Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 130


__ADS_3

Deya keluar dari rumah itu dengan seorang sopir saja untuk menjaga Mama Claudia dari kekejaman Soraya. Ini baru dugaan, tapi jauh dalam lubuk hati Deya Soraya memang ikut campur dalam sakit yang dialami Mama Claudia. Lalu apa sebabnya jika dia memang mencintai Edward dia tidak akan menyakiti mertuanya.


Deya berjalan keluar kompleks melewati jalan yang tidak terlalu ramai karena ini bukan jam sibuk. Mendadak suara ban mobil berdecit keras. Tubuh Deya hampir terpental ke depan.


"Ada apa?" tanya Deya. Sopir itu langsung membuka sabuk pengaman dan membuka pintu.


"Itu Bu, sepertinya kita telah menabrak seseorang." Sopir itu keluar mobil. Deya melongok dari kaca depan mobil.


"Coba Pak periksa."


Di saat yang sama sebuah mobil datang dan berhenti di dekat mobil mereka. Beberapa orang pria terlihat keluar dan mengamankan sopir.


Soraya pun dengan cepat ikut keluar dari mobil itu dan masuk ke ruang kemudi.


"Hallo, Deya!" kata Soraya menutup pintu mobil dan menguncinya membuat Deya terpaku sejenak.


"Kau.... Apa yang kau inginkan?" tanya Deya gugup dan panik.


"Hmm, kau belum tahu." Soraya tersenyum sinis dan horor dari kaca spion.

__ADS_1


Sopir Deya terlihat ditarik masuk oleh gerombolan Soraya ke mobil satunya.


"Sepertinya kita perlu jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran dari rumitnya dunia. Huh! Aku sebenarnya sudah lelah."


Deya mulai merasa jika Soraya akan bertindak di luar batas. Dia lantas mengambil handphone dan menghubungi Edward. Soraya yang tahu langsung membalikkan tubuhnya ke belakang mencoba menjangkau handphone di tangan Deya. Panggilan terangkat.


Kedua wanita itu saling berebut handphone.


"Hallo Deya," panggil Edward dari sebelah.


"Lepaskan!"


"Edward, Soraya dia gila," teriak Deya keras handphone terlempar ke lantai besi samping kursi Deya.


"Deya kau tidak ada apa-apa?" tanya Edward terdengar cemas.


Plak!


Deya memegang pipinya. Soraya maju ke belakang dengan tatapan tajam yang serasa ingin menghabisi Deya. Mereka bergumul karena Soraya ingin memegang dua tangan Deya. Deya kalah saing karena dia berusaha agar Soraya tidak melukai perutnya jadi dia hanya bertahan

__ADS_1


"Soraya jika kau mencelakai Deya aku tidak akan pernah memaafkanmu," teriak Edward dari handphone. .


Soraya tertawa keras. "Kau memang tidak pernah memaafkanmu Ed, padahal aku mencintaimu dengan sangat tapi kau tidak pernah memberi kesempatan padaku."


"Diam disini." Soraya yang kalap langsung mengikat tangan Deya dengan lakban yang sudah dia bawa di saku bajunya.


Setelah puas melihat lawannya tidak berdaya, Soraya tertawa keras. Dia kembali ke kursi pengemudi. Menjalankan mobilnya.


"Kau gila, Aya!" umpat Deya.


"Aku memang gila dan itu semua karena kau!" balas Soraya.


"Kau ingin apa?"


"Aku ingin apa? Sudah tidak ingin apa-apa karena kau telah mengambil semua yang kumiliki, anak, suami dan keluargaku. Kau ambil hidupku, hancurkan masa depanku dan membuatku jadi hinaan masyarakat. Deya... kau itu sungguh jahat dan kejam!" ungkap Soraya.


"Aku kejam? Kau membuang semua yang kau miliki, merasa itu adalah beban penderitaanmu. Aku hanya memungutnya saja, menjadikannya hal berharga dari hidupku apakah itu salah?" balik Deya.


"Kau sungguh pandai berkata Deya."

__ADS_1


"Itu kebenarannya, kau meninggalkan Edward demi pria lain. Kau menelantarkan Zahra demi karir dan kau mengotori dirimu dengan fitnah padaku hingga kau sendiri terjebak dengan lubang yang kau buat sendiri. Kini kau menyalahkanku atas semua hal ini, kau sadar jika kau penyebab semua masalahmu!"


__ADS_2