
"Aku harus berangkat kerja hari ini karena ada rapat penting setelah makan siang," ungkap Edward melihat jam di tangannya.
"Aku kira kau masih libur," ucap Deya.
"Setelah makan siang? Kalau begitu aku akan memasak. Eh, kita belum belanja."
"Aku sudah meminta Satria mengisi penuh kulkas dan membeli semua kebutuhan dapur. Kau bisa mengecek."
"Aku akan ke bawah memasak dulu."
"Aku ingin sayur asam buatanmu dan ikan asin goreng, aku kangen," ungkap Edward. Deya mengangguk. Deya hendak keluar ketika Dafi memanggil.
"Ibu mau kemana?"
"Ke dapur, masak makanan untuk Dafi dan Kakak, Kak Zahra mau makan pakai apa?" tawar Deya.
"Apa saja asal jangan pedas."
"Okey."
"Bu, Ibu masak sendiri? Tidak ada pelayan?"
"Hmm... di sini tidak ada pelayan jadi kita saling bekerjasama membersihkan rumah."
"Memang Ibu bisa masak?" tanya Zahra.
"Hanya memasak, itu hal mudah. Zahra mau ikut? Kalau mau ayo," tawar Deya.
Zahra melihat ke arah Ayahnya.
"Kalian turun saja, biar Ayah bermain dengan Dafi. Lihat ini Dafi... Ayah akan pasang jalan kereta apinya."
Zahra lantas pergi ke dapur bersama dengan Deya.
"Dapurnya kecil dan hanya ada dua kursi makan."
"Nantikan biar kursi tamu digeser kita makan dilantai."
"Di lantai?" tanya Zahra. Deya mengangguk. Zahra mengedikkan bahu menatap ruang tamu yang sekalian jadi ruang keluarga.
Mereka lantas mulai mengambil bahan masakan dan mulai memasak. Zahra banyak bertanya dari pada bekerja karena sebelumnya dia belum pernah memasak. Ibu dan Neneknya bukan tipe wanita yang suka pergi ke dapur pantas saja jika dia tidak mengenal keduanya.
"Ambilkan gula Zahra," kata Deya.
"Yang mana gulanya Bu, sama-sama putih."
Deya akhirnya mengambil sendiri lalu menuangkan di sayur baru kemudian menjelaskan pada anak itu.
"Coba cicipi." Deya mengulurkan wadah berisi garam.
"Asin," ujar Zahra.
"Karena ini garam, teksturnya lebih halus. Kalau yang ini gula beda kan?"
"Ini apa kok sama putih," tanya Zahra menunjuk pada wadah mungil.
"Itu penyedap rasa, micin. Kalau ini kaldu."
__ADS_1
"Wekk tidak enak Bu, kenapa malah di sebut penyedap rasa."
"Itu akan menguatkan rasa, Sayang."
"Tempe nya diapakan, Bu?"
"Di potong besar untuk digoreng."
"Tidak ada daging?"
"Ikan asin. Ini gurih tapi makannya sedikit2," kata Deya mulai menggoreng ikan.
Minyak mulai memercik dan mengenai kulit Zahra. Zahra memekik kaget. Deya langsung mematikan kompor dan melihat luka Zahra, lantas membersihkannya di bawah pancuran. Dia berlari khawatir mengambil salep di bawah laci televisi. Untung saja semua pengaturannya masih sama. Jadi Deya tidak harus mencari lagi letaknya.
Dia mengoles salep di tangan Zahra.
"Ini tidak sakit, Bu."
"Tapi ini melepuh," kata Deya khawatir. Mengoles salep lalu meniupnya. Zahra melihat dengan seksama.
"Aku pernah kecelakaan hebat, Bu. Ini tidak sesakit itu."
"Itu kan dulu. Bagaimana pun luka tetap sakit, tidak boleh dibiarkan."
"Ibuku suka mencubit atau memukulku keras jika aku tidak menurut. Aku sudah berteman dengan rasa sakit dari dulu," ungkap Zahra lirih dengan mata berembun.
"Zahra...." Deya tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Hanya memeluk Zahra. Dia tahu bagaimana watak Soraya jika sedang mengamuk. Dia kira wanita itu tidak akan bertindak kasar pada anaknya lagi. Mulai merenggangkan pelukan.
"Apa kau bilang pada Ayah?"
"Jadi tidak ada yang tahu?"
"Hanya orang rumah saja," ucap Zahra tersedu memeluk Deya.
Deya mengusap kepala anak itu lembut. Marah dan geram pada sikap Soraya yang begitu buruk mengasuh Zahra. Ingin rasanya dia memaki wanita itu karena membuat seorang anak kecil menderita. Dia jadi menyesali tindakannya yang meninggalkan Zahra sendiri bersama dengan Soraya. Andai kata dia bertahan mungkin Zahra akan dalam lindungan Edward dan dirinya.
Deya memegang dagu Zahra mengangkatnya.
"Mulai sekarang tidak akan ada yang menyakitimu lagi, Ibu janji." Deya mengusap jejak air mata di pipi Zahra lalu mencium dahinya.
"Anak Ibu hebat, pasti akan jadi kakak yang kuat dan hebat untuk adiknya. Akan jadi anak yang membanggakan untuk Ayahnya."
"Lalu untuk Ibu?"
"Cukup jadi anak yang baik saja." Deya menepuk sayang kepala Zahra dan tersenyum.
"Sudah, kau duduk di kursi saja jangan dekat Ibu nanti terkena minyak lagi."
"Aku mau bantu, Bu." Deya melihat ke sekitar dan menatap ke arah tempe.
"Iris saja tempe itu besar-besar untuk digoreng."
Mereka mulai memasak lagi sambil bercanda.
"Baunya harum sekali, Bu, bikin perut lapar."
"Ramai banget bikin kita kepo, ingin tahu apa yang dilakukan Ibu dan Kakak di dapur." Edward datang dengan menggendong Dafi lalu meletakkan anak itu di meja dapur mengganggu Zahra.
__ADS_1
"Memasak masa sedang dandan," jawab asal Zahra sambil bercanda dengan Dafi
Edward memeluk pinggang istrinya. "Wah, istriku bau ikan asin. Jadi harum." Mencium baunya.
"Ih, Mas, ada anak-anak. Bantu aku menggelar karpet di ruang depan untuk makan. Kursi makan kita cuma dua.
" Akh! Aku lupa tidak menambah nya, ingatnya cuma kita berdua saja yang di sini." Edward mencium pipi Deya sebelum menurunkan Dafi dari meja dapur.
"Ayo prajurit. Sekarang bantu Ayah menggelar karpet untuk makan."
"Ciap!" Mereka berdua lantas ke ruang depan.
"Sejak kapan Dafi jadi prajurit dadakan?" gumam Zahra melihat Ayah dan adiknya berjalan berbaris ke depan.
" Sejak bertemu dengan komando recehan."
"Apa Bu?"
"Akh, tidak... tidak...." Deya terkekeh sendiri.
"Ih, Ibu main rahasiaan."
Mereka lantas makan bersama. Zahra nampak tidak akrab dengan menu makanan yang Deya buat.
"Begini makannya," Deya menyuapi Zahra. "Enakkan?"
"Aneh rasanya, asam, manis, asin jadi satu tapi enak, Bu."
Deya gantian menyuapi Zahra dan Dafi bersama-sama.
"Kalau ikut bersama Ibu, makanannya kampung. Ibu jarang masak-masakan luar."
"Tapi ini buatan Ibu sendiri, ada cinta di dalamnya yang buat enak."
"Kau sudah besar makan sendiri saja."
"Biar saja, Mas, sekalian aku menyuapi Dafi," bela Deya. Zahra menjulurkan lidah pada Ayahnya.
"Nanti jadi anak manja."
"Manja dengan ibunya, bukan orang lain."
Perkataan Deya sebenarnya menohok hati Zahra. Ibu kandungnya malah tidak pernah melakukan ini pada Zahra, orang lain yang datang dan menjadi ibu sambungnya, malah memberi perhatian lebih.
"Ayo makan malah melamun," kata Deya memberi suapan lagi pada Zahra. Zahra langsung memakannya.
"Kau kapan makannya?" kata Edward yang gantian menyuapi Deya.
"Ih, ibu kayak bayi disuapi Ayah," celetuk Dafi. Mereka lalu tertawa.
"Ayah tadi Ibu menyebut Ayah sebagai komando recehan," adu Zahra.
Deya yang sedang minum lantas tersedak. Edward menatapnya kejam.
"Iya, di handphone lamamu kenapa nomerku tertulis Tuan Recehan?" cecar Edward membuat Deya tersudut.
"Itu karena... karena... aku lupa kalau memberi nama itu," kilah Deya. Mereka lalu bertengkar kecil yang membuat anak-anak mereka tertawa.
__ADS_1