Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Biang Masalah


__ADS_3

"Aku tidak tertarik dengan tawaranmu. Kau kira aku barang yang bisa kau jadikan mainan lalu kau buang bila bosan!"


"Lalu kau mau apa? Mau menikah? Ayuk. Dulu kau menawarkan hal itu kan?" Edward melihat ke arah Deya dan menggerakkan kedua alisnya.


Lagi-lagi Deya terkejut dengan perilaku Edward yang jauh dari penampilan luar, yang cuek, dingin dan tidak tersentuh.


"Aku tidak mau, tawaran itu sudah lewat masanya. Sudah kadaluwarsa."


"Siapa tahu masih berlaku tawaran itu."


"Dulu aku sedang kefefet. Sekarang tidak butuh lagi."


"Berarti nunggu kau butuh lagi nih. Okey. Kalau sudah butuh hubungi aku." Wajah Deya langsung di tekuk seketika. Edward menahan tawanya karena berhasil menggoda wanita itu.


Deya gemas sendiri berbicara dengan Edward. Untung saja mereka sudah sampai rumah jadi tidak perlu diperpanjang lagi pembicaraan itu.


Deya hendak membuka pintu namun masih terkunci. Dia menatap penuh harap pada pria didepannya.


"Tolong buka pintunya."


"Panggil dulu Mas, baru akan kubukakan."


Deya menghembuskan nafas kasar. "Mas, tolong buka pintunya."


"Baiklah sesuai dengan permintaanmu. Simpan nomerku jika kau butuh sesuatu hubungi aku saja."


Deya membalikkan tubuh hendak membuka pintu.


"Deya... kau tidak mengucapkan terimakasih padaku karena telah mengantarkan." Edward mematikan lampu mobil.


Deya kembali menoleh menatap Edward.


"Terimakasih," ucapnya sambil tersenyum manis.


"Hanya itu, tidak ada ciuman pipi." Edward menunjuk ke pipi.


"Kau niat mau membantuku atau memang meminta bayaran?"


"Jika dapat bonus tidak masalah kan?"


"Tidak ada bonus karena kita tidak ada hubungan."


"Harusnya ada hubungan dulu baru dapat bonus?"


"Sudah akh, berbicara denganmu membuatku menjadi kurang waras." Deya membuka pintu mobil dan keluar.


Deya lantas berdiri di pinggir jalan menunggu Edward pergi dari sana.

__ADS_1


"Ayo sana pergi," usir Deya.


"Kau masuk dulu ke rumah baru aku akan lega." Edward membuka setengah jendela kaca.


Deya lalu berjalan masuk ke rumah. Setelah memastikan Deya sudah ada di dalam dan menutup pintu baru Edward pergi dari sana.


***


Deya dan Angga sedang makan di kantin kampus. Mereka sedang menyantap mie ayam sambil berbicara banyak tentang Rencana mereka semester depan. Angga sendiri akan melakukan KKN semester depan di sebuah kota kecil daerah Jawa Barat, kemungkinan besar mereka tidak akan bertemu sampai beberapa bulan lamanya.


"Ini berat untukku tapi ini tugas wajib untuk meraih kelulusan."


"Aku pasti akan merindukanmu."


"Kau akan magang dimana?"


"Aku belum tahu. Ada beberapa rujukan tetapi aku tidak yakin mau memilih yang mana."


"Pilih tempat magang yang memiliki kredible. Magang di tempat yang kredibel akan memberikan gambaran kebanggaan karena mampu mendapatkan lokasi magang yang kredibel, itu tidak mudah dan harus bersaing dengan sejumlah peserta lainnya. Intinya kau harus bisa masuk ke sana."


"Nah itu yang sulit banyak saingannya."


"Kalau rejekimu pasti bisa."


"Semua juga sudah tahu."


"Hai, Angga. Wah... kita ke bagian tempat KKN yang sama ya, aku senang banget waktu dengar berita itu," ucap Nungki yang mendadak menarik kursi lalu duduk tepat persis di sebelah Angga.


"Loe sendiri katanya mau magang, Ya? Magang dimana?"


"Belum tahu." Deya menyruput minuman dingin untuk mengurangi rasa panas di hati.


"Gue sudah mencari tahu tentang lokasi tempat kita KKN, Ngga. Tempat itu indah banget ada perkebunan tehnya juga. Kita bisa jalan-jalan di sana."


"Sebenarnya niat mau KKN atau mau jalan-jalan?" sindir Deya.


"Eh, terserah gue dong mau ngapain sama Angga. Masalah buat Loe.''


"Kalau sebatas jalan-jalan sih nggak masalah keles ... yang masalah itu kalau loe genitin pacar orang."


"Baru pacar aja begaya kayak bininya."


"Loe mau cari masalah ma gue?" tanya Deya blak-blakan.


"Kalau iya kenapa? Gue memang sudah suka sama Angga lama dan hubungan kami sudah direstui oleh orang tua kami."


"Ngga ...?" Deya menatap Angga meminta penjelasan.

__ADS_1


"Aku sayang kamu, Ya."


"Cuman orang tua Angga nggak setuju Angga berhubungan ma Loe. Apalagi status loe yang simpanan om-om bikin jijik mereka."


Deya menggebrak meja dengan keras.


"Kalau punya mulut jaga ya kalau nggak gue robek!"


"Itu memang kenyataannya kalau loe itu simpanan Om-om kaya seperti Lia, teman baikmu itu."


Plak!


Mungkin memegang kulit pipinya yang panas karena tamparan keras dari Angga. Dia menatap tidak percaya pria yang dia cintai melakukan ini padanya.


"Ngga..." Wajah Nungki memerah karena marah, kecewa dan malu. "Seharusnya Loe bisa mikir dari mana Deya dapat duit banyak untuk tunggakan biaya kuliahnya, sedangkan untuk makan di kampus aja elo terus yang bayarin."


"Deya itu wanita baik-baik. Jadi Loe jangan hina dia." bela Angga.


"Kalau elo itu kayak setan sadar nggak sih!" hina balik Lia yang sudah ada diantara mereka, menatap Nungki dengan geram.


"Heh, lebih setanan elo yang jual diri demi bisa berpenampilan okey. Lalu loe ngajak Deya buat cari duit bareng dengan cara itu, biar loe punya teman satu server."


Lia hendak menampar wajah Nungki tapi ditahan oleh Deya. Wanita itu menggelengkan kepalanya.


Nungki lalu mengambil handphone miliknya yang memperlihatkan gambar Deya yang sedang digandeng oleh seorang pria . Lalu gambar Deya masuk ke dalam mobil pria itu.


"Apa bukti ini kurang Ngga?" tanya Nungki.


Angga tertawa. "Kau pulang bareng siapa, Ya?"


Angga memperlihatkan foto itu pada Deya. Deya terkejut wajahnya pucat seketika. Menatap ke arah Angga.


"Aku malah berterimakasih pada orang yang mau mengantar Deya pulang. Dia ku tinggal di restoran sendiri waktu Ibu memanggil. Ternyata hanya untuk makan malam bersama wanita seperti mu."


Nungki mundur seketika. Harga dirinya hancur karena Angga merendahkan dirinya di depan semua orang.


"Ngga! Loe pasti akan menyesal karena tidak mendengar kata-kata ku. Aku tahu seperti apa wanita itu. Dia bukan wanita baik-baik."


"Lalu yang baik itu seperti loe, ngaca dong, Ki! Jangan mentang-mentang loe anak pejabat bisa melakukan apa yang loe mau.' Termasuk menghina kami."


Nungki, menghentakkan kaki ke tanah lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan rasa malu.


"Ngga, aku nggak ngelakuin apa yang Nungki bilang."


"Aku percaya sama kamu, Ya. Sungguh. Kamu selalu menjaga diri dengan baik selama ini, tidak pernah lupa ibadah jadi aku tidak akan percaya jika kamu melakukan seperti yang Nungki tuduhkan padamu!"


Deya terharu mendengar ucapan Angga. Dia memeluk kekasihnya dan menangis atas kepercayaan yang dia berikan. Padahal dia tidak sebaik itu. Dia hendak menghancurkan kepercayaan itu jika Edward tidak menjaganya dengan baik.

__ADS_1


"Tapi kau tidak bilang jika kau pergi untuk makan malam dengan Nungki dan keluarganya."


"Aku juga tidak tahu awalnya. Intinya aku sudah menolak perjodohan ini, jadi kau jangan khawatir." Hati Deya menjadi tenang seketika walau rasa takut kehilangan Angga tetap ada.


__ADS_2