Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 32 Membujuk Suami


__ADS_3

"Ada pa De? Tidak biasanya kau menginap di rumah? Apa kau bertengkar dengan suamimu?" tanya Pak Seto yang melihat putrinya melamun dalam gelap. Padahal ini sudah tengah malam.


"Aku hanya rindu kalian saja," kilah Deya.


"Kau tidak pandai berbohong pada Ayah, sebenarnya ada apa? Ceritakan semoga Ayah bisa membantu masalahmu."


"Mas Edward mendiamiku, dia bersikap dingin tidak mau berbicara denganku lagi." Deya mengatakannya dengan sedih.


"Ayah tidak akan bertanya apa masalah kalian tetapi Ayah perlu menerangkan salah satu sifat pria." Deya mulai mendengarkan nasihat Ayahnya.


"Jika mereka sudah sangat kesal dan egonya terluka maka mereka akan melakukan dua opsion. Jika yang suka marah, maka mereka akan melampiaskan kemarahannya. Ada juga yang lebih memilih untuk diam, agar pasangannya tahu jika dia tidak suka hal itu."


"Jadi Mas Edward masuk ke golongan yang lebih suka terdiam jika marah."


"Sepertinya iya," kata Ayahnya.


"Mana aku tahu kesalahanku jika dia hanya diam saja. Bukankah pernikahan yang baik harus dengan komunikasi yang baik pula. Jika seperti itu yang ada malah kesalahpahaman semata."


"Jika sifatnya begitu kau harus sering intropeksi diri akan kesalahanmu. Jika tidak bisa menemukan maka tanyakan baik-baik padanya apa salahmu?"


"Itu terdengar lebih sulit." Deya dan Angga itu selalu terbuka dalam hubungannya kini ketika menghadapi Edward membuat dia bingung sendiri harus melakukan apa?


"Kau harus lebih sabar menghadapinya dan jangan kaku jika berbicara dengannya harus lebih aktif dan lebih perhatian."


"Jika dia tidak mau?"


"Jadi istri itu harus pandai merayu suaminya agar tidak lama marahnya."


"Begitu ya, Yah? Walau dia yang salah?"


"Menikah itu bukan untuk adu benar dan menang tetapi bagaimana caranya agar tetap bisa seiring dan sejalan. Apakah hidupmu nyaman selama bertengkar dengannya?"


Deya menggelengkan kepala.


"Jika tidak maka akhiri. Buat dia mengerti sedikit demi sedikit jika dia salah dan ingat suami tidak suka dinasehati."


"Jika begitu bagaimana cara untuk memberitahunya?" Deya tidak mengira jika menikah itu akan sesulit ini.


"Kau akan tahu apa yang harus kau lakukan. Ayah percaya dengan putri Ayah."


"Terima, Yah, kau memang Ayah terbaik di dunia ini." Deya memeluk Ayahnya. Hatinya merasa tenang setelah berbagi rasa dengan Ayahnya.

__ADS_1


"Wah Ayah dan anak bicara apa ini, Ibu kok tidak diajak?" ujar Ratmi masuk ke ruang tamu.


"Rahasia Putri dan Ayahnya," balas Deya dan Pak Seto bersama.


Malamnya Deya mendapat sebuah pesan chat dari Angga.


"De? Memang benar jika pengusahaan kaya itu adalah pamanmu? Kok aku kurang percaya ya?"


"Percaya atau tidak percaya itu hak mu, Ngga."


"Kok begitu sih De, Aku kan hanya curiga dan cemburu dengan kebersamaan kalian."


'Angga, kukira kita butuh break dulu dari hubungan kita. Saling introspeksi diri.' kata Deya dalam chatnya


'Apa maksudmu Deya, kita putus begitu?'


'Oho... jadi benar jika kau memang jadi simpanan Om kaya. Tadinya aku tidak percaya tetapi aku sudah melihat sendiri tadi.'


'Bukan kah itu kenyataannya Deya jika dia itu memang sugar daddymu?' lanjut chat Angga yang marah.


***


Sudah seminggu Edward mendiamkannya. Berkali-kali pula Deya ingin mengajaknya berbicara tetapi Edward malah membentak nya agar tidak mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan. Dia sedang banyak pekerjaan dan tidak mau diganggu.


"Mas kita perlu bicara!"


"Tidak ada yang perlu dibicarakan."


Deya berdiri di depan Edward. Mencoba menghentikan langkah kakinya.


"Pulang ke rumah ya," bujuk Deya penuh harap memegang tangan Edward.


"Aku memang mau pulang!" ucap Edward berjalan melewati Deya. Pria itu membuka pintu untuk dirinya sendiri tetapi Deya ikut masuk ke dalam.


"Kita harus bicara," tegas Deya.


"Aku akan mengantarmu pulang." Edward mulai menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan Edward diam saja tidak mengatakan apapun. Kini Deya tahu sifat Edward yang lebih memilih mendiamkan ketika marah.


"Katakan apa yang ingin kau bicarakan. Aku harus pulang ke rumah lebih awal," ucap Edward dingin.


Deya melirik. "Mampir dulu ke rumah ya, aku memasakkan makanan khusus untukmu," pinta Deya berharap Edward setuju. Pria itu diam tidak menjawab apapun.

__ADS_1


Sesampainya di parkiran Edward hanya diam.


"Aku tidak punya waktu. Aku harus pulang sekarang."


"Besok kita tidak bertemu di kantor karena weekend jadi mampir dulu ke rumah ya. Ini juga rumahmu kan?" bujuk Deya hati-hati dan takut tapi penuh harap.


"Aku akan mengantarmu hingga pintu saja."


Mereka lalu turun dari mobil dan pergi lantai tempat hunian Deya berada. Sesampainya di pintu Edward hanya berdiri tidak mau masuk. Dia hendak membalikkan tubuhnya pergi tetapi Deya memeluk pria itu dari belajang, terlebih dahulu.


"Ku mohon jangan pergi, aku rindu." Deya meletakkan kepalanya di punggung Edward.


"Kau peluk saja pacarmu itu."


"Memang boleh?"


Tubuh Edward menegang, Deya bisa merasakannya.


"Jangan marah aku hanya bercanda."


"Kau boleh berbuat sesukamu, aku tidak akan melarangnya."


"Kalau begitu aku akan mengajakmu makan bersamaku di dalam. Aku belum makan siang tadi karena menunggu kau makan tetapi kau tetap saja asik dengan pekerjaanmu itu," ungkap Deya. "Kau juga belum makan kan?"


"Ku mohon." Lirih Deya penuh harap.


Edward melepas tangan Deya yang melingkar di pinggangnya masuk ke dalam apartemen tanpa sepatah katapun.


Deya tersenyum. Dia lantas mengikutinya. Meletakkan tas ke atas meja.


Edward hendak melepaskan sepatunya, Deya berjongkok hendak membantu tetapi Edward menggeser letak kakinya.


"Biarkan aku membantumu." Baru pertama kali dia diperlakukan seperti ini oleh seseorang rasanya sakit. Semarah-marahnya ayah dan ibunya, tidak pernah mendiamkannya hingga berhari-hari.


"Aku akan memanaskan sayurnya dulu." Deya langsung pergi ke dapur menyiapkan makanan.


"Aku masak soup iga sapi dan perkedel kentang." Deya memasukkan masakannya dalam microwave.


Dia lantas melepaskan blazernya dan mengikat asal rambut ke atas dengan ikat rambut. Deya nampak lebih cantik dan terlihat dewasa sekarang daripada awal ketika Edward melihatnya.


Edward juga rindu pada Deya hanya saja dia ingin melihat keseriusan Deya dalam hubungan ini, setelah apa yang dia katakan pada Angga tempo hari mengenai dirinya.

__ADS_1


Deya menyiapkan makanan di meja lantas mengajak Edward duduk bersama. Seperti biasanya Deya melayaninya dengan sangat baik.


Deya tidak ingin membuat kesalahan dengan ucapannya hingga dia memilih untuk diam sepanjang mereka makan.


__ADS_2