Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 19 Belum Dewasa


__ADS_3

"Saya berjanji pada Anda, Ayah Deya, jika saya sebisa mungkin tidak akan melukai hatinya. Walau itu terdengar sulit karena harus berbagi dengan yang lain. Saya hanya ingin membina rumah tangga yang langgeng seperti Anda atau juga orang tua saya. Hanya satu tetapi jika Tuhan memberikan dua itu adalah anugerah dan tidak akan saya sia-siakan dengan mengecewakan anugerah itu. Memilih lagi untuk jadi yang ketiga tidak akan pernah saya lakukan jika Deya tetap berada di samping saya. Hanya saja apakah Deya sanggup menemani hidup saya hingga akhir hayat kamu berdua karena saya tidak akan mengekang Deya."


"Maksudmu?"


"Jika dia suatu hari menemukan cinta sejatinya maka saya akan melepaskannya. Apabila hingga sampai akhir hidup kami Deya tetap setia dan mencintai saya apa adanya, sampai kapanpun saya akan memeluknya erat bahkan merantai nya agar tidak bisa jauh." Edward mengatakannya dengan tulus terasa ada luka di sana yang tidak diketahui oleh semua orang. Deya bisa merasakan getaran itu.


"Apa kau ada masalah dengan istrimu atau mungkin istrimu telah melukai sisi lelakimu?" tanya Pak Seto membuat Edward terkejut.


"Hanya salah faham sedikit, mungkin nanti akan membaik." Edward membuang muka ke samping setelah mengatakan itu. Menghela dan membuang nafas keras seolah ada beban berat di sana.


"Kalau begitu kapan kalian akan menikah?" tanya Pak Seto membuat semua orang yang ada dalam ruangan itu terperangah.


"Ayah merestui hubungan kami?" tanya Deya tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar.


"Ayah tidak suka kau menjadi yang kedua tetapi Edward pria yang tepat untukmu."


"Bukan karena dia kaya tetapi karena dia pria yang bertanggungjawab, tersirat dari semua jawaban yang Edward berikan."


Deya terdiam. Memandangi ibunya.


"Ibu akan menyetujui apa yang ayahmu katakan."


Bukannya tersenyum bahagia Deya malah memeluk ibunya sambil menangis.


"Doa Ibu akan selalu ada untukmu, Nak."


"Aku akan menikahi Deya besok," kata Edward mantap.


"Kok... cepat sekali...."


"Katamu terserah padaku."


"Nanti dulu cari tanggal yang baik. Wetonmu apa dan weton Deya juga apa nanti dihitung hari yang baik untuk kalian menikah kapan?" ucap Ayah Deya.


"Sebenarnya Deya ingin menikah sembunyi dulu karena istri pertama Mas Edward kan belum setuju juga karena keluarganya juga belum mengenal Deya. Deya juga masih kuliah, ini hanya untuk menghalalkan kedekatan kami semata. Ibu dan Ayah tahu kan jika pacaran dengan pria dewasa itu berbahaya..." Deya mulai mengatakan seribu satu alasan agar mereka berdua dapat menikah siri dan menunda hingga Deya selesai kuliah.


***


Benar saja pernikahan itu dilakukan esok harinya mempertimbangkan jika hari jum'at hari yang baik untuk menikah bertepatan juga dengan bulan idul adha.


Pernikahan itu dilakukan dengan tanpa acara hanya ada penghulu dan dua orang saksi selain keluarga Deya dan Edward.


"Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku Deya Almaira binti Seto Arya dengan mahar seperangkat alat sholat dan emas lima puluh gram dibayar tunai." Pak Seto menangis keras. Dia sebenarnya tidak ingin Deya menikah dengan cara seperti ini tetapi dia tetap melakukannya karena lebih takut jika Deya berbuat jauh. Lepas dari apa yang dia ajarkan selama ini.


Deya yang melihat Ayahnya menangis tidak berhenti untuk mengusap air matanya yang terus mengalir.


Sejenak Edward melihat ke arah Deya tidak tega untuk melakukan ini. Ini sama saja menghancurkan masa depan Deya sendiri. Edward paham akan hal itu.

__ADS_1


Satu tangan Edward memegang tangan Deya dengan erat sambil menatapnya. Baru ketika Deya menganggukkan kepala Edward baru melakukannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah."


Semua keluarga Deya membuang muka dan menangis. Deya lantas mencium tangan Edward, Edward mencium keningnya lalu pipinya yang basah sambil berbisik.


"Ini hari pertama kita menikah jangan buat hari ini seperti hari pemakaman untukmu." Deya menatap ke arah Deya.


Deya menganggukkan kepala dan Edward menghapus dua pipi Deya yang basah. Deya lalu memeluknya.


"Berikan aku cinta yang banyak agar aku tidak takut menjalani hari esok," bisik Deya.


Keluarga Deya baru melihat perhatian yang Edward berikan pada Deya. Awalnya mereka ragu tetapi keraguan itu menjadi sirna seketika. Sepertinya Edward bisa menjaga Deya dengan baik nantinya.


Satu jam kemudian para penghulu yang merupakan teman dari Ayah Deya pamitan pulang bersama dengan paman Deya yang menjadi saksi.


Sedangkan saksi dari pihak Edward adalah asisten pribadinya bernama Sakti.


"Pak, kita ada rapat pertemuan dengan Tuan Jhonson dan mentri pertambangan dua jam lagi," beritahu Sakti pada Edward. Pria itu lantas melihat ke arah Deya yang asik bercanda dengan dua adiknya.


"Pergi saja Nak Edward jika itu penting," ujar Pak Seto ikut melirik ke arah Deya.


"Ih, jangan ditembak ini, kau tembak yang kanan saja. Tuh kan nggak nurut sih sama Kakak kalah deh jadinya."


"Ih, kakak aja yang main sendiri dari pada meributi aku!" ujar Ryan menyerahkan handphone itu pada Deya sambil bersedekap menekuk bibirnya.


"Ryan udah kalah gantian aku yang main, Kak!"


"Eh!" Deya merebut handphone itu tidak sadar jika tiga orang didepannya sedang memperhatikan tingkahnya.


"Sabar Nak Edward, menikah dengan anak kecil memang seperti itu," ucap Pak Seto.


Deya bertanya pada ibunya dengan isyarat.


"Suamimu mau pergi bekerja lagi kau malah asik main dengan adikmu saja. Ingat suami itu nomer satu."


Deya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mas Edward mau kerja, aku nggak apa-apa kok ditinggal. Nanti biar aku pulang naik taksi saja sama adik-adik."


"Memang kau mau pulang kemana?"


"Rumah."


"Rumahmu itu bersama dengan suamimu."


"Kita kan sembunyi dulu, jadi aku masih tinggal dengan orang tuaku kan?" tanya Deya.


Edward menghela nafasnya. "Aku akan menyiapkan apartemen atau rumah untuk kau tinggali. Sementara ini kau boleh tinggal di rumah Ayah dan Ibu karena harus menjaga dua adikmu."

__ADS_1


"Haruskah?"


Deya mendapat tatapan tajam dari kedua orang tuanya, membuat dia meringis dan memundurkan tubuhnya ke belakang. Ngeri.


"Sebaiknya kita bicara dulu di luar sebelum aku berangkat," ajak Edward. Deya langsung bangkit dan keluar sebelum dapat omelan dari orang tuanya.


"Ayah dan Ibu, aku pamit dulu," pamit Edward mengambil tangan Ayah mertuanya.


"Dengar, aku merawat Deya sebaik mungkin yang kubisa. Bahagiakan dia hanya itu pintaku. Kau boleh menegurnya jika melakukan kesalahan atau memarahinya tapi jangan mengasarinya karena kami tidak pernah melakukan itu. Jika suatu saat kau sudah tidak sepemaham lagi dengannya atau kau sudah menyerah dengan hubungan kalian maka tolong serahkan Deya kembali pada kami dengan cara baik-baik seperti kau menikahinya dengan baik pula."


"Baik, Yah."


"Deya belum tahu tentang kehidupan rumah tangga maka ajari dia dengan baik dan bersabarlah."


"Baik, Bu"


Setelah berpamitan dengan dua orang tua Deya. Edward pamitan dengan dua adik Deya.


"Jadi kalian tidak punya handphone?"


Raihan dan Ryan menggelengkan kepala. "Kalau begitu buat Kak Deya mengajak kalian membeli handphone baru untuk kalian besok."


"Nak, Edward tidak usah."


"Tidak apa-apa sebagai tanda perkenalan dariku." Kedua adik Deya lalu saling berbalas tinju dengan Edward.


"Kakak mau mengejar kakak kalian."


"Assalamu'alaikum."


"Walaikum salam."


Edward lantas keluar dari ruang perawatan itu. Sakti menunjuk ke arah mana Deya keluar. Edward menemukan Deya sedang ada di depan mobil Edward.


Pria itu lantas membuka kunci mobil dan menyuruh Deya masuk.


"Aku ingin bicara sebentar denganmu."


Deya menuruti Edward masuk ke dalam mobil.


"Dengar, aku mungkin sibuk dua hari ini jadi tidak bisa menemuimu."


Deya mengangguk, "Tidak masalah!" ujarnya santai.


"Kita baru menikah dan kau tidak bermasalah jika kita tidak menghabiskan waktu bersama? Terlalu."


"Kita bisa menghabiskan waktu dilain hari kan lalu apa masalahnya?"

__ADS_1


Edward menggaruk kepalanya kesal.


__ADS_2