Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 38 Orang ketiga


__ADS_3

Edward sengaja pulang lebih awal dari biasanya untuk bisa melihat interaksi Deya dan keluarganya. Dia langsung masuk ke dalam rumah mencari dua wanita yang disayanginya. Dia berharap Deya tidak menemui kesulitan ketika bersama dengan keluarganya.


"Tuan Lee apa kau melihat Zahra?" tanya Edward sebelum pria tua itu menyapa.


"Nona Zahra bersama dengan Nyonya besar di belakang."


"Oh." Edward melangkahkan kaki ke arah halaman belakang setelah menyerahkan jas dan tas kerjanya pada Mr Lee. Pria keturunan Chinese yang dia pekerjakan sebagai kepala pelayan rumah ini. Pria ini telah bekerja di keluarganya sedari Edward dalam kandungan ibunya. Edward sendiri sangat menghormatinya pria itu seperti dia menghormati ayahnya. Oleh sebab, sedari kecil, Mr Lee yang lebih banyak menemaninya daripada orang tuanya yang sering bepergian keluar negri untuk mengurus bisnis mereka.


"Apalah mentor baru itu sudah datang?" tanya Edward.


Belum sempat Mr Lee menjawab Edward sudah melihat Deya sedang tertawa bersama dengan Zahra dan ibunya. Vibes wanita itu memang positif bisa membuat orang didekatnya merasa senang dan nyaman. Dalam hatinya, Edward bangga mempunyai Deya.


"Nona Deya sudah datang kemari tadi siang, dia-," belum sempat Mr Lee menjawab pertanyaan Edward pria itu sudah memberi tanda lewat tangannya bahwa dia sudah tahu jawabannya.


"Nona Zahra terlihat senang bersama dengan Nona Deya." Mr Lee mulai menebak tatapan Edward yang tetap fokus pada Deya.


"Dia memang wanita yang menyenangkan." Edward lalu ikut bergabung dengan tiga wanita yang penting bagi hidupnya.


"Ed? Kau darimana saja. Kau tidak pulang semalam, sampai Zahra menunggumu pulang hingga larut malam."


"Maaf Bu, ada banyak pekerjaan yang tersisa sewaktu aku keluar kota kemarin. Jadi aku menyelesaikannya semalam di kantor."


"Jadi kau tidur di sana?" tanya Mama Claudia.


"Hmm, aku tidak khawatir pada Zahra karena ada Ibu yang pasti akan menemaninya." Edward memeluk ibunya.


"Dasar anak nakal."


Deya tersenyum tipis melihat kehangatan dalam keluarga Edward.


"Hai, Cintaku, Manisku, maaf Ayah tidak pulang semalam. Ayah banyak sekali pekerjaan." Edward sedikit melirik ke arah Deya yang berdiri di belakang Zahra.


"Apakah pekerjaan itu lebih penting dari aku?" ungkap Zahra berkacak pinggang.


"Tentu tidak, Sayang, kau akan selalu jadi prioritas Ayah."


"Selama adikmu belum hadir ke dunia ini," celetuk Mama Claudia.

__ADS_1


Zahra menekuk wajahnya.


"Lihatlah, dia tidak pernah suka jika membicarakan tentang adik," tunjuk Mama Claudia pada Zahra.


"Ih, Eyang. Tidak ada adik saja Ibu dan Ayah sudah sibuk dengan pekerjaan mereka dan melupakan aku. Apalagi jika ada adik," ujar Zahra.


"Dia takut jika kasih sayang orang tuanya dibagi dengan saudaranya," bisik Mama Claudia pada Deya membuat Deya tersenyum, meringis. Inikah alasan Edward tidak mau jika dia hamil. Bukan karena status hubungan mereka tetapi dia ingin menjaga perasaan Zahra yang rapuh.


Pikiran buruknya tentang Edward yang tidak perhatian karena selalu pergi setiap malam. setelah mereka bercinta lenyap sudah. Dia langsung pulang karena cemas Zahra menunggunya pulang hingga larut malam. Tipe pria yang sangat sayang pada keluarganya. Deya menatap Edward tanpa berkedip.


"Oh, ya Ayah terimakasih kejutannya."


Edward menatap ibunya. "Kejutan apa?"


"Karena telah membawa Kak Deya kemari sebagai mentor ku. Aku jadi punya seorang guru yang bisa menjadi teman." Zahra menoleh ke belakang.


Edward melihat ke arah Deya. "Ayah tidak sengaja melihatnya di kantor dan menawarinya untuk membantu ayah di rumah saja. Membantu mengurusmu."


"Bukankah seharusnya dia magang di perusahaanmu bukannya dipekerjakan di rumah?" pikir Mama Claudia.


"Memang, tapi aku menyalahgunakan kekuasaanku karena Zahra lebih butuh dia daripada perusahaanku. Benar kan, Sayang," ujar Edward. Zahra mengangguk senang.


"Ini sudah sore, saya ijin pulang terlebih dahulu," pamit Deya pada semua orang di rumah itu.


"Eits, tunggu dulu. Malam ini kau ikut makan bersama kami sebagai rasa terimakasih karena telah menolong cucu kami."


Deya terdiam, hanya menatap mereka semua. Lalu tertawa kecil canggung. "Tidak usah, itu bukan sesuatu hal yang...," terhenti karena Edward menatapnya tajam, "yang besar. Rumah saya cukup jauh dari sini jadi saya harus pulang lebih awal karena naik kendaraan umum," lirih Deya.


"Memang di mana rumahmu?" tanya Mama Claudia.


"Depok." Deya memberitahu alamat orang tuanya.


"Itu tidak sampai satu jam perjalanan."


"Saya naik kendaran umum, Bu," ucap Deya takut-takut.


"Nanti biar diantarkan sopir," ujar Papa Adam.

__ADS_1


"Karena kita yang mengundang, aku yang antarkan tidak apa-apa," cetus Edward.


Semua orang melihat ke arah Edward. "Itu ide yang bagus, sudah tidak ada masalah lagi kan?" tanya Mama Claudia.


"Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita."


"Aku mau mandi dulu," kata Zahra.


"Biar kakak bantu," kata Deya.


"Aku punya pelayan sendiri yang akan mengurusku, Kak. Kakak di sini saja." Deya nampak kebingungan.


"Istirahatlah karena jam kerjamu sudah selesai," kata Edward.


"Aku belum sholat ashar," ungkap Deya.


"Ada tempat sholat di lantai dua, kau bisa sholat di sana," tunjuk Pak Adam.


"Aku akan ke kamar sekalian menunjukkan tempatnya padamu." Edward berjalan terlebih dahulu dengan gaya dinginnya. Deya mengucapkan permisi pada Papa Adam lalu berlari mengikuti langkah Edward.


Sampai di lantai atas, Edward memastikan tidak ada orang. Dia lantas menarik tangan Deya memasuki kamarnya. Segera menutup pintu.


Memeluk Deya. "Awal yang baik," bisiknya di dekat telinganya.


"Mas, nanti ada yang melihat aku masuk kemari, " ungkap Deya takut.


"Tidak ada orang yang melihat." Bibir Edward berjalan menulusuri pipi Deya hingga sampai bibirnya. "Aku merindukanmu seharian ini. Kopi yang pegawai ku buatkan tidak semanis kopi buatan mu."


Bibir Edward mulai ******* bibir manis Deya yang mungil namun berisi. Mereka mulai menikmati pergumulan antar lidah ditambah dengan tangan Edward yang mulai masuk ke dalam blush Deya dan bermain di sana ke dalam aset berharga wanita itu.


"Sudah, cukup," ucap Deya melepaskan diri dari Edward. Dia sangat mudah terpancing jika disentuh oleh Edward dan selalu tidak bisa menolak keinginan pria itu.


Pandangan Deya lantas tertuju pada foto besar pernikahan Edward dan Soraya yang ada dalam kamar itu. Entah mengapa hatinya merasa sakit. Pasangan dalam foto itu, terlihat mesra dan bahagia. Itu baru pernikahan sedangkan dia?


'Ya, Tuhan, kau harus tahu diri Deya, siapa dirimu. Tidak seharusnya kau bermimpi untuk bisa seperti itu.'


Ada perasaan bersalah dalam dadanya ketika dia melihat foto itu. Ini kamar Edward dengan istri pertamanya, tidak seharusnya dia masuk kesini dan berbuat ini.

__ADS_1


Edward seperti tahu apa yang Deya pikirkan. Dia mengacak rambut Deya dan mencium keningnya. "Jangan merasa bersalah seperti itu."


"Aku tidak seharusnya berada di sini. Ini tempat pribadimu dengan istrimu. Aku yang orang ketiga tidak boleh masuk ke sini."


__ADS_2