
Kondisi Mama Claudia semakin membaik sehingga rencananya mereka akan membawa Mama kembali ke rumah.
Seminggu berada di rumah sakit Deya selalu menunggu mertuanya karena hanya dia anggota keluarga wanita. Dia merawat Nyonya Claudia seperti ibunya sendiri. Memberi makan sampai membersihkan semuanya dia lakukan dengan tangannya sendiri. Ketika Edward menyarankan untuk memakai jasa perawat Deya menolak dengan alasan Ibu Edward adalah Ibunya juga. Jika Edward melarangnya itu sama saja dia melarang Deya untuk berbakti pada ibunya sendiri. Edward speechless, dia merasa bangga dan terharu terhadap pemikiran Deya.
Mereka sampai di kediaman Papa Adam. Deya nampak terkejut ketika melihat Soraya keluar dari rumah dengan ditemani Zahra.
Mengapa wanita itu terus ada dalam kehidupannya? Batin Deya kesal. Ingin rasanya dia menyeret keluar Soraya tapi dia tidak punya hak apapun.
Anak Pak Lee membantu menaikkan Mama Claudia ke kursi roda. Keadaannya sama sekali belum menemui perubahan masih sama. Mama Claudia terkena penyakit stroke.
"Mama, aku senang sekali melihatmu sudah pulang ke rumah. Aku sudah membuat rumah berbeda untuk menyambutmu datang," ucap Soraya panjang lebar.
Keterkejutan Deya kembali lagi. Di dalam rumah nampak berjejer rapi beberapa anak kecil berpakaian putih. Sepertinya mereka dari sebuah panti asuhan karena ada orang dewasa yang mengkoordinir mereka.
__ADS_1
"Aku membawa mereka untuk melakukan doa di rumah ini. Tujuannya agar setiap langkah Mama kali ini dilindungi berkah dengan doa mereka."
Mama Claudia hanya terdiam. Papa Edward tersenyum. "Terimakasih Soraya. Kau sudah mulai berubah lebih baik sekarang."
Soraya tersenyum manis. Ketika Mama lebaat satu persatu anak memberikan doanya. Mama sendiri langsung di bawa ke kamar setelahnya agar tidak terlalu lelah sedangkan Soraya menyuruh para anak itu makan.
"Terimakasih, Aya atas semua yang kau lakukan."
"Bagaimanapun Mama masih kuanggap sebagai ibuku sendiri. Aku ikut sedih melihat keadaan Mama seperti itu." Soraya menyeka matanya. Deya hanya bisa menghela nafas dan memutar bola matanya, kesal.
Deya melemparkan diri ke tempat tidur dan mulai menangis. Ingin dia marah tapi apa yang harus dia katakan jika Edward bertanya. Namun, hatinya sakit dan marah jika Soraya datang mendekat.
Edward masuk ke dalam kamar dengan pelan lalu menutupnya lagi dari dalam. Dia melihat Deya tidur tengkurap di tempat tidur. Menghampiri dan mengusap punggung wanita itu.
__ADS_1
"Kau lelah, Sayang? Jika kau lelah sebaiknya istirahat. Namun, sebelum itu ganti bajumu agar lebih segar dan bau bekas rumah sakit hilang."
Edward melihat tubuh Deya bergetar. Lalu membalikkan tubuhnya dan terkejut tatkala melihat air mata membasahi pipinya.
"De, kau kenapa?" tanya Edward. Bukannya menjawab Deya malah tambah keras tangisannya.
"Apakah aku melakukan kesalahan yang membuatmu terluka?"
"Oh, tunggu jangan-jangan kau menangis karena Soraya. Apalagi yang dia lakukan padamu?" Deya menggeleng.
"Lalu?"
Deya memeluk Edward dengan erat. Pria itu nampak khawatir terjadi apa-apa dengan Deya. Dia juga langsung tanggap jika ini ada kaitannya dengan Soraya. Deya memeluk suaminya erat.
__ADS_1
"Katakan apa yang membuat kau sedih? Apa karena Mama?"
Deya menggeleng dalam pelukan Edward. Entah mengapa moodnya kini bisa berubah drastis lebih emosional. Deya biasanya sabar kali ini jika ada Soraya, dia hanya ingin marah dan menangis saja.