
"Ada kalanya bayangan ada di depan kita dan terlihat jelas. Kita tidak bisa membuangnya, namun kita tidak bisa terus melihatnya. Kita hanya terus berjalan ke depan dengan bayangan itu."
Deya pergi kamar mandi tidak menjawab pertanyaan Edward. Dia langsung meletakkan baju di wastafel mematut dirinya.
Edward mengantar Deya hingga pintu saja. Wanita itu bersikeras untuk pulang sendiri dan Edward mengijinkannya dengan mudah.
"De," panggil Edward sebelum membuka pintu. Dia mendekat ke arah Deya, menyentuh wajah itu. Tersenyum sedih.
"Satu ciuman saja sebelum kau pergi," pinta pria itu. Membuat Deya tertegun. Belum juga dia menjawab bibir Edward sudah mendarat di bibirnya. Menyentuh lembut lalu mengulum nya pelan. Deya menahan diri untuk tidak membalasnya walau dalam hati dia juga merindukan itu. Namun kembali lagi, dia tidak bisa menahan dirinya lebih lama ketika Edward menyentuhnya. Deya membuka mulut dan menyambut Edward.
Melihat itu, Edward tidak tinggal diam. Dia mencium Deya lebih dalam. Bibirnya bermain di sana, menggelitik dan menarik lidah Deya. Membuat jantung Deya berdetak lebih keras. Tengkuknya merinding, sekujur tubuhnya serasa terkena aliran listrik status yang membuat getaran dan sengatan kecil di setiap syaraf. Tubuhnya melemas.
Satu tangan Edward menahan pinggul Deya dan tangan lainnya memeluk punggung Deya dan menekannya lebih dekat pada dirinya. Hingga akhirnya Edward menghentikan ciuman itu.
Deya merasa kehilangan, tetapi tidak bisa mengatakannya. Nafasnya terengah-engah dengan pupil yang menggelap karena percikan api gairah mulai menyala dalam diri.
Edward tersenyum membersihkan air liur mereka yang membasahi bibir Deya. "Pergilah, jika kau merindukan aku kembalilah kemari. Aku akan menunggumu pulang," bisik Edward di telinga Deya. "Ini rumahmu, Deya. Rumah kita dan anak-anak kita."
Deg!
__ADS_1
'Apakah Edward tahu jika dia sudah punya anak dariku?' pertanyaan itu terbesit dalam otak Deya.
Edward membuka pintu membiarkan Deya pergi sendiri. Bukan karena dia tega atau melepaskan Deya. Namun, dia ingin tahu semua tentang Deya dan memulai semuanya dari awal lagi dengan benar. Tidak ingin ada paksaan atau keterpaksaan. Dia ingin kali ini Deya sendiri yang menyerahkan diri padanya sehingga kejadian yang telah lalu tidak terulang lagi.
Walau tiga tahun berlalu, Deya masih sama seperti dulu. Itu bisa nampak terlihat ketika dengan mudah Deya menyambut ciumannya. Tatapan matanya pun masih sama hanya saja Deya tidak membuka hati padanya karena satu hal. Atau bisa saja Deya mencintainya tetapi karena suatu sebab dia menahan diri untuk mendekat pada dirinya.
Selama ini Deya bersembunyi, kini dia telah keluar. Artinya, dia telah siap dengan semua kemungkinan yang ada termasuk kehadiran Edward dalam hidupnya lagi.
Satu lagi, ada beberapa bagian tubuh Deya yang berubah. Dia mengira jika itu karena Deya punya seorang anak. Itu tebakan Edward dan dia yakin bahwa itu benar. Kenapa Deya tidak mengatakannya? Mungkin karena suatu alasan yang belum dia tahu, tetapi semua alasan itu akan terbuka dengan sendirinya.
Deya tidak sadar jika mobil on-line yang dia pesan disupiri oleh anak buah Edward. Sebelumnya Edward memang sengaja meretas handphone Deya dengan bantuan Satria. Dia melakukannya ketika mereka sedang bersama. Deya yang sedang fokus dengannya tidak sadar jika handphonenya sudah tidak ada. Setelah itu, Edward mengembalikan handphone itu ke dalam tas Deya lagi.
Anak buah Edward menghubungi jika dia telah mengantarkan Deya sampai depan rumahnya dengan selamat. Edward mulai tenang. Setelah itu, dia minta alamat rumah Deya dan meminta Satria mengawasi rumah itu dua puluh empat jam. Satria lantas memerintahkan anak buahnya untuk melakukan apa yamh diperintahkan oleh Edward.
Dia membenturkan kepala di meja ketika Edward berjalan di depan stand nya. Pria itu lantas masuk ke stand jualan orang lain yang berhadapan dengan Deya.
Edward tidak melihat ke arahnya atau mengatakan apapun. Nampak cuek dan acuh pada Deya.
Deya membuka mulutnya. Sejak kapan stand miliknya pindah kemari? Bukankah seharusnya stand miliknya ada di deretan stand depan dan lebar?
__ADS_1
Deya membuang muka ke samping. Menghembuskan nafas keras. Apalagi yang ingin dilakukan pria itu setelahnya menculiknya tadi malam? Apakah ingin cari perhatian padanya? Rasa tidak nyaman mulai menghampiri tetapi dia tetap bersikap biasa di depan semua orang walau hatinya bergemuruh luar biasa.
Dia lantas membuat kopi sendiri, melirik ke arah pria yang ada di depannya. Pria itu nampak tak acuh. Merasa tidak enak membuat kopi sendirian tetapi perasaan itu dia tepis sendiri.
Hingga siang Deya sibuk melayani pembeli. Sesekali dia melihat ke arah Edward yang sama sekali tidak melihat ke arahnya. Rasanya seperti ada yang kurang.
Pria itu melewatkan makan siangnya. Deya melihat bekal makanan yang dia bawa dari rumah, mau makan tetapi rasa bersalah muncul. Dia menunggu Edward akan pergi untuk makan atau tidak, baru nanti dia makan.
Pria itu malah asik berbicara dengan seseorang berpakaian sama rapih dengannya. Tersenyum. Edward memang tipe pria kaku jika bergaul dengan seseorang. Dia tidak pernah tertawa keras paling hanya tersenyum lebar menghormati orang yang mengajaknya bicara.
Pandangan mata mereka bertemu, Edward lantas memalingkan wajah. Deya melebarkan matanya tidak percaya.
"Bu, bagaimana dengan harga barang ini?" tanya salah seorang konsumen.
"Hah! Apa, maaf, kepala saya sedikit pusing. Rani, tolong layani pembeli," ucap Deya pada bawahannya. Perutnya mulai berdemo. Maag yang akhir-akhir ini di deritanya membuat dia tidak bisa menahan rasa lapar. Deya melihat jam di dinding. Pukul 2 siang.
'Mas Edward juga belum makan. Apa aku pesankan makanan saja, ya?'
Deya melihat bekal makannya yang banyak. Ibu tadi memasukkan dua porsi karena mengira jika Angga akan datang. Dia belum mengatakan jika Ayah Angga saat ini berada di rumah sakit. Pikirannya kacau semenjak bertemu dengan Edward sehingga dia langsung mengurung diri di kamar setelah pulang. Mengurangi interaksi dengan orang tuanya, tadi. Ayah dan ibunya selalu peka dengan keadaannya. Hal itu yang membuatnya merasa tidak enak jika sampai kedua orang tuanya tahu jika dia bertemu dengan Edward. Dia tidak ingin menambah masalah keduanya. Untung saja Dafi tadi tidak rewel ketika dia tinggal. Jadi dia bisa tenang meningalkan nya bersama dengan kedua orang tua Deya.
__ADS_1
Deya menghela nafas, melirik suaminya yang kembali melihat layar laptop dengan serius. Tampan dan masih terlihat gagah, masih sama seperti yang dulu. Deya tersenyum.
Dia akhirnya membagi makanannya menjadi dua bagian. Menulis pesan di secarik kertas. Memanggil salah satu bawahannya dan menyuruh membawa bekal makanan itu untuk Edward.