
Zahra melihat Royhan mendekat ke sebuah toko baju yang sepertinya baru mulai di buka. Terlihat dari hiasan pintu toko dan pita yang baru saja di potong. Dengan langkah hati-hati Zahra melihat dari balik kaca, Royhan mendekati seorang pria, lalu menyerahkan anak kecil itu pada seorang pria.
Si kecil nampak tertawa dan pria dewasa itu mencium si kecil dengan sayang. Nampak akrab, seperti Ayah dan anak. Zahra menghela nafasnya. Dia kira itu anak dari Kak Deya dengan ayahnya. Nyatanya bukan.
Dengan langkah gontai Zahra meninggalkan tempat itu. "Bagaimana, Non?"
Zahra tidak mengatakan apapun hanya mengedikkan bahunya.
"Jangan bilang pada Ayah jika kita baru bertemu Roy."
"Kenapa, Non?"
"Bapak lihat kan Royhan seperti menghindari ku."
"Mereka pasti punya alasan tersendiri untuk menghilang dan menghindar."
'Ya, itu semua karena ku yang ingin Kak Deya pergi.'
"Memang untuk apa Non Zahra ingin tahu tentang Roy?"
"Ck bukan ingin tahu tentang Roy, tapi ingin tahu dimana Kak Deya tinggal, aku ingin minta maaf." Ada nada penyesalan dalam suara Zahra.
"Apa kita menunggu mereka selesai. Setelah itu, mengikuti kemana mereka pergi. Mungkin di sana kita bisa menemukan Nyonya Deya."
Zahra mengatupkan bibir rapat dan mengangguk. "Kalau lama, apa Ayah tidak akan bertanya," lirihnya berhenti berjalan menoleh ke belakang, ke arah toko itu.
"Kita buat alasan jika ban bocor di jalan."
Zahra tersenyum, matanya yang tadi sendu berkilat seketika.
"Pak Slamet memang benar-benar pintar." Dia menepuk lengan Sopirnya. Lalu berbalik.
__ADS_1
"Kali ini jadi mata-mata ya, Pak?" Pak Slamet mengangguk. "Kita harus sembunyi dimana ini biar tidak ketahuan kalau sedang mengintai."
Zahra celingukan mencari tempat yang tepat untuknya menunggu Roy keluar dari toko dan pulang ke rumahnya.
"Di sini, Non."
Tiga jam kemudian.
Mobil Zahra berhenti ketika melihat mobil yang ditumpangi Roy berhenti di depan jalan sebuah rumah di kompleks perumahan menengah. Seseorang dari dalam mulai membuka pintu gerbang, itu adalah Bu Ratmi. Sedangkan Angga keluar terlebih dahulu membuka pintu samping dan mengambil Dafi yang tertidur pulas dari pangkuan Roy.
Deya keluar. Mata Zahra membelalak lebar.
"Lihat Pak, itu Kak Deya," tunjuk Zahra Pak Slamet mengangguk.
Deya mendekat ke arah Angga dan mencium Dafi. Tertawa, entah apa yang mereka bicarakan tapi mereka nampak seperti keluarga yang bahagia. Zahra mengamati keluarga kecil itu dengan seksama. Tiba-tiba ingatannya kembali ketika Deya sering kali mengajaknya bercanda dulu. Hal yang saat ini tidak dia peroleh lagi. Entah itu dari ibunya atau Ayahnya. Mereka berdua terlalu terlarut dalam pekerjaan. Sehingga melupakannya. Hanya bertemu ketika sarapan saja selebihnya tidak pernah bersua.
Deya masuk kembali ke rumah dengan pinggang yang dipeluk oleh Angga. Hal itu, menjadi ciut nyali Zahra.
"Ya, Nyonya sudah tampak bahagia dengan keluarganya." Pak Slamet menatap Zahra. Anak itu nampak sedih dengan apa yang dia lihat. Matanya berkaca-kaca membuat pria itu tidak tega melihatnya. Dia mencoba menerka apa yang dipikirkan oleh anak berumur hampir empat belas tahun.
Zahra menghela nafas. "Kita pulang saja Pak, tetapi ingat jangan katakan ini pada Ayah."
Perkataan Zahra membuat Pak Slamet mengira Zahra tidak ingin istri majikannya kembali lagi pada Tuan Edward. Dia coba menghormati keputusan itu walau dalam hati ingin memberontak. Dia tahu Tuannya sampai saat ini masih mencari istrinya yang ternyata tinggal tidak jauh dari mereka.
Namun, melihat kebahagiaan mantan istri majikannya membuat Pak Slamet tidak tega untuk merusaknya lagi. Deya sudah terlalu banyak berkorban untuk kehidupan keluarga Tuan Edward. Jika dia kembali lagi nanti akan terjadi keributan seperti tiga tahun lalu. Dia juga tidak ingin seperti itu terulang kembali.
Mobil mulai bergerak mundur, berbelok dan pergi dari tempat itu. Sejenak Roy yang sedari tadi sadar diikuti Zahra menoleh ke arah mobil yang bergerak pergi.
"Apa yang akan kau lakukan lagi, Zahra? Kau sudah cukup menyakiti Kakakku."
***
__ADS_1
Hembusan angin meniup wajah. Matanya tak berkedip menatap langit. Menghela nafas lantas menatap ke sekitar. Dia memasuki kawasan dimana sebuah even besar kota ini sedang berlangsung. Perusahaannya adalah salah satu dari beberapa perusahaan yang melakukan promosi di tempat ini.
Usahanya kini sudah merambah ke berbagai sektor. Dari yang tadinya hanya sektor pertambangan saja kini mulai merambah ke dunia otomotif.
Perusahaan Edward merupakan sponsor terbesar acara ini. Jadi merupakan salah satu tamu kehormatan. Dia datang bersama dengan Pak Gubernur dan beberapa jajaran petinggi negeri ini. Rangkaian prosesi penyambutan terjadi.
Edward sedang berputar melihat jejeran stand dari beberapa usaha mikro yang berkembang pesat di daerah ini, dia asik berbincang dengan orang-orang di sebelahnya posisinya berada satu baris di belakang Pak Gubernur. Dia dikelilingi oleh pejabat serta pengusaha. Berbicara tentang perkembangan bisnis saat ini.
"Ini dia, pengusaha muda kita yang sedang sukses di dunia online. Bisnisnya berkembang pesat yang tadinya hanya beromset jutaan saja perbulan kini menjadi milyaran rupiah," seru Pak Gubernur.
Deya tersenyum. "Ini tidak bisa saya lakukan jika tidak punya tujuan yang tepat dan orang yang mendukung perjuangan saya."
Deg!
Edward seperti mengenal suaranya. Suara yang sangat dia rindukan. Dadanya mulai bergemuruh dengan keras. Memiringkan kepalanya karena pandangannya terhalangi oleh tubuh Pak Gubernur.
Nafasnya seketika berhenti ketika melihat siapa yang ada di depannya. Matanya memanas dan memerah. Ingin rasanya dia menarik tubuh Deya saat ini juga untuk memastikan apa yang dia lihat tidak salah.
'Ya, itu Deya. Dia tampak berbeda, lebih dewasa dan sedikit berisi di tempat yang seharusnya. Namun, semua itu menambah kecantikannya. Suaranya sama, ini bukan mimpi kan?' batin Edward menepuk pipinya sendiri.
"Masih muda, cantik dan cerdik," gumam sebelah Edward sambil menyenggol Edward. Edward terdiam.
"Pak Ed, kau kenapa?" tanya seseorang di sebelah Edward. Melihat ke arah tatapan Edward lalu tersenyum. Pesona wanita itu memang jelas terasa pada setiap kaum Adam yang melihatnya.
"Dia memang cantik, kita bisa berkenalan dengannya setelah ini," bisik pria itu membuat Edward sadar. Dia tidak suka wanitanya di lihat oleh pria lain. Edward mengepalkan tangan.
Pak Gubernur berjalan pergi setelah sempat menanyakan tentang barang yang Deya pajang di event ini. Barang-barang kerajinan yang telah dimodifikasi. Miniatur satu set alat musik warga betawi. Lalu baju dan kaos yang bertemakan dengan kesenian kota Jakarta.
Deya terlihat menghembuskan nafas lega setelah Pak Gubernur melewatinya. Satu tangan memegang pundaknya dari belakang.
Deg!
__ADS_1
Bau wangi parfumnya sangat dia kenal dan dia rindukan. Tubuhnya membeku seketika. Seolah ada aliran listrik yang membuatnya menegang dan tidak bisa bergerak.