
"Katakan aku tidak bisa main tebak-tebakan."
"Jika aku mengatakannya apakah kau akan marah?" tanya Deya menyeka air matanya.
"Tentu saja tidak. Kau adalah cinta dan hidupku lalu bagaimana aku bisa marah padamu?" tanya Edward memeluk dan mencium rambut Deya.
"Apakah aku dikatakan egois jika aku tidak suka mantanmu dekat dengan keluarga ini? Itu menyesakkan dadaku. Sepertinya tadi, dia seperti malaikat yang datang membawa berkat sedangkan aku? Aku itu merasa kecil."
"Jadi hanya karena itu?"
"Hanya? Bagaimana jika Angga sering datang ke rumah Ibu dan kami sering bertemu apakah kau akan menganggapnya hanya?'' ucap emosi Deya.
"Kenapa nama pria itu kembali lagi diantara kita? Apakah kau ada rencana dengannya?" kini giliran Edward yang menuduhnya.
"Oh, ayolah kita bicara tentang apa dan kau jangan membuatnya rumit."
Edward terdiam lantas berpikir.
"Aku tidak bisa mencegah Soraya datang ke rumah ini jika niatnya untuk bertemu dengan Zahra dan orang tuaku."
Deya semakin menekuk wajahnya.
"Tapi aku punya satu solusi untuk itu. Aku akan meminta kau saja yang menemuinya jika dia datang. Hm aku tidak akan berbicara dengan mantanku lagi jika kau keberatan karena hubungan kami sudah bukan muhrim lagi. Kita juga bisa membatasi kunjungan dengan menentukan harinya. Misal setiap akhir pekan saja. Bagaimana menurutmu, apakah kau siap dengan tambahan pekerjaan ini?"
Deya terdiam.
__ADS_1
"Kau ingin Soraya tahu bahwa kau lah Nyonya rumah ini bukan dirinya lagi dan dia tidak boleh seenaknya saja keluar dan masuk rumah lalu merencanakan sesuatunya tanpa seijinmu."
"Apakah itu tidak berlebihan?" tanya Deya yang malah bimbang.
"Ini tidak berlebihan karena kini kau adalah Nyonya rumah ini yang akan mengurus semuanya. Kau lihatkan, Ibu sudah tidak bisa melakukan apapun." Deya mengangguk mengerti.
"Sekarang hentikan tangismu! Ini jika kau setuju kau akan terlihat jelek nantinya." Edward mengusap wajah Deya dengan tangannya.
"De, pipimu terlihat tambah lebar." Mata Deya membesar seketika melihat ke arah cermin.
"Apa aku bertambah gemuk?" tanya khawatir.
"Kurus atau gemuk sama saja bagiku karena kau adalah wanita tercantik yang kumiliki."
"Gombal akh!"
"Apa maksud, Mas?"
"Coba kau sudah telat berapa bulan?" tanya Edward.
"Kau ingat semenjak kita bersama di Bali,kau belum mengalami haid lagi?"
Deya tertegun sejenak.
"Sebenar aku sudah memikirkan ini dari sebelum Ibu sakit. Namun, kau tahu sendiri jika kita lebih fokus pada kesehatan Ibu dari pada diri kita sendiri."
__ADS_1
Deya mengangguk. Edward mengusap perut wanita itu lembut.
"Aku harap pikiranku benar jika kau sedang hamil sekarang ini."
"Apakah tidak apa-apa?"
"Hem kalau aku jadi jelek selama hamil bagaimana apakah kau akan mencari madu lagi?"
"Kau ini bicara apa?"
"Jika aki hamil badanku akan terus membengkak."
"Kau akan bertambah cantik dan seksi percayalah. Jangan pernah berpikir jika aku akan menduakanmu. Aku tidak akan mungkin membuang sebuah permata untuk sesuatu yang tidak pasti. Kau itu lebih berharga di mataku dari pada apapun jadi jangan pernah lagi memikirkan hal-hal aneh. Lebih baik sekarang kita periksa apakah kau hamil betulan apa tidak," ucap Edward.
.
"Apakah kita akan ke dokter?"
Edward lantas membuka tas kerjanya yang dia taruh di atas meja. Mengeluarkan satu kantong plastik kecil yang isinya testpack semau model dan merk. Deya terpaku melihatnya.
Edward mengangkat Deya ke kamar mandi.
"Sekarang kita lihat apakah baby sudah masuk ke dalam perutmu jika iya maka papanya akan sering menengok."
"Ih maunya."
__ADS_1
***
Lagi slow aja ya updatenya nanti pertengahan bulan baru kejar bab lagi. Okey. Siip. Masukkan favorit, like jangan lupa kasih komentar sebagai hadiah untukku. Love you much...