Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab 128


__ADS_3

Kehamilan Deya kali ini tidak begitu baik karena kelelahan sehingga Dokter menyarankannya untuk melakukan bedrest. Edward pun dilarang untuk menggauli nya sampai umur kandungan tiga bulan membuat pria itu muring-muring sepanjang hari.


"Satu bulan akan terasa begitu lama."


Seorang presiden direktur merasa waktu itu begitu lama dan dia merasa tidak kuat untuk menahan keinginannya. Sebuah senyum kecil terbit di bibir Deya.


Deya mengulirkan lengannya dan mengalungka dengan lembut ke leher Edward. "Tidak lama bersabarlah itu hanya tiga bulan.''


Deya mulai menciumnya lama, bibirnya dikunci oleh Edward begitu lama hingga mereka kehabisan nafas baru dilepas.


Sebenarnya Edward itu adalah orang yang sangat sibuk. Sepanjang hari berada di kantornya, melakukan perjamuan dengan klien lalu pulang ketika malam. Apalagi ketika Papa Adam sudah tidak aktif bekerja di perusahan membuat waktu Edward banyak tersita di kantor.


Mr. Lee membawakan makanan untuknya. Deya duduk di tempat tidur bermain permainan anak dengan Dafi. Ketika melihat pelayannya dia lalu tersenyum.


"Mbak begitu perhatian dan merawatku dengan baik. Seperti ayahku saja."


"Nyonya Muda jangan terlalu memujiku, aku bisa jadi besar kenapa sebelumnya sebenarnya ini hanya tugas bawahan. Jika ingin berterima kasih maka berterimakasih lah pada Tuan Muda. Dia yang selalu perhatian pada semua hal tentang mu bahkan menelfon hanya untuk mengatakan menu apa yang harus kau konsumsi setiap harinya."


Deya membuka mulutnya tidak percaya. Ternyata Edward begitu sangat perhatian padanya.

__ADS_1


"Ini adalah sop ayam yang Tuan buat untuk Anda sebelum berangkat kerja."


Deya menaikkan alisnya, meraih sop itu.


"Bunda Dafi mau makan," pinta Dafi.


"Biar pengasuh saja yang menyuapinya, Nyonya Muda. Anda tidak boleh banyak bergerak."


"Aku tidak banyak bergerak masih berada di tempat tidur," kata Deya yang mengerti dengan sifat protektif para pelayannya. Itu semua atas perintah Tuan Muda mereka.


"Bagaimana keadaan Ibu hari ini?" tanya Deya sembari menyuapi Dafi.


"Ya, Mas juga sudah mengatakan itu."


"Apakah Mas, menghancurkan dapur ketika memasak semua ini?" tanya Deya penasaran. Biasanya akan ada kehebohan ketika Edward terjun langsung ke dapur.


"Chef rumah ini membantunya mempersiapkan semua bahan." Mr. Lee menghentikan sejenak kalimatnya. "Pada awalnya Tuan melarang siapapun untuk membantunya tetapi masakan pertamanya kacau sehingga dia memasak ulang dengan bantuan chef."


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan dapur ketika semua itu terjadi." Deya tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Sayang sekali aku bangun kesiangan sehingga tidak bisa menyaksikannya."


"Tuan Edward sangat menyayangi Nyonya," ungkap Mr. Lee


"Aku tahu."


"Sebenarnya kepergian Nyonya dulu telah memukul berat kondisi kejiwaan Tuan. Dia memang hidup dan melakukan semua pekerjaannya, tetapi dia seperti tidak bernyawa. Aku sangat senang ketika Anda kembali dan membawa keceriaan lagi dalam kehidupan Tuan Edward."


"Nyonya, sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan pada Anda dari kemarin. Namun, aku terlalu takut membuat kondisi kehamilan Anda memburuk."


"Ceritakan saja Mr. Lee."


"Sebenarnya Nyonya Soraya sempat datang ke rumah ini seminggu sebelum kejadian Nyonya jatuh sakit."


"Apakah itu kunjungan biasa?" Mr Lee mengangguk.


"Ya, tapi dia sempat berbicara dengan salah satu pelayan di sini. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan hanya saja pelayan itu hanya mengangguk-angguk saja. Sepertinya Nyonya Soraya sedang memerintahkan orangnya untuk mematai rumah ini. Bahkan bisa saja lebih dari itu."


"Maksud Mr. Lee apa?" tanya Deya.

__ADS_1


__ADS_2