Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 77


__ADS_3

Untuk sementara Deya tidak keluar dari rumah mengurangi pemberitaan yang buruk tentangnya sebagai perebut suami orang atau sebagai simpanan Edward juga sebagai wanita perusak rumah tangga. Julukan itu tersemat di semua pemberitaan yang ada.


Dalam waktu singkat jatidirinya dan keluarganya di ketahui orang banyak. Bahkan ayah, ibu dan adik-adiknya kini harus mengungsi ke sebuah apartemen yang Edward sewa karena dikejar-kejar oleh para pencari berita.


Dari awal Deya sebenarnya sudah memprediksi ini, tetapi tetap saja dia terpukul oleh akibat yang ditimbulkan. Kini universitas tempatnya menimba ilmu memanggilnya. Nama baik universitas pun ikut terseret dalam pemberitaan ini. Deya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti dengan pendidikannya dia sudah pasrah.


"Hei, ada apa?" tanya Edward yang baru pulang kerja menemukan Deya sedang menangis di sudut balkon kamar duduk di lantai. Wajahnya berada di antara dua lututnya.


Tangan Edward mengusap kepala Deya dengan lembut. Mengangkat kepala Deya dengan tangannya.


Mata dan pucuk hidung Deya berwarna merah. Air mata membasahi pipi dan sebagian rambut yang menutup wajah. Hati Edward merasa teriris melihat istri yang selalu tersenyum di depannya kini terlihat berduka. Nampak, tertekan.


"Ada apa?"


Bukannya menjawab Deya memeluk tubuh Edward erat. Menangis di dadanya. Edward membiarkan Deya seperti itu hingga tangisnya sedikit mereda.


"Deya katakan ada apa?"


"Aku dipanggil oleh pihak universitas terkait dengan pemberitaan tentang diriku yang beredar luas di masyarakat," ucap Edward tersengal-sengal.


"Biar aku yang mengurusnya. Kau jangan khawatir semua akan membaik."


"Semua memburuk, aku bahkan terpenjara dalam rumah ini, tidak bisa keluar. Untuk menemui keluarga ku pun sulit," ucap Deya yang tidak tahan dengan semua tekanan yang ada. Selama ini dia mencoba bersikap biasa saja seperti tidak ada apa-apa. Hanya saja semua hujatan di media online dan televisi membuat dia mulai terpuruk. Ingin rasanya dia menjawab semua itu namun tak kuasa karena dia yakin tidak akan ada yang percaya dengan kata-katanya.


Soraya memang tidak pernah mengatakan apapun hanya statusnya yang sedih membuat opini publik pada Deya semakin buruk. Mereka hanya tahu dari satu sisi tetapi tidak pernah mau melihat dari sisi lainnya.


"Deya, kau harus tenang."


"Aku berusaha untuk tenang tetapi aku juga punya hati. Dulu aku tidak punya semua ini tetapi bisa menegakkan kepala pada semua orang. Kini aku punya segalanya namun aku tidak bisa memperlihatkan wajahku pada semua orang."


Edward merasa bersalah pada Deya. Dia tidak mengira dibalik senyumannya Deya mengalami tekanan besar yang dia simpan rapat dalam dirinya.


"Aku tidak tahu apakah aku sanggup menyelesaikan pertarungan ini hingga akhir."


"Kau harus mampu. Kau tidak boleh menyerah. Kita akan melewati ini bersama."

__ADS_1


"Aku seperti tidak kuat lagi dengan semua ini."


"Kau harus kuat demi aku dan demi keluarga yang telah kita impikan."


"Apakah aku masih punya mimpi itu, sedangkan orang tuamu saja tidak menyetujui hubungan kita."


"Mereka akan setuju jika kau hamil anakku. Apalagi jika yang lahir lelaki, mereka pasti akan mendukungmu."


Bukannya senang Deya malah makin menangis keras.


"Kenapa?"


"Berarti mereka hanya akan menerima anakku bukan diriku."


"Mereka pasti akan menyukaimu karena kau adalah wanita terbaik yang layak bersanding denganku."


"Bagaimana jika aku menyerah di tengah jalan dan menentukan jalan hidupku sendiri."


"Tidak Deya, jangan pernah berpikir tentang hal itu. Aku sudah mempertaruhkan semuanya demi dirimu, jangan kau sia-siakan semua yang kulakukan untukmu."


"Sampai kapan semua ini akan berakhir Mas?" tanya Deya.


"Kau yang sabar ya?" ucap Edward menenangkan Deya.


"Perbedaan antara apa yang kita lakukan dan apa yang mampu kita lakukan sudah cukup untuk menyelesaikan sebagian besar masalah. Maka jangan pernah menyerah sebelum kau berjuang. Ingat sesuatu hal akan terasa berharga jika kita mendapatkannya dengan sulit. Kita harus berjuang untuk mencapainya terlebih dahulu baru merasakan indahnya apa yang kita perjuangkan dulu."


"Kau tahu siapa orang yang paling menderita di dunia ini? dia yang selalu kecewa pada dirinya karena merasa di bawah dan selalu menilai kebahagiaan orang lain lebih besar dari apa yang dia lihat," lanjut Edward membuat Deya tidak bisa berkata-kata.


"Aku juga merasa ini tidak mudah De, tapi akan jauh lebih sulit jika aku kehilanganmu. Sungguh, aku tidak ingin kau pergi dari hidupku."


"Aku mencintaimu, walau kau tidak mencintaiku." Edward tersenyum kecut ketika mengatakannya. Deya bisa merasakan ada kekecewaan dari suara suaminya.


Deya merasa malu untuk hal ini. Entah mengapa sampai hari ini dia masih enggan untuk mengatakan cinta pada suaminya. Masih berat.


"Mas, walau aku belum mengatakannya, aku bisa jamin jika tubuh dan jiwaku hanya milik suamiku seorang."

__ADS_1


"Aku tahu, hanya saja akan lebih indah jika kau mengatakan cinta padaku."


Lidah Deya terasa kelu.


"Sudahlah jangan pikirkan lagi. Kau sudah ada di sisiku saja itu sudah cukup untukku. Dan oh ya, apa kabar calon anakku dalam perutmu? Apakah dia sudah ada di dalam sini?"


"Aku tidak tahu, berdoa saja ya Mas. Jika itu rejeki kita pasti akan dipermudah oleh Yang Kuasa."


"Amiin. Untuk itu calon ibu harus meminum susu agar calon anak bisa segera hadir dan tumbuh dengan sehat di sini." Edward langsung mengangkat tubuh Deya dan menggendongnya. Berjalan keluar kamar menuju arah dapur.


"Mas, turunkan aku, aku bisa jalan sendiri." Deya melingkarkan tangannya di leher Edward.


"Tidak, kali ini biar aku memanjakan mu, aku akan membuatmu susu. Ehm apakah kau sudah memasak?"


Deya menggelengkan kepala.


"Kita pesan saja makanan untuk nanti malam. Aku akan mengurusnya, kau cukup duduk di kursi dengan manis."


"Aku kira kau akan mengatakan jika ingin memasak. Aku takut dapurku akan berantakan lagi seperti tempo hari."


"Aku sadar, itu bukan keahlian ku. Keahlian yang kumiliki salah satunya adalah membuat kau merintih nikmat dalam pelukanku."


"Ih, Mas mulai mesum deh."


"Bukankah itu kenyataannya?" Edward mendudukan Deya di atas meja dapur. Mulai membuatkan susu khusus untuk wanita yang ingin segera hamil.


"Itu kenyataan Deya. Jika tidak seperti itu, kau tidak akan meminta hal itu setiap malam. "


"


Mas... ehm... aku tidak bisa tidur." Edward menirukan suara Deya ketika mengatakannya. "Itu modusmu kan agar kita melakukan ehm ehm , setelah itu kau baru bisa tertidur pulas."


"Ihh Mas ini," ucap manja Deya dengan wajah memerah.


"Tapi aku suka kau yang begitu, itu artinya kau juga menikmati semuanya. Bukan hanya aku." Edward menyerahkan susu hangat itu pada Deya.

__ADS_1


__ADS_2