Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 91 Kecewa


__ADS_3

Edward bergerak maju ke depan menatap Deya. Bibirnya tidak bisa mengatakan apapun bahkan untuk menyebutkan namanya. Hingga dia hendak memeluk Deya.


"Jangan... ku mohon jangan mendekat," ucapnya parau melihat ke arah sekitar dengan takut. Bibirnya yang terkatup, bergetar. Pupil matanya membesar, sambil menahan tangis yang hendak keluar setengah mati.


"Aku sudah berusaha untuk bangkit hingga sejauh ini, jangan kau hancurkan... ku mohon," suara Deya terdengar memelas dan memohon.


Edward terkejut mendengar permintaan Deya. Dia tidak tahu apa salahnya kenapa Deya berubah seperti ini? Apakah dia tidak punya arti bagi wanita ini hingga di buang jauh dan tidak ingin di dekati lagi.


"De...." panggilnya berat. Hanya itu yang bisa dia ucapkan.


"Ku mohon, pergilah. Anggap kita tidak pernah saling mengenal," ucap Deya dengan sesak.


Edward memegang rahangnya dan memalingkan wajah. Tidak saling mengenal? Yang benar saja? Dia bahkan mengenal setiap lekak lekuk wanita ini dengan baik, kesukaannya, apa yang tidak dia sukai, semuanya. Edward membasahi bibir bawahnya yang kering. Tidak tahu harus berkata apa. Dadanya mulai terasa panas. Ingin rasanya dia menculik Deya dan membawanya pergi dari sini saat ini juga, berbicara banyak dengannya. Namun, semua terasa tidak mungkin di tengah keramaian.


Deya nya bukan wanita biasa yang dia kenal dulu. Dia telah berubah menjadi pembisnis wanita yang sukses seperti impiannya. Edward bangga, tetapi di sisi lain dia sedih. Wanitanya bukanlah istrinya yang dulu. Apakah wanita yang sukses akan selalu seperti itu?


"Aku...." Perkataan Edward terhenti ketika melihat Angga datang membawa seikat bunga, memeluk serta mencium pipi Deya. Tangan Edward terkepal erat.


"Maaf, aku terlambat. Ibu yang membuatku terlambat datang karena menyiapkan sarapan untukmu. Kau tadi tergesa-gesa hingga tidak makan pagi kan? Aku juga membeli ini untukmu. Selamat ya, aku selalu tahu kau pasti bisa melakukan semuanya dengan baik."


"Terimakasih." Deya tersenyum kecut lantas menatap ke arah Edward. Angga mengikuti arah pandang Deya. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat sosok tinggi besar di belakangnya.


"Tuan Edward Triatmojo," ucap Angga tersenyum lebar. Dia menyembunyikan keterkejutan dan ketidak sukaannya.


Di saat Edward hendak berbicara, Satria datang mendekat.


"Tuan Edward, Pak Gubernur sebentar lagi di stand milik kita. Sebaiknya kita ke sana untuk menemuinya."


Satria nampak terkejut menatap Deya. Dia balik menatap Tuannya. Edward lantas membenarkan jasnya yang tidak kusut.

__ADS_1


"Baiklah, Nona Deya. Stand milikmu sangat menarik. Nanti aku akan mengunjunginya. Aku harap kau bersedia menjelaskan semua barang yang kau tawarkan padaku agar kita menemukan kesepakatan. Aku selalu tertarik berbisnis denganmu."


Edward lantas pergi dari tempat itu. Deya sendiri langsung lemas dan mencari pegangan. Dia memegang dadanya yang sesak sedari tadi. Memutar tubuhnya dan bergerak pergi dari tempat itu.


"De, kau baik-baik saja?" Angga membantu Deya berdiri. Di saat itu, Edward melihatnya dari jauh sehingga mereka terlihat seperti sedang berpelukan.


"Aku mau ke toilet," ucap Deya. Dia merasa butuh ruang untuk melepaskan emosi yang menyerang dadanya.


"Tolong bantu aku layani pengunjung yang datang."


Deya merasa tenang, seharian ini dia tidak diganggu oleh Edward, bahkan dia tidak melihat pria itu lagi.


"Bagaimana penjualan hari ini?"


"Sangat bagus, aku bahkan mendapatkan klien baru dari Jepang dan beberapa negara Afrika serta Brasil," jawab Deya sembari membereskan semua barang-barangnya.


"Wow, usaha kita akan berkembang dengan bagus."


"Tidak apa-apa demi kemajuan usahamu dan demi masa depan Dafi juga nantinya."


Deya mengangguk.


"De, kau pulang ikut aku saja," kata Angga.


"Tidak, aku bawa mobil sendiri," tolak Deya. Pikirannya sedari tadi kacau, dia ingin punya waktu sendiri.


"Kau yakin mantan suamimu tidak akan mengganggu?"


"Dia belum mengatakan cerai padaku, Ngga!"

__ADS_1


"Tapi kalian sudah berpisah lama."


Deya terdiam.


"Sebentar ibuku menelfon." Angga menerima telfon dari ibunya. Tidak lama kemudian dia balik dengan wajah cemas.


"De, aku tinggal dulu ya. Ayahku kumat lagi harus di bawa ke rumah sakit."


"Ya, Tuhan apakah parah?" tanya Deya khawatir.


"Tidak tahu tapi kata ibu, Ayah masih sadar hanya dadanya terasa nyeri," terang Angga. Ayah Angga memang sering sakit-sakitan sehingga semua usahanya kini dipegang sepenuhnya oleh Ibu Angga dan Angga.


"Semoga semua baik-baik saja," do'a Deya. Angga mengangguk.


"Aku pergi dulu, De." Angga mencium pipi Deya.


"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut."


"Iya, cantik."


Di sudut lain, dalam diam Edward memperhatikan apa yang Deya kerjaan sedari tadi. Dia merasa tidak terima ketika Deya berlaku mesra pada pria lain.


"Kenapa De, kau pergi. Apakah karena dia? Apakah semua cintaku tidak cukup sehingga kau mencari kebahagiaan pada pria lain?"


Hati Edward hancur menjadi berkeping-keping. Ini terasa lebih sakit dari yang dia rasakan ketika Soraya berkhianat padanya.


Setelah menutup stand jualannya. Deya bergerak ke arah parkiran mobil. Suasana terlihat ramai karena ada konser musik dan belum selesai.


Dengan sedikit sulit Deya melewati rombongan anak muda yang ingin melihat konser. Mereka nampak terlihat senang tanpa beban. Hal itu yang dia rindukan dari masa muda yang indah.

__ADS_1


Deya tersenyum sendiri, dia hendak sampai ke mobilnya ketika sebuah mobil menghampiri dan pintu terbuka. Deya terkejut ketika melihat siapa yang ada di depannya, belum juga dia sadar dari keterkejutannya. Tangan dan tubuhnya ditarik masuk ke dalam, seseorang yang berada di belakang Deya membantu penculik memasukkan Deya. Mulutnya ditutup oleh sebuah tangan besar.


__ADS_2