
Begitu sampai di hunian mereka Deya langsung berjalan ke dapur, tetapi langkahnya terhenti ketika Edward mengatakan sesuatu.
"Kau tidak perlu membuatkan kopi atau apapun untukku, aku hanya membutuhkanmu sekarang." Perkataan Edward benar-benar membuatnya terpukul. Pria itu memang terlihat sangat merindukannya. Apakah dia bisa melepaskan pria sebaik itu. Dadanya mendesir sakit.
Dalam dua langkah Edward sudah ada dibelakang Deya, menariknya dalam pelukan, melingkarkan sebelah lengan ke dada dan sebelah lagi ke pinggang.
"Maafkan aku...," bisik Edward sambil menunduk mengecup leher wanita itu. "Karena meninggalkanmu sendiri selama dua hari ini."
Deya mengepalkan tangannya erat. Perpisahan ini terasa berat untuknya. "Mas" Dia berbalik dalam pelukannya, melingkarkan kedua lengan di leher Edward dan dengan rasa putus asa, setajam rasa sakit di matanya, menarik kepalanya mendekat.
"Jangan banyak bicara, aku merindukanmu, sangat merindukanmu," gumam Deya di bibir Edward. Meremas rambut bawah pria itu.
__ADS_1
Begitu kehangatan tubuh Deya menjalar di tubuh Edward, dia mulai bereaksi yang selalu dia alami dengan rasa dan sentuhan itu. Deya adalah bidadari yang ada dalam mimpinya semenjak dulu dan kini terwujud hadir ke dunia ini.
Deya mencium bibir Edward, menikmati sesuatu yang dia rindukan tetapi tidak boleh dia miliki.
"Mas," bisik Deya serak. Tidak ada kesedihan untuk malam ini biarkan dia bahagia walau hanya satu malam saja menikmati kebersamaan mereka yang tinggal satu malam ini saja. Dia hanya ingin memberikan yang terbaik pada suaminya untuk terakhir kalinya. Memberikan kasih sayang mungkin cinta yang baru dia sadari ketika akan berpisah dengannya.
Edward mengangkat tubuh Deya dan membawanya ke lantai atas tepat dimana kamar mereka berada. Membuka pintu dan melihat tempat tidur dengan cahaya lampu yang lembut menerangi kamar mereka.
Dahaga ada di mata Deya ketika melihat suaminya sudah siap bertempur dengannya. Dia duduk di sebelahnya pinggul wanita itu dan membungkukkan tubuh menatap Deya.
"Aku merindukanmu," bisik Edward. Dengan jemari yang merayap dari atas hingga ke bawah. Membuat tubuh Deya menegang.
__ADS_1
"Kali ini biar aku saja yang melakukannya," pinta Deya. Edward menyelipkan jemarinya ke rambut Deya dan memeluk serta berguling hingga posisi mereka berubah. Deya yang berada di atas tubuh keras Edward.
Dengan terus menatap Edward, Deya mulai membuka penutup tubuhnya dengan gerakan perlahan dan menggoda. Edward melipat tangan ke belakang kepalanya menikmati pertunjukan yang ada di depannya.
"Kau cantik jika seperti itu."
"Bukankah aku selalu kelihatan cantik, itu yang sering kau katakan." Deya mulai menempelkan mulut ke bagian tubuh sensitif Edward. Membuat syaraf elektrik dalam tubuhnya menyala mendorong hasrat sek$$$ yang membara dalam tubuhnya dan nyaris buta karena gairah.
"Deya...." erangnya menikmati setiap pelayanan yang diberikan oleh Deya. Kali ini terasa berbeda, itu yang Edward rasakan. Serasa ada yang salah tapi apa itu. Edward tidak mau ambil pusing. Dia hanya ingin bergerak, dan bersatu bersama wanita itu. Membuat peluh membanjiri tubuh mereka berdua.
Ini yang selalu terjadi jika dia bersama dengan Deya. Deya selalu membuatnya gila dengan semua kemurahan hati yang dia perlihatkan baik di dalam kamar atau di luar kamar. Deya memanjakan dan menggetarkan dirinya dengan sentuhan dahsyat. Hingga kenikmatan tidak terbatas itu akhirnya berubah menjadi sebuah keputus asaan yang ada dalam diri Deya. Bahwa hal ini sebagai kado perpisahan darinya untuk suami tercinta.
__ADS_1