Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 103 Restu


__ADS_3

Deya dengan berat hati pergi meninggalkan rumahnya. Rai dan Roy nampak keberatan dengan keputusan kakaknya. Namun, mereka tidak bisa mencegah karena itu kewajiban dan hak sang kakak untuk ikut suaminya pergi.


Mereka membantu sang kakak berkemas dan memasukkan pakaian dan barang lain ke dalam mobil walau dari awal Edward mengatakan jika semua keperluan Deya dan Dafi sudah disiapkan semua di rumahnya.


"Dafi yang baik di sana ya, jangan rewel." Ibu Ratmi mengusap air matanya. "Kok jadi sedih begini, kayak kehilangan padahal cuma beda rumah aja."


Pak Seto mengusap punggung istrinya.


"Aku juga enggan berpisah dengan kalian, Bu dan Yah," ujar Deya memeluk orang tuanya.


"Tapi kau sudah harus ikut dengan suamimu," kata Pak Seto tersenyum sedih namun ikut bahagia walau itu belum sempurna.


Mereka akhirnya pergi dari rumah Deya. Dafi duduk dipangku oleh Deya. Edward sendiri tersenyum lega melihat istri dan anaknya akhirnya bisa dibawa pulang kembali.


"Kok pergi malam-malam, Bu?" tanya Dafi.


"Kita pulang ke rumah Dafi," kata Edward.


"Rumah?"


"Hmmm, rumah Ibu dan Ayah kalau itu rumah Uti dan Kakung," terang Edward tapi Dafi belum mengerti.


Tanpa sadar melewati sebuah mobil sedan yang terparkir tidak jauh dari rumah Deya. Dua orang pria nampak duduk di dalam mobil itu salah satu berbicara dengan seseorang melalui air phone.


"Bos, Tuan Ed memang mendatangi rumah wanita itu dan sepertinya akan membawa wanita itu pergi dengan seorang anak kecil."


"Kalian awasi mereka dan beritahu apa saja yang mereka lakukan."


***


"Lho kita mau kemana?" tanya Deya pada Edward karena tahu ini bukan jalan yang harus mereka lalui untuk sampai ke hunian mewah milik mereka.


"Kita akan menjemput Zahra."


"Dimana? Rumahmu?" tanya Deya sewot.


"Bukan sayang, kita lihat saja nanti."

__ADS_1


"Aku paling benci dengan teka-teki."


"Aku tidak menyuruhmu menebak hanya menyuruhmu bersabar."


Deya meletakkan kepalanya di jendela pintu. Mengusap kepala Dafi yang sudah tertidur semenjak tadi.


Satu tangan Edward menggenggam tangan Deya dan meremas nya. Mereka terdiam hingga sampai di depan pintu gerbang berwarna putih yang tinggi. Edward menyalakan klakson. Seseorang mulai mengintip dari lubang pintu dan membuka pintu gerbang. Dia memberi hormat ketika mobil Edward mulai melewatinya dan masuk ke halaman. Terdapat rumah yang lebih cocok seperti kastil berwarna putih.


Edward mematikan mesin mobil. Deya menoleh ke arah suaminya. Edward tersenyum balik menatapnya. Tangannya merapikan rambut di dahi Deya.


"Zahra ada di rumah orang tuaku."


Wajah Deya memucat seketika. "Mas, ini bukan pilihan yang tepat."


"Kenapa?"


"Aku belum siap," jawab Deya putus asa. Dia tidak bisa pergi dari sana, tetapi dia juga tidak punya wajah untuk menemui orang tua pria itu. Apa yang akan Ibu Edward katakan nanti padanya. Hatinya mulai tertekan.


"Ada aku kita mulai saling percaya untuk mulai menghadapi dunia. Di mulai dengan keluargaku. Jika mereka tidak menyetujui hubungan kita, aku yang akan berada di depanmu, menjadi perisaimu. Jadi percayai aku dan jangan takut."


Deya merasa terharu mendengar ucapan suaminya. Dia menghela nafas, panjang menata hati untuk menghadapi apa yang akan terjadi nanti.


Edward menggandeng tangan Deya berjalan ke arah kedua orang tuanya yang sudah menunggu di depan pintu.


"Ed? Deya? Itu?" Hanya itu kata yang keluar dari Mama Claudia. Wanita itu lantas mendekat ke arah Dafi dan melihat wajahnya.


"Dia?" Wajah wanita itu nampak berbinar berbeda dengan apa yang Deya bayangkan. Mulutnya ditutup dengan tangan karena terkejut.


"Dia anak Edward dengan Deya."


Papa Adam ikut mendekat melihat ke arah Dafi dan menyentuhnya.


"Cepat bawa dia ke kamarmu," kata Mama Claudia. "Ehm, jangan ke kamar tamu saja dekat kolam renang." Kamar Edward ada barang-barang Soraya, Mama Claudia tidak ingin hal itu membuat Deya tidak nyaman.


"Ma," Deya mencium punggung tangan mertuanya bergantian. "Pa." Lalu mengikuti Edward.


Mereka masuk ke kamar yang dituju. Meletakkan Dafi di atas tempat tidur. Mama Claudia mendekat untuk melihat cucunya secara dekat. Tersenyum ketika menyentuh wajah Dafi.

__ADS_1


"Bentuk matanya seperti Ed ya, Pa?" Mama Claudia menoleh ke arah suaminya yang berdiri tegap di sebelahnya. Keduanya nampak bahagia. Hal itu membuat perasaan Deya sedikit tenang.


Edward mendekat dan menggenggam tangan Deya. Wanita itu menoleh melihat suaminya tersenyum menenangkan. Deya menghela nafas lega. Ini tidak seperti dugaannya tadi yang berpikir jika mertuanya akan tidak senang melihatnya datang.


"Siapa namanya?" tanya Mama Claudia.


"Dafi Pandu," jawab Deya.


"Xavier," imbuh Papa Adam. Deya mengangguk.


"Umurnya berarti dua tahun lebih?"


Deya mengangguk.


"Kau tidak bilang jika?" Mama Claudia menghentikan pembicaraannya menatap ke arah suami dan anaknya.


"Aku baru tahu setelah pergi," jawab Deya berbohong tidak ingin mertua wanitanya dalam masalah.


"Jika kami tahu kau sedang hamil kami tidak akan membiarkan kau pergi," ujar Mama Claudia merasa bersalah.


"Hamil atau tidak, Deya adalah istriku. Dia tidak boleh pergi dari hidupku selamanya." Edward mengatakan dengan posesif.


Mama Claudia tersenyum masam. Entah apa yang akan Edward lakukan jika tahu dia yang meminta Deya untuk meninggalkan anaknya. Wanita itu merasa sesak karena rasa bersalah.


"Dia sangat lucu dan tampan, mirip sepertimu walau mirip Deya juga," ujar Papa Adam memperlihatkan rasa bangga menatap cucu lelaki yang dia harapkan kehadirannya dalam diam. "Terimakasih Deya kau mengasuh dan menjaganya dengan baik. Pasti semua yang terjadi selama ini tidak mudah untuk kau jalani dan lalui."


Deya terpana mendengar kata-kata Papa Adam. Edward memeluk Deya dari belakang. "Istriku memang hebat. Dia juga telah berhasil dalam hidupnya. Dia mendirikan usaha sendiri dan telah besar padahal dia sedang membesarkan anak kecil."


"Oh ya?" tanya Mama Claudia terkejut.


"Ya, kemarin sempat mendapatkan penghargaan dari bapak gubernur karena telah mengembangkan usaha rakyat betawi berupa baju dengan gambar tentang kebudayaan betawi dan juga miniatur alat musiknya."


"Ada sebuah hal positif yang didapat dari sebuah kejadian. Mungkin masalah kemarin membuat Deya terpecut untuk menjadi lebih baik lagi."


Deya merasa senang dengan sambutan hangat mertuanya.


"Kalian kesini untuk menginapkan?" tanya Mama Claudia.

__ADS_1


Deya melihat ke arah Edward.


"Ya, aku ingin mengenalkan Dafi pada kalian. Bukankah kalian menginginkan cucu lelaki sekarang aku sudah memberikannya. Satu lagi, aku memberitahu jika aku sudah melayangkan gugatan cerai pada Soraya dan berniat akan menikahi Deya secara sah. Aku harap Papa dan Mama merestui kami."


__ADS_2