Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab.121 Momen Indah


__ADS_3

Deya bersiap di kamarnya menyambut kedatangan suami seperti pertama kali mereka bersama di malam pertama. Pria itu memberinya kotak berisi lingerie berwarna putih transparan. Yang tidak menutupi bentuk tubuhnya sama sekali. Sebotol parfum dengan aroma vanilla yang lembut diberikan Edward agar dipakai Deya pada malam ini. Deya menyemprotkan nya ke tubuhnya lalu bangkit melihat penampilannya sendiri.


Edward tipe pria yang terlihat dingin di luar tetapi ketika bersamanya dia menjadi pria liar yang penuh fantasi. Terkadang Deya kewalahan dengan keagresifan suaminya, sewaktu mereka berada di ranjang. Membuat wanita itu akan mager melakukan apapun seharian setelahnya. Deya tertawa sendiri.


Edward belum juga selesai menidurkan kedua anaknya. Pria itu sangat hangat jika berada di sisi kedua anaknya. Menjadi pria penyayang yang sabar merawat keduanya. Tidak ada yang dibedakan. Dafi sangat senang jika dibacakan dongeng oleh Ayahnya, dia akan mengoceh menimpali cerita ayahnya. Sedangkan Zahra akan ikut mendengarkan cerita ayahnya. Dia sebenarnya sudah hafal dengan semua cerita yang diceritakan ayahnya secara berulang-ulang, dia hanya ingin bermanja-ria bersama ayah dan adiknya sebelum menutup mata.


Deya berjalan ke jendela kamar melihat pandangan pantai yang indah dari kamarnya. Di saat itu tiba-tiba sebuah tangan memeluknya dari belakang.


"Mas, bikin kaget aja!" seru Deya melonjak.


"Melamun apa?"


"Kayaknya enak ya berenang di pantai, malam hari?" ujar Deya.


"Enakan berenang di ranjang bersamamu, Sama-sama basah."


"Ish, Mas itu. Pikirannya soal itu melulu," Edward mencium leher Deya dan menyesapnya membuat wanita itu mendesis.


"Memang kau tidak?" kata pria itu dengan suara berat memutar tubuh Deya dan melihat penampilan wanita itu.


"Perfek," puji Edward.


"Masa sih, Mas perutku sudah tidak sekencang dulu, sebenernya aku nggak pede pakai baju ini. "


"Masih sama cuma rubah dikit, makin berisi jadi ada yang dipegang. Apalagi ini dan ini," cubit kecil Edward pada dua bagian tubuh Deya, bagian depan yang membusung indah dan bagian belakang yang padat.


(Kalau nulis begini suka ketawa sendiri, dikira orang penulisnya begini padahal ini imajinasi ya, jangan berpikir aneh)


Wajah Deya seketika memerah membuat Edward makin gemas. Dia menarik tubuh Deya dan merapatkan dengan tubuhnya. Lalu mulai menyatukan kedua bibir mereka. Saling menyelami satu dengan lainnya, terombang-ambing dalam api gairah yang mulai memercik diantara keduanya.


Edward memojokkan Deya ke tembok dan kedua tangannya mulai nakal masuk ke balik kain setipis sayap jangkrik, mencari benda kesukaannya.


Deya mulai mengerang dan mengeluarkan suara aneh. Membuat Edward semakin bersemangat. Dia lantas mengangkat tubuh Deya dan membawanya ke atas ranjang.


Deya menyampaikan tangannya ke leher Edward dengan kepala terkulai manja di bahu pria itu. Dengan lembut tubuhnya diletakkan di atas peraduan cinta mereka. Edward menatap sang pujaan hati dengan penuh cinta.


"I love you, Cantik, bidadariku," ucapnya. (Senang amat ya, kalau suaminya kaya bambang Edward)


"I love you too."


"Apa kau siap membuat adik untuk Dafi," tanya Edward.


"Menurutmu?" balik Deya. Edward lantas mengambil sesuatu dari dalam laci, sesuatu yang sudah dia siapkan sebelum mereka berangkat ke Bali. Dia ingin memberikan ini di saat penting mereka.


Dia memberikan sebuah map pada Deya dan memperlihatkan secarik lembar surat dari pengadilan agama.

__ADS_1


"Akte cerai ku sudah keluar seminggu ini dan kau lihat ini?" Edward memperlihatkan surat undangan bagi dirinya dan Deya untuk menghadiri pengadilan isbat nikah mereka.


"Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita ke departemen Agama kita hanya tinggal datang untuk mengikuti sidang, setelah itu kita resmi menjadi suami istri."


Deya membuka mulutnya lebar dan membaca kedua surat itu. Dia lantas memeluk suaminya dan menangis haru.


"Simpan tangis bahagiamu sampai kita pegang dua buku nikah," ujar pria itu. Deya mengangguk mantap.


Edward meletakkan kertas itu kembali ke tempatnya. "Ingat, Selasa besok kita ke pengadilan untuk mengurus pernikahan kita."


"Berarti tidak jadi seminggu di sini?"


"Kalau kau ingin ditunda tidak masalah."


"Tidak, aku ingin kita resmi menikah secepatnya. Aku ingin menyandang namamu di belakang namaku sehingga orang memanggilku dengan sebutan Bu Edward."


"InsyaAllah, Sayang, panggilan itu akan selalu tersemat pada dirimu."


"Jadi mantap-mantapnya kan?" tanya Edward lagi. Deya lalu tertawa.


"Aku kira kau lupa."


"Aku tidak akan lupa jika soal ini, soal membuat adik untuk Dafi. Aku juga perlu menghukummu karena berani bicara dan tersenyum dengan Angga. Itu membuatku cemburu dan kau malah tidak peka dengan hal itu."


Deya membuka mulutnya lebar, dia tidak peka? Padahal dia sudah menjaga diri agar tidak membuat pria itu cemburu.


Edward membalikan posisi Deya sehingga wanita itu berada di atas tubuhnya. Deya lalu tersenyum nakal. Ujung jarinya mulai membuka baju Edward dengan perlahan.


"Dapat bayaran apa jika kau puas?"


"Apapun yang kau mau," jawab Edward meletakkan kedua tangan di belakang kepalanya sambil menutup mata merasakan sentuhan Deya.


"Sungguh?"


"Ya, kapan aku pernah melanggar janjiku?"


"Kalau begitu, aku ingin kau libur seminggu dan kita melakukan honeymoon ke Raja Ampat."


"Hanya itu?"


"Ya, setelah kita resmi menjadi suami istri."


"Siap Ibu Presdir. Dengan senang hati. Kenapa tidak minta ke Paris saja?"


"Indonesia lebih indah dan aku bangga dengan negara kita."

__ADS_1


***


Mata Deya berkilat bahagia setelah mendapatkan buku nikahnya. Dia memperlihatkan pada Ayah dan Ibunya serta kedua orang tua Edward.


Tetes air matanya jatuh seketika. Hatinya merasakan kelegaan yang teramat sangat. Edward mencium dahinya.


"Mas," ucapnya bergetar karena terharu, memeluk tubuh suaminya.


Mama Claudia mendekat. Gantian memeluk Deya.


"Selamat ya Deya sekarang kau resmi menjadi menantu kami." Deya mengangguk bahagia, dia tidak bisa mengucapkan apapun.


Lalu bergantian Papa Edward. "Papa harap semoga pernikahan kalian akan abadi bukan hanya di dunia juga di akherat. Papa senang Edward mendapatkan istri sepertimu. Sekarang dia menjadi lebih religius."


"Walau pernikahan kalian tidak dirayakan papa harap kau tidak merasa kecewa dan sedih."


"Untuk apa, Pa, lagian malu sudah ada anaknya," ujar Edward.


"Eh siapa tahu istrimu ingin mengenakan gaun pengantin pengantin yang indah dan bersanding di pelaminan."


"Tidak, Papa, bersama dengan Mas dan menjadi istrinya yang sah sudah cukup untukku. Tidak perayaan atau pesta besar, doa kalian sudah mewakili doa seluruh makhluk hidup di dunia ini." Papa Adam menepuk kepala Deya pelan.


Mama Claudia mengambil Dafi dari gendongan Bu Ratmi, agar besannya bisa memeluk putrinya dan memberikan doa restu.


"Deya," panggil ibunya memeluk putrinya dengan haru.


Deya lantas bersimpuh di kaki ibunya.


"Terimakasih, Bu, karena dukungan dan doa Ibu dan Ayah, impianku bisa tercapai. Tanpa kalian aku tidak akan bisa dan kuat menghadapi semuanya. Maafkan anakmu ini yang selalu merepotkan, membuat sulit hidup kalian serta mempermalukan nama baik kalian. Maaf... Maaf...."


Ibu Ratmi mengusap air matanya memeluk sang suami. Pak Seto membungkuk mengangkat tubuh Deya dan memeluknya.


"Kata siapa kau merepotkan, kau malah selalu berjuang untuk kehidupan kami sekeluarga, kata siapa kau menyusahkan, kau malah anak yang selalu berusaha agar kami selalu tertawa bahagia. Siapa yang bilang jika kami malu punya anak sepertimu. Kami malah bangga kau bisa tegar menghadapi semuanya dan membuktikan pada semua orang bahwa kau tidak seburuk yang mereka kira. Kau adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan pada kami dan kami sangat bersyukur pada Tuhan karena terpilih menjadi orang tuamu."


Suasana menjadi haru seketika. Semua orang ikut menangis melihat pemandangan ini.


Ayah Seto lalu mendekatkan Deya pada Edward, memberikan Dafi pada keduanya lalu memanggil Zahra agar bersebelahan dengan kedua orang tuanya.


"Sekarang kalian jadi orang tua maka jadilah orang tua yang baik untuk anak kalian jadilah contoh yang baik untuk mereka. Tugas kami sebagai orang tua telah selesai setelah kau menjadi istri orang lain. Tanggungjawab kami sebagai orang tuamu kini kami serahkan pada suamimu."


"Nak Edward jaga anak dan cucu kami dengan baik. Jadilah imam yang baik untuk mereka hanya itu pesan kami."


Edward mengangguk dan mencium kedua tangan mertuanya. "Aku janji akan menjaga keluargaku sebaik mungkin."


Semua merasakan lega dan tenang sekarang. Berharap setelah ini hanya ada kedamaian dan kebahagiaan yang datang dalam hidup mereka.

__ADS_1


***


Bambang Edward udah happy punya istri muda dan cantik lagi, dari yang masih unyu sampai matang. Selamat untuk sah nya pernikahan kalian.


__ADS_2