Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 122 Mertua Sakit


__ADS_3

Deya sudah tidak peduli dengan pro dan kontra yang terjadi di masyarakat mengenai dirinya. Dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri dan tidak lagi menyembunyikan jati dirinya.


Hari ini Deya menjemput sekolah Zahra setelah itu mereka akan langsung ke rumah mertuanya. Mama Claudia dikabarkan sedang sakit tadi. Edward langsung menuju ke rumah orang tuanya dari kantor ketika mendengar berita ini.


Mobil berhenti di depan pintu gerbang sekolah. Suasana memang terasa masih sepi karena belum jam pulang. Deya melepaskan sabuk pengaman pada kursi Dafi.


"Kok sepi, Bun?" tanya Dafi.


"Iya, Sayang. Kita masuk ke dalam jemput Kakak, ya."


"Hore.... beli ice cream sama jajan." Dafi memang terkadang dibelikan jajanan sekolah oleh Zahra. Jadi dia senang sekali kalau ada acara jemput sekolah kakaknya. Kadang kalau Deya tidak sempat, Zahra akan pulang dengan taxi Online tapi itu jarang terjadi.


Mereka mulai turun dari mobil, masuk ke dalam gerbang sekolah setelah meminta ijin pada petugas yang berjaga.


Deya menatap ke sekeliling sekolah mencari ruang guru. Singkat cerita dia dan Zahra sudah berada di mobil setelah meminta ijin pada wali kelas Zahra untuk membawa Zahra pulang lebih awal.


"Ada apa, Bu? Tidak biasanya."


"Oma sakit."


"Oma sakit?" pekik Zahra terkejut. Deya menganggukkan kepala. Dia mulai memutar kunci kontak lalu menjalankan mobil keluar dari komplek sekolah.


Sebuah panggilan masuk ke handphonenya dan dia sambungkan ke air phone.


"Assalamu'alaikum, Mas."


"De, keadaan Mama tidak baik-baik saja butuh penanganannya lebih lanjut. Jadi aku membawanya ke rumah sakit. Kau ke rumah dulu bawa anak-anak dan titipkan ke Mr. Lee baru ke rumah sakit. Papa sedang di L. A."


Deya menghela nafas panjang. "Memang apa yang terjadi?"


"Nanti saja aku ceritakan sesampainya kau di sini."


"Aku bawa anak-anak ke rumah Uti ma Kakungnya saja ya," ijin Deya.


"Terserah kau saja, kau tahu yang terbaik untuk mereka."


"Kalau begitu aku matikan telephonnya. Mas yang tenang mengurus Ibu di sana nanti aku akan suruh Mr. Lee untuk membawa barang kebutuhan Mama dan kamu ke rumah sakit."


"Ya. Kalau begitu Assalamu'alaikum."


"Wa"alaikum salam."


"Zahra kamu nanti mau di tinggal di rumah Oma atau ikut Dafi di rumah Uti?"

__ADS_1


Zahra nampak bingung.


"Bunda mungkin akan menjadi menginap di rumah sakit sampai keadaan Oma membaik. Bunda akan lebih tenang jika kau ada di rumah oma atau uti."


"Aku sama Dafi saja. Kalau di rumah Oma sepi nggak ada orang, masa aku ditemanin sama Pak Lee nggak asik kan, Bun."


"Ya, sudah. Berarti ke rumah Uti saja," tanya Deya lagi untuk menegaskan keputusan Zahra.


Zahra mengangguk tetapi pikirannya sudah tidak menentu. Di sana ada Raihan yang selalu frontal padanya. Royhan sendiri saat ini sudah ke pesantren pilihannya sendiri. Pasti di sana dia akan menemui Raihan yang selalu berkata ketus padanya. Menyindir dan tidak senang jika di dekati. Itu membuatnya tidak nyaman tinggal di sana. Walau Uti dan Kakung orangnya baik dan bersahabat.


Mobil berhenti di depan rumah orang tua Deya yang tidak terlalu besar. Mereka langsung turun dari mobil. Semua orang rumah langsung keluar menyambut kedatangannya.


"Sayang Uti datang, Uti kangen sekali dengan Dafi," Ibu Ratmi langsung berlari memeluk Dafi.


"Uti, Bunda tidak membelikan aku Icecream tadi," lapor Dafi. Membuat semua tertawa kecil.


"Nanti Uti belikan."


"Beli pakai motor, Om," ujar Raihan mencium Dafi.


"Ye, sama Kak Zahra juga?"


Raihan melihat tidak senang pada Zahra. Membuat gadis itu merasa tidak nyaman.


"Di toko."


"Oh. Aku mau pergi titip Dafi beberapa hari bisa, Bu?"


"Lho kenapa memangnya?"


"Mama sakit. Aku akan menunggunya. Dia tidak ada anak lain selain Mas, jadi aku juga bertanggungjawab mengurus Mama."


"Ya, Tuhan. Sakit apa, mertuamu?"


"Belum tahu, Bu hanya saja Mama punya penyakit diabetes mungkin kadar gulanya sedang naik."


"Semoga tidak parah, ya."


Deya mengangguk. Setelah itu dia berpamitan dengan Ibu serta dua anaknya untuk ke rumah sakit. Awalnya, Dafi merasa keberatan tetapi setelah Zahra dan Raihan membujuk Dafi mau ditinggal.


Deya berjanji besok akan mengunjungi mereka kalau kondisi mertuanya membaik di rumah sakit.


Deya pergi ke rumah sakit. Dia langsung ke ruang ICU ruang di mana mertuanya di rawat. Dia melihat Edward yang berdiri di depan pintu ruang ICU. Wajahnya nampak lelah, pucat dan cemas.

__ADS_1


Dia sudah tidak memakai jas yang tadi digunakan sewaktu pergi bekerja. Lengannya sudah digulung ke atas dan ada bercak noda darah di sekitar lengan dan dada pria itu.


Mr. Lee sendiri duduk di kursi tunggu. Wajahnya juga nampak tidak fit. Seharusnya Pak Lee sudah pensiun dan digantikan anaknya tetapi pria itu tetap memaksa ingin tetap bekerja karena hanya itu yang menjadi penyemangat hidupnya.


"Apa yang terjadi, Mas?" Deya memeluk suaminya.


"Mama tadi muntah darah dan dari hidungnya juga keluar banyak darah sekarang masih tidak sadarkan diri," ucapnya dengan suara goyah dan netra memerah.


"Kok bisa?"


"Kata Dokter ada pembuluh darah di kepala yang pecah." Edward kembali memeluk Deya erat mencari ketenangan di saat dirinya merasa takut dan resah.


"Semua akan baik-baik saja."


Terdengar helaan nafas berat dari Edward. "Semoga saja." Terdengar putus asa.


"Aku begitu takut kehilangan Mama."


"Aku mengerti seorang anak pasti akan sangat takut kehilangan itu ibunya. Mas yang tenang kita hanya bisa berdoa pada Tuhan agar kondisi Mama baik-baik saja."


"Ya, tadi dokter juga mengatakan jika mereka akan tahu apa akibat dari pecahnya pembuluh darah itu setelah Mama sadar."


"Kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Mama."


"Aku hanya takut Mama tidak bisa bertahan."


"Kau harus berpikir positif."


"Awal mula terjadi bagaimana?"


Mr. Lee langsung bangkit dengan bantuan tongkat di tangannya. Edward duduk dengan lemas, kedua tangannya di satukan ke depan untuk menumpu kepalanya. Deya duduk di sebelah Edward dan mengusap punggungnya.


"Nyonya besar sedang melakukan gerak Yoga tadi tapi tiba-tiba berteriak memanggil dan saya temukan Nyonya sudah bermandikan darah yang keluar dari mulut dan hidungnya. Semenjak ditinggal Tuan keluar negeri, Nyonya sulit tidur dan makannya tidak teratur."


"Apakah Papa sudah dikabari?''


" Sudah dan sedang menuju kemari. " jawab Mr Lee.


Ketika mereka sedang berbicara dari jauh terlihat Soraya dan ayahnya berjalan ke arah mereka.


"Mama kenapa Ed? Aku dengar dia sakit parah jadi aku langsung datang kemari."


Deya dan Edward tertegun melihat ke arah Soraya lalu saling memandang.

__ADS_1


__ADS_2