Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab.12 Hanya Untuk Bersenang-senang


__ADS_3

"Lalu, kau sendiri apa pria baik yang bisa diandalkan? Kau itu egois selalu melakukan sesuatu seenaknya sendiri. Kau kira apa yang kau lakukan padaku tempo hari juga hal yang baik? Mempermalukan aku di depan umum. Kini datang, seolah kau tidak melakukan kesalahan apapun." Deya menusuk makanan di depannya dengan keras untuk melampiaskan kemarahannya pada Edward.


Edward tertawa kecil membuat Deya semakin kesal. Dia hendak bangkit tetapi tangannya dipegang oleh Edward.


"Maaf, wajahmu bertambah menggemaskan ketika marah."


"Kau!" tunjuk Deya tetapi jari tangannya diturunkan oleh Edward.


"Apa kau sadar kesalahanmu ketika ku marahi tempo hari?"


"Tapi tidak semestinya kau berkata seperti itu di depan semua orang. Kau tahu tidak rasanya dipermalukan."


"Aku pun merasa sama denganmu merasa malu karena pembicaraanku tidak diperhatikan olehmu. Seolah apa yang kukatakan disana itu tidak berarti bagi kalian yang asik sendiri. Lalu untuk apa aku datang, jika tidak dihargai!" Mulut Deya tertutup rapat.


"Bukankah kau panitia? Seharusnya kau memberi contoh yang baik sehingga tidak mempermalukan baju jas almameter yang kau kenakan."


"Aku bukan tidak mendengarkan hanya saja...."


"Hanya bermesraan di tempat umum?Itu bukan tempatnya, kau bisa melakukan itu di gedung bioskop atau di mall tetapi bukan ditempat seminar."


"Tapi kau tidak seharusnya mempermalukan ku di depan semua orang. Aku jadi gunjingan semua orang dan kejadian itu juga direkam oleh beberapa siswa lalu di sebarkan di dunia maya. Maluku berkali-kali lipat." Deya menundukan wajah dengan frustasi jika teringat kejadian itu.


"Itu untuk menjadi pelajaran seumur hidupmu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama."


"Aku tahu aku salah, hanya saja caramu menegurku itu yang tidak kusuka."


"Itu masalahmu mau menerima kritikan orang lain atau tidak. Rekaman itu tersebar jadi konsekuensi dari tindakanmu yang sembrono. Jika kau melakukan sesuatu dengan baik, maka kau akan mendapat timbal balik yang baik pula. Cobalah belajar untuk menjadi dewasa dengan mengakui kesalahanmu."


Deya terdiam mengakui dalam hati jika yang dikatakan Edward benar.


"Aku mau pulang!" ujar Deya hendak bangkit.


"Habiskan dulu makananmu."


"Tidak nafsu lagi!" jujur Deya yang masih sedikit merasa kecewa.


"Sudah dibayar belum?"


"Sudah, Angga pria yang bertanggungjawab tentu akan membayar dulu makanan kami sebelum pergi."


"Kalau bertanggungjawab seharusnya sampai mengantarkan pulang." Deya mencebikkan bibirnya.


"Kau naik apa pulangnya?"


"Entahlah, taxi mungkin?" ucap Deya ragu. Membayar taxi butuh uang lebih sepertinya memakai ojek akan lebih irit.


"Kalau begitu aku saja yang mengantarkan."

__ADS_1


"Tidak usah, terimakasih," tolak Deya bangkit. Edward masih tetap duduk dan menarik tangan Deya agar kembali duduk.


"Anak gadis sepertimu berbahaya pergi sendiri pada malam hari."


"Aku sudah biasa pergi kemanapun sendiri."


"Bisakah kau menurut tanpa membantah." Edward lalu membawa Deya keluar dari restoran itu dengan menggandeng tangan Deya. Sebuah senyuman tersungging tipis di bibir gadis itu.


Mudah sekali bagi Edward melunakkan hatinya yang sedang kesal hanya dalam waktu singkat.


"Apa kau tidak malu menggandeng tanganku?" tanya Deya ketika mereka hampir sampai di mobil.


"Kenapa harus malu menggandeng gadis cantik sepertimu."


"Nanti jika ada yang melihat atau keluarga mu memergoki kita yang jalan berdua?"


"Orang tuaku ada diluar negeri." Edward membuka pintu mobil agar Deya masuk ke dalam.


Deya menatapnya lekat, menunggu jawaban yang lain. Dia tahu jika pria itu telah menikah dari pencarian profilnya di internet.


"Sudah jangan berpikir macam-macam." Edward tidak mengatakan apapun lagi.


Istri Edward adalah mantan artis terkenal hanya saja setelah menikah dengan Edward wanita itu jarang terlihat dilayar televisi. Deya kalau Edward sudah mencukupi semua kebutuhan sangat artis, sehingga tidak perlu lagi mencari uang.


Soraya seharusnya bahagia dan beruntung karena mendapatkan suami yang setia dan kaya juga tampan semua yang diinginkan wanita ada dalam diri Edward. Deya melirik, mencuri pandangan pada Edward.


Deya lantas melihat ke arah luar jendela sambil menggigit bibir.


Dia mencintai Angga tetapi jika bersama dengan Edward ada rasa kagum tersendiri. Ini tidak adil bagi Angga tetapi dia tidak bisa mengontrol perasaannya.


"Kau sedang menjalani semester berapa, Ya?"


"Semester enam."


"Sebentar lagi mau magang?"


"Iya."


"Sudah ada rencana mau magang dimana?"


"Belum tahu." Wajah Deya nampak sedih seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa, ada masalah?"


"Tidak ada apa-apa."


"Ceritakan saja padaku, siapa tahu aku bisa bantu."

__ADS_1


Deya tersenyum kecut dan menoleh. "Tidak, kau sudah banyak membantuku."


"Jangan sungkan."


"Tidak ada apa-apa." Deya terdiam lagi. Edward membuka dashboard dan mengambil satu lembar kartu namanya.


"Kau bisa menghubungiku jika butuh sesuatu." Deya menerima dan melihat kartu nama itu.


"Ada imbalannya atau bantuan gratis," tanya Deya langsung ke tujuan.


"Tergantung masalahnya. Jika besar maka imbalannya harus besar. Jika kecil kau cukup lakukan hal kecil saja."


"Aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu."


Mobil berhenti ketika lampu merah menyala. Edward menoleh menatap ke arah Deya.


"Satu ciuman saja maka aku akan memberimu uang satu juta."


Mata Deya terbelalak.


"Aku bukan orang munafik. Aku bisa saja menggaulimu dulu jika aku mau tetapi tidak ku lakukan karena aku punya prinsip sama denganmu. Namun, sebuah ciuman saja bolehkan?" Wajah Deya memerah dalam pencahayaan yang minim.


"Itu jika kau butuh uang," lanjut Edward.


"Aku tidak akan pernah memintanya padamu."


Lampu jalanan kembali hijau dan mobil berjalan lambat ke rumah Deya.


"Itu jika kau mau daripada kau menghubungi Arya lagi."


Mereka sama-sama terdiam.


"Bukankah kau sudah punya istri? Apakah ini tidak akan menyakitinya?"


"Istriku sudah pergi dari rumah beberapa bulan yang lalu. Aku tidak tahu akan dikemanakan hubungan kami olehnya."


Pantas saja dia selalu melihat Zahra hanya bersama dengan Edward, sosok Soraya tidak pernah terlihat menemani.


"Karena itu kau mencari pelarian dari hubunganmu yang kacau bukan malah memperbaikinya."


"Kau tidak tahu apa-apa tentang masalah kami Deya. Kau masih terlalu kecil untuk bisa memahami urusan rumah tangga. Namun, yang kau katakan itu benar. Aku butuh tempat pelarian dari masalahku dan aku menemukan tempat ternyaman ketika sedang berbicara dengan seorang wanita hanya denganmu."


Deya terpana oleh kata-kata Edward, dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah depan dengan gugup.


"Aku tidak ingin menyakiti hati wanita lainnya."


"Tidak ada yang tersakiti, jika tidak ada yang tahu tentang hubungan kita. Ini hanya untuk bersenang-senang saja. Kau hanya perlu menemaniku jika aku butuh. Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu dan kau tidak akan mencampuri urusan pribadiku."

__ADS_1


"Bolehkah aku menciummu, kalau boleh aku akan memberikan uang satu juta untuk sekali ciuman?"


__ADS_2