Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 62


__ADS_3

Edward masuk ke hunian Deya. Dia langsung ke dapur mencari makanan. Membuka tudung saji dan hanya menemukan piring kosong. Deya belum masak berarti belum makan sedari tadi.


Edward lantas pergi ke lemari pendingin melihat apa saja yang bisa dimasak. Dia bukan pria yang pernah memasak di dapur. Melihat mie instan. Ragu karena dia menghindari makanan instan.


Edward menghembuskan nafas keras ke atas membuat rambut depan miliknya bergerak. Meletakkan kedua tangan di pinggang. Mulai berpikir.


Akhirnya memasak mie instan dengan petunjuk dari cara masak yang pernah tertera di kemasan di pandu juga dengan video tutorial di youtube.


Dia menuangkan air sesuai dengan petunjuk. Memecah telor tetapi sayangnya untuk yang pertama gagal karena jatuh ke lantai. Percobaan telor kedua cangkang ikut masuk sehingga air di buang kembali. percobaan ketiga telor di pecahkan di piring dahulu baru diletakkan di mie rebus. Baru sayuran yang dia potong asal ikut masuk ke dalam. Lalu mie dia masukkan untuk yang terakhir kalinya.


Makanan sudah siap dan dia tersenyum senang. Ini masakan pertamanya yang penuh dengan drama. Bangga dengan pencapaian yang dia raih. Bau harum masakan menyeruak ke hidungnya.


Dia menuangkan mie instan itu ke sebuah mangkok besar lalu membawanya ke kamar atas.


Membuka pintu kamar dan mulai menyalakan saklar lampu. Seketika kamar menjadi terang benderang. Rasa suntuk dan lelah yang dia rasakan tadi seketika menguap ketika melihat Deya yang tidur meringkuk di atas seprai bergambar mawar merah besar.


Edward duduk di pinggir ranjang. Tatapannya tertuju pada strip pil KB di dekat Deya. Dia menghela nafas. Sudah dua strip yang dia buang, apakah Deya tidak mengerti juga keinginannya? Rasa kesal melanda Edward. Dia meletakkan mie panas di atas nakas dan pergi membuang pil KB itu ke tempat sampah.


Fix, dia ingin seorang putra seperti yang ibunya sering bicarakan. Walau memaksa tapi ini sah.


Edward mulai membangunkan Deya. Mengoyak pelan bahu wanita itu. Kelopak mata gadisnya mulai terbuka, tersenyum lalu mendekat, memeluk pinggang Edward dengan manja, memejamkan mata lagi.


"Mas datang," gumamnya dengan suara serak baru bangun tidur.


"Hmm, dan kelaparan. Melihat dapur ternyata tidak ada makanan sama sekali."

__ADS_1


Mata Deya langsung terbuka, bangkit dan mengusap menggelung rambut panjangnya asal.


Hidungnya mencium aroma masakan, dia melihat satu mangkuk besar mie instan. Membuka lebar mata seraya menutup mulut.


"Mas masak sendiri?"


"Hmmm," jawab singkat pria itu mengambil mie dari atas nakas. Dia menyendok mie lalu menyuapi Deya.


"Coba masakan pertamaku."


Deya menaikkan kedua alisnya ke atas, terkejut.


"Hmm kau juga laparkan karena terakhir kita makan, siang tadi." Mata Deya merebak. Terharu dengan perhatian Edward.


"Enakkan?"


"Hmm, padahal ini masakan pertamamu."


"Aku memang selalu melakukan semuanya dengan baik. Apalagi untuk kesayanganku," godanya dengan pandangan mata genit


"Tanganmu kok merah, Mas?" Deya mengambil tangan Edward.


"Kena pinggiran panci." Edward menariknya. "Cuma sedikit. Jangan khawatir."


"Tapi, Mas."

__ADS_1


"Kita habiskan dulu makanan ini jangan sampai kenikmatannya menghilang karena urusan luka kecil ini."


Deya mencium luka itu. "Ini bukan luka biasa bukti perhatian dan pengorbananmu padaku."


"Aku akan melakukan apapun asalkan orang yang kucintai bahagia ketika bersamaku."


"Gombal...," ujar Deya bangkit.


"Mau kemana, ini belum habis," kata Edward.


"Aku sudah kenyang, mau ambil minum haus."


"Kau tidak menghargai perjuanganku memasak ini." Edward mencebik sedih. Deya tersenyum lalu mendekat. Menghabiskan makanan itu walau perutnya sudah kenyang. Dia lalu membawa mangkuk ke bawah untuk di cuci. Edward mengikutinya.


"Kapan kau datang?" tanya Deya.


"Ehm, satu jam yang lalu."


"Kok nggak bangunkan aku?"


"Nggak tega, ma istri muda, biar bisa istirahat tenang." Edward melingkarkan tangan di pinggang Deya. Mereka menuruni anak tangga bersama.


Deya speechless ketika melihat dapur yang berantakan. Edward menggaruk lehernya dengan meringis.


"Mas, kok begini?"

__ADS_1


__ADS_2