Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 73 Introgasi


__ADS_3

"Dia hanya mainan atau apamu, Ed? Setahu Papa kau tidak pernah berbuat seperti itu. Papa juga tidak mengajarkan hal itu padamu. Sebagai pria mapan memang banyak wanita cantik yang mendekati kita namun kita harus punya pendirian dan prinsip. Keutuhan keluarga adalah nomer satu, itu jadi dasar kebahagiaan keluarga."


"Aku tahu makanya aku tidak pernah melihat wanita lain selain istriku."


"Lalu siapa wanita itu?" seru Claudia.


"Jangan bilang dia adalah?" lanjutnya.


"Dia istriku. Kami sudah menikah dan tidak melakukan hal yang dilanggar oleh agama."


"Bagaimana bisa kau menikah lagi sedangkan kau punya seorang istri lain?"


"Ma, Soraya sudah pergi dari rumah dan dia menginginkan perceraian. Apakah itu salah?"


Wajah Mama Claudia nampak memerah. Dia geram dengan perilaku anaknya itu.


"Setidaknya kita bisa membicarakan masalah itu terlebih dahulu dan menyelesaikan semuanya, bukannya langsung.... mencari wanita lain." Mama Claudia duduk


"Dia meminta cerai dan keluar dari rumah, itu artinya dia tidak menghormatiku!" tegas Edward.


"Tetap saja itu tidak dibenarkan."


"Mungkin dia melakukan itu sebagai pelampiasan saja," sela Papa Adam melihat dari sisi pria.


"Kau membelanya?" ungkap Mama Claudia tidak percaya.


"Awalnya memang seperti itu tetapi semakin kesini, aku sadar jika aku membutuhkannya. Dia wanita baik Ma Pa."


"Wanita baik tidak akan menghancurkan biduk rumah tangga wanita lainnya." Mama Claudia memang wanita yang anti terhadap pelakor.


"Dia malah menyuruhku untuk kembali pada Soraya," ujar Edward.


"Kalau begitu lakukan dan tinggalkan dia."

__ADS_1


"Ma, aku tidak akan pernah kembali pada Soraya."


"Kenapa, katakan alasannya, jika karena perbedaan prinsip kita bisa bicarakan. Sekarang, terangkan pada Mama."


"Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan masalah ini karena ini adalah aib keluargaku tetapi kalian juga berhak tahu alasanku untuk meninggalkan Soraya."


Mama Claudia dan Papa Adam mendengarkan dengan seksama.


"Dia berkhianat padaku, dia pernah menjalin hubungan dengan Mario dan sebagai pria aku tidak akan bisa menerimanya sampai kapan pun. Itu sama saja menghancurkan harga diriku sebagai seorang pria."


Dada Mama Claudia terasa sesak, dia langsung meminum air mineral di depannya.


"Aku tahu anakku tidak akan gegabah melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas. Aku tahu didikan ku. Sayangnya kau tetap salah Ed. Kau menjalin hubungan sebelum hubungan dengan Soraya kau selesaikan."


"Apa itu artinya Papa merestui hubungan Ed dan pelakor itu? Yang benar saja. Sampai kapan pun Mama tidak akan menyetujuinya," tegas Mama Claudia.


"Ma!" seru Edward keberatan.


"Tidak Ed. Ini keputusan Mama yang tidak bisa diganggu gugat. Lagipula dia dari kalangan biasa. Kau bisa menjadikannya sebagai simpananmu tapi bukan bagian dari keluarga kita. Hubunganmu dengan nya telah mencemari nama baik keluarga kita."


"Lalu aku harus membuang Deya? Tidak mungkin Pa, hanya dia yang bisa membuat aku bisa berdiri tegak didepan semua orang."


"Kau lupa karena dia masalah ini muncul!" tegas Mama Claudia.


"Tidak Ma, dari awal Soraya yang bersalah bukan Deya. Bagaimanapun dia istriku, sudah selayaknya aku akan melindungi dan memperjuangkannya."


"Orang tidak akan melihat apa yang terjadi padamu tetapi fakta yang ada. Dia bukan istri sahmu, itu yang orang tahu. Istri aslimu adalah Soraya. "


"Singkirkan dia atau aku yang akan melakukannya!" lanjut Mama Claudia.


"Aku tidak akan pernah melakukannya."


"Aku tidak perduli kau akan bercerai dengan Soraya atau tidak Ed karena itu hak mu. Tetapi masalah reputasi keluarga kita itu yang utama jangan buat Mama malu karena tindakanmu ini."

__ADS_1


"Ma!" seru Edward tidak setuju. "Aku punya hak untuk menentukan siapa yang akan mendampingi hidupku."


"Apakah dia lebih penting dari kami Ed?"


Edward terdiam. Matanya mulai memerah.


"Dia masih bingung dengan hidupnya. Biarkan dia memikirkan ini dengan tenang untuk menentukan sikapnya ke depan. Sebentar lagi rapat akan segera dimulai. Berharaplah agar skandalmu ini tidak mempengaruhi kinerja perusahan tetapi sepertinya nanti akan ada tekanan dari ayah Soraya yang mempunyai saham di sini dan juga Mario, walau sahamnya hanya sedikit."


Ayah Edward lalu keluar dari ruangan. "Aku menunggumu di ruang rapat."


Mama Claudia bangkit dan memeluk Edward. "Maaf Mama melakukan ini hanya karena ingin yang terbaik untukmu. Bukan karena dia dari keluarga tidak mampu, hanya attitudenya yang dipertanyakan. Datang di saat yang tidak tepat dan membohongi semua orang. Lalu membuat kekacauan. Hal itu yang membuat Mama berpikir jelek padanya. Maaf Mama tidak setuju kau berhubungan lagi dengannya putuskan dia sebelum terlambat. Jangan sampai masalah ini terus melebar kemana-mana. Orang tahunya kau yang bermain mata bukan Soraya."


"Mama akan pulang dan seperti yang papamu katakan. Selesaikan masalahmu dengan Soraya baru kau menjalin hubungan dengan wanita lain."


Rapat yang Edward jalani kali ini terasa berat. Seperti yang tadi ayahnya katakan Edward menemukan banyak tekanan dari pihak Ayah Soraya dan Mario. Dua orang yang selalu mendukungnya. Ini semua karena permasalahan yang menerpa nya.


Papa Adam menenangkan rapat itu dan rapat akan dilanjutkan besok.


Mario berjalan mendekat ke arah Edward, memeluknya. Berbisik, "You see, ini balasannya karena lebih membela wanita murahan itu daripada sahabatmu sendiri. Orang yang telah bersamamu selama ini."


"Aku tidak butuh ular yang akan menggigit orang di dekatnya. Deya, seribu kali lebih baik dari dirimu atau seribu wanita di dunia ini. Jadi jangan pernah kau dekati dia atau kau akan menemui akibat yang fatal nantinya." Balas Edward.


"Dia bukan seleraku, seleraku istrimu yang cantik dan molek serta panas diranjang... dan liar," ucap Mario membuat darah Edward mendidih. Ingin rasanya dia memukul pria itu hingga mati di depannya namun ayahnya memberi kode agar Edward tenang.


"Kau memang suka bekasan dariku, ambillah karena aku tidak suka pada barang yang sudah disentuh orang lain," ejek Edward.


Giliran wajah Mario yang memerah dia lantas pergi dari ruang rapat itu. Kini tinggal Edward, ayahnya dan sang Mertua. Mr. Paris Van der wijck serta Satria yang ada di ruangan itu.


"Apa yang kau lakukan pada anakku, Ed? Aku harap kau bisa jelaskan."


"Aku tidak akan berbuat seperti itu jika bukan karena dia yang memulainya sendiri. Anda bisa tanyakan langsung pada Soraya apa yang dia lakukan sehingga aku pergi darinya. Aku harap dia akan jujur, jika tidak aku akan memberikan bukti padamu apa yang menyebabkan ku meninggalkannya."


"Adam, kau diam saja setelah apa yang anakmu lakukan pada putriku?" Tuan Paris merasa tidak terima.

__ADS_1


"Maaf ini adalah rumah tangganya. Aku hanya bisa menasihati tetapi keputusan tetap ada pada diri Edward."


__ADS_2