
Saat tengah malam Deya membukanya dan mencari sosok Edward. Pria itu kembali meninggalkannya. Sepi dan sunyi, melingkupi hatinya. Manik cokelat gelap miliknya melihat secarik kertas diatas nakas. Dia mengambil dan mulai membaca tulisan di dalamnya.
'Terimakasih, Sayang. Nikmati semua yang ada di sini karena semuanya adalah milikmu mulai saat ini. Ingat besok aku menunggumu di kantor! Jika kau perlu apapun katakan saja, jangan sungkan.'
Deya meresmas kertas itu. Untuk sesaat dia merasa kotor karena menjual tubuhnya demi uang. Dia pikir ketika memiliki apa yang Lia miliki akan membuatnya tenang dan bahagia. Nyatanya, dia merasa kecewa ketika pasangannya pergi begitu saja tanpa pamit, setelah apa yang mereka lakukan.
Dia seperti tidak dihargai. Tidak dicintai. Menjadi seperti wanita penghibur yang tidak punya hak untuk mengeluh apalagi marah. Ini sulit tidak seperti bayangannya. Bagaimana bisa Lia menjalani kehidupan seperti ini selama bertahun-tahun.
Deya teringat akan nasihat ayahnya setelah dia menikah dengan Edward.
"Bapak tidak tahu apa niatmu mau menjadi istri kedua Tuan itu. Yang tahu hanya Alloh semata. Cuma satu pesan Bapak, jadilah istri yang baik. Contoh ibumu, dia selalu mengerjakan semuanya dengan hati yang ikhlas. Jika kau melakukannya maka suami akan menghargai dan menghormatimu sepanjang hidupnya. Tugas seorang istri adalah membuat suami merasa nyaman dan bahagia berada di sis**imu, apapun keadaannya."
Deya pergi ke kamar mandi, mandi malam dan sholat. Memohon agar perjalananya dimudahkan oleh Sang Pencipta. Kini dia tidak tahu berada di arah yang benar atau salah tetapi berharap Tuhan akan selalu menuntunnya di perjalanannya yang penuh lika-liku.
***
Di sebuah gedung pencakar langit milik Xavier Corporation.
Deya berjalan menuju ke ruang sekretaris Edward. Dia tersenyum pada wanita yang ada di depannya.
"Selamat pagi, Kak," sapa Deya.
"Pagi juga. Kamu Deya Almaira yang kemarin datang kan?" tanya Katrine.
"Iya, Kak."
"Pak Edward sedang menunggumu di dalam. Oh, ya, Bapak berpesan agar kau nanti kerja magang bersamaku. Di sini."
"Baik, Kak," jawab Deya.
Katrine lantas mengetuk pintu ruangan Edward dan masuk. Tidak lama kemudian dia keluar dan menyuruh Deya untuk langsung masuk saja.
Deya lantas masuk ke dalam ruangan itu. Dua melihat Edward yang sedang sibuk dengan map di depannya.
"Pagi, Pak!" sapa Deya. Edward menghentikan aktivitasnya untuk sejenak dan menatap ke arah Deya dari bawah hingga ke atas.
Edward menyuruh Deya untuk mendekat dengan lambaian tangannya. Wanita itu lantas berdiri di sebelah kursi Edward.
"Baju itu nampak cocok di tubuhmu." Deya menanggapi itu dengan tersenyum. "Tapi aku tidak suka, kau jadi berkali lipat bertambah cantik hari ini."
__ADS_1
"Aku jadi ingin lihat kau memakai hijab, biar tidak semua pria bisa menikmati indahnya tubuhmu. Namun, jangan lakukan jika itu karena permintaanku. Lakukan saja apa yang kau mau."
Apakah ini sebuah rayuan atau perintah, Deya tidak tahu. Edward selalu bersikap manis padanya tetapi sampai kapan? Apakah sampai pria itu bosan? Lalu membuangnya.
Deya duduk manja di pangkuan Edward. "Kenapa kau pergi tidak membangunkan aku?" tanyanya lembut sambil memeluk leher Edward dan meletakkan kepalanya di pundak pria itu masuk ke dalam ceruk lehernya.
Edward mengusap punggung Deya. "Kau kelelahan dan tidur dengan pulas, aku tidak tega mengganggu tidurmu."
"Kenapa? Masih ingin lagi!"
"Ih!" Deya mencubit pinggang Edward.
"Aww sakit!" pekik Edward.
"Nggak enak aja tidur sendiri di sana. Secara, aku terbiasa tinggal di rumah kecil bersama dengan keluargaku."
"Apa kau mau membawa keluargamu kesana?"
"Tidak, kau nanti kurang nyaman. Hanya saja aku boleh pulang ke rumah kan jika kau tidak mampir ke sana."
"Hmm kita lihat nanti saja."
Deya masih lemas bersandar di tubuh Edward. "Kenapa? Kau sakit?"
Edward tersenyum, mengelus kepala Deya. Beberapa hari ini bersama dengan wanita itu seperti sudah bersamanya lama. Tingkah Deya juga selalu membuatnya senang dan nyaman. Dengan sifat manjanya jika mereka bersama padahal Edward tahu benar jika Deya itu anak yang mandiri dan selalu berpikir dewasa jika bersama keluarganya.
Sudah lama sekali dia tidak merasakan kemesraan dengan Soraya, mereka bahkan kerap bertengkar yang membuat hubungan terasa hambar. Hanya menyalurkan hasrat lalu tidur.
Soraya benar, semua bukan salahnya jika dia mencari kehangatan pria lain. Dia yang selalu sibuk dengan pekerjaannya dan tidak pernah memperhatikan wanita itu. Mungkin ini yang dirasakan Soraya merasa nyaman ketika mendapatkan perhatian lebih dari orang lain.
Edward memperhatikan Deya. Dia tidak akan pernah membuat Deya merasakan kesepian karena pekerjaannya. Dia tidak rela jika wanita ini dimiliki pria lain.
Deya benar-benar tertidur dalam pelukannya. Tadinya, dia kira wanita itu hanya ingin bermanja-manja saja. Nyatanya, wanita itu malah mendengkur halus. Sepertinya dia memang capai dan lelah karena ulahnya dua hari kemarin.
Edward lantas mulai kembali mengetik tanpa membangunkan Deya. Pintu ruangan Edward diketuk.
"Siapa?"
"Saya, Tuan," ujar Satria.
__ADS_1
"Masuk."
Satria membuka pintu dan terkejut melihat seorang wanita yang duduk di atas tubuh Edward. Tujuh tahun dia bekerja di perusahaan ini tidak sekalipun dia melihat Bosnya memanjakan sangat istri. Bosnya bahkan selalu bersikap dingin walau perhatian dengan kebutuhan istrinya.
Apakah karena Deya adalah istri mudanya yang masih ranum sehingga diperlakukan berbeda?
"Pak, dia?" tanya Satria.
"Dia lelah biarkan saja." Satria terdiam.
"Ada apa kau kemari, bagaimana pertemuannya dengan klien kita kemarin."
"Ini hasilnya, Pak." Satria menyerahkan map kepada Tuannya.
"Biar nanti aku periksa." Deya yang merasa tidak nyaman Edward bergerak. Dia menggusel di ceruk leher pria itu mencari kenyamanan. Hal itu, membuat tubuh Edward menegang seketika.
"Rasanya seperti punya anak perempuan lagi."
"Yang bisa diajak bergelut di ranjang, Pak," ceplos Satria tapi langsung menutup mulutnya Dia merinding melihat wajah serius Edward yang menatap ke arahnya.
"Ha... ha... kau benar, dia tidak kalah manja dengan Zahra tetapi bisa menyenangkan. Dia bisa segala hal untuk memanjakan pria."
Pikiran Satria sudah melanglang buana.
"Kau jangan berpikir macam-macam. Maksudku, dia bisa memasak, menyiapkan semua keperluan ku, aku merasa menjadi raja jika bersamanya."
Wajah Edward yang biasa hadir tanpa senyuman kini nampak berseri penuh dengan kilatan bahagia.
"Saya turut bahagia dan senang."
"Pak, hari ini akan ada pertemuan dengan Tuan Adam," lanjut Satria.
" Ayah akan datang! Aku lupa. Bagaimana ini?"
Teleponnya mulai berdering dan Edward langsung mengangkat.
"Pak, Tuan Adam sudah ada di depan ruangan Anda."
"Ayah, sudah ada di sini? Tunggu lima menit lagi!" seru Edward panik.
__ADS_1
"Oh, ya tolong buatkan kopi, plus susu biar jadi lebih legit dan nikmat," goda Edward.
"