."


"Ini rumahmu," jawab Edward.


"Mas, aku mohon. Kita lupakan semua nya dan kembali ke kehidupan masing-masing," tolak Deya.


"De, aku tidak suka memaksa dan aku tidak suka berbuat kekerasan tapi kali ini jika kau menolak aku akan membawamu kembali ke rumah dengan cara apapun."


"Mas, tidak punya hak untuk itu. Kita sudah berpisah lama."


"Aku itu suamimu."


"Dimata negara kita tidak punya hubungan apapun. Aku tidak mau masuk lagi ke kehidupan yang telah membawa kesulitan untukku dan keluargaku."

__ADS_1


"Terserah apa yang mau kau katakan. Dengan jelas ku katakan jika kau masih istriku sampai saat ini."


Edward mengangkat dagu Deya.


"Kau belum menikah kan?"


Deya terdiam. "Jawab Deya!" Wajah Edward nampak mengeras.


Deya membisu malah memalingkan muka ke samping.


Edward yang kesal lantas keluar dan mengangkat tubuh Deya ke panggulnya.


"Mas, turunkan aku!" berontak Deya. Dia tidak mengira Edward akan bertindak seperti ini. Biasanya pria itu selalu sabar dan menuruti semua kemauannya.


Edward tidak menghiraukan, dia tetap membawa Deya ke hunian mereka. Dia baru menurunkan Deya di ranjang.


Edward melepaskan jas dan jam tangannya. Deya sendiri bangkit ingin keluar dari kamar tetapi malah di dorong dengan keras oleh Edward hingga jatuh ke ranjang.


Edward bergerak mengungkung Deya. "Katakan padaku mengapa kau pergi. Bukan kah sudah kukatakan untuk bersabar. Aku akan menikahimu secara sah setelah kondisi mental Zahra stabil. Atau kau pergi karena pria itu? Katakan Deya," lirih Edward tegas dengan tatapan mata tajam yang menghunus, seperti pedang yang menancap langsung tepat ke sasaran.


"Terserah apa yang Mas pikirkan tentangku, aku tidak peduli. Yang aku pikirkan hanya satu, aku dan keluargaku bisa hidup tenang."


Tangan Edward menyentuh kening Deya mengusap hingga ke pipi Deya yang bening dan halus seperti porselen. Deya memejamkan matanya, dadanya berdetak kencang merasakan kembali sentuhan Edward.


"Sebegitu tertekankah kau hidup bersamaku?" suara Edward bergetar.


Deya menatap Edward dengan seksama dengan tatapan yang sendu. Dia tahu seberapa besar kecewanya Edward pada dirinya. Dia juga bisa melihat pancaran luka di dalamnya. Ingin rasanya dia memeluk suaminya,meluapkan rasa rindu yang dia pendam, tapi tidak bisa. Ada hati yang harus dia jaga. Hatinya sendiri karena tidak ingin terlukai dengan semua permasalahan yang ada. Hati Zahra yang mungkin akan kembali terluka jika dia dekat dengan Ayahnya. Hati Angga yang masih mengharap dirinya dan hati kedua orang tuanya yang ikut menangis kala dia tertimpa masalah.


"Mas tahu, aku begitu muda kala semua itu terjadi. Aku tidak sekuat itu menanggung semua beban yang ada. Apalagi saat itu, aku belum mencintaimu," akhirnya kalimat terakhir itu meluncur dari bibir Deya. Kalimat sakti yang mungkin bisa membuat Edward melepaskannya.


"Cinta?" Edward menarik kepalanya ke belakang duduk. Dia tertawa keras dengan hambar, sambil menyeka air mata yang sudah keluar di sudut matanya.

__ADS_1


Deya yang melihat ikut merasakan sakit. Namun, dia tahan. Akalnya menyuruhnya untuk tetap bertahan.


Edward lantas duduk di pinggir tempat tidur membelakangi Deya. Menunduk sambil memainkan jarinya.


"Aku begitu bahagia tadi ketika menemukanmu. Bahkan terlalu bahagia hingga sulit untuk mengatakannya."


"Tapi semua impianku ketika bertemu kembali pudar ketika kau menolakku. Aku harap, aku bisa membujukmu kembali padaku. Nyatanya, kini kau mengatakan jika kau memang tidak mencintaiku. Aku tidak tahu mengapa sulit sekali mendapatkan cinta istri sendiri. Apakah ini salah satu takdir dari Tuhan yang kejam padaku?" Edward menghela nafasnya dalam.


Deya yang berada di belakang, mengulurkan tangan, ingin menyentuh Edward namun di tariknya lagi.


"Pulanglah De, sebelum aku melakukan tindakan di luar batas," perintah Edward.


Kali ini Deya yang tertegun. Begitu mudah Edward melepaskannya.


Pria itu lantas bangkit dan keluar dari kamar, meninggalkan Deya sendirian. Wanita itu lantas menangis tersedu. Di sisi lain Edward bersandar di pintu dan menekan sudut matanya. Hatinya terlalu sakit, sekarang ini.


Setelah menenangkan diri Deya pergi ke kamar mandi. Dia ingin membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Dia berjalan melihat ke sekitar kamar itu. Masih sama seperti dulu terakhir kali dia meninggalkannya. Tatanan kosmetik di atasnya bahkan masih sama. Deya mengambil satu dan melihat jika itu kosmetik baru semuanya. Sepertinya Edward memang tidak ingin merubah apapun tentang dirinya.


Deya semakin penasaran membuka lemari pakaiannya. Masih sama dan masih terjaga dengan baik. Hal itu membuat Deya kembali tidak bisa menahan air matanya. Kakinya lemas dan duduk bersandar pada lemari. Lama dia menangis dan merenung, hingga Edward membuka pintu dan Deya menengadahkan kepala seraya menyeka air matanya.


Edward yang melihat langsung mendekat berjongkok di depan Deya. Matanya kini basah.


"Jangan menangis, aku paling tidak bisa melihatmu menangis," ucapnya mencium air mata Deya di pipi. Lalu tangannya. Hal itu membuat Deya bertambah sedih. Edward sama sekali tidak berubah. Dia masih sama seperti yang dia lihat terakhir kalinya. Cintanya memang masih ada untuknya. Jika tidak mengapa dia masih mempertahankan barang-barangnya.


Namun, dia juga tidak melepaskan Soraya. Itu artinya jika Edward masih berat melepaskan istri pertamanya. Benar kata orang, se cintanya pria pada selingkuhannya tetap tidak akan melepaskan istri pertama. Walau awalnya Deya berharap Edward akan bersatu lagi dengan Soraya , tetapi kini dia merasa sakit hati. Rasa cemburu yang tidak bisa dia tahan.


Cinta Edward tidak sebesar itu sehingga rela melepaskan semuanya demi Deya. Dia tetap prioritaskan kesekian dibanding dengan lainnya dalam hidup Edward.


Deya menarik tangannya. "Aku mau ambil bajuku dan ternyata kau masih menyimpannya. Aku pikir kau telah membuang semuanya."


"Kau mungkin bisa meninggalkan semuanya tetapi tidak untukku. Semua yang ada di sini menggantikan sosok dirimu ketika tidak ada. Membuatku yakin jika suatu saat kau akan kembali memakai semuanya."

__ADS_1


"Kita berjalan ke arah depan bukan harus selalu melihat ke belakang. Begitu pula dengan diriku. Aku sudah bahagia dengan hidupku, aku pikir kau pun sudah bahagia dengan keluargamu."


__ADS_2