Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 30 Rival


__ADS_3

Edward masuk ke kamar Deya pukul enam pagi. Wanita itu ada di kamarnya baru saja melakukan ibadah. Tenang dan damai jika melihatnya.


"Mas, kau sudah ada di sini?" tanya Deya membuka mukena nya.


"Rindu...," ujar Edward.


Deya mengerucutkan bibirnya. "Bohong!" Dia melipat mukena, meletakkan di laci.


Edward mendekat lalu memeluk Deya dari belakang menghisap lehernya dalam. "Bila bohong aku tidak akan sampai di sini sepagi ini."


Tangannya mulai mencari tempat kesukaannya, bermain di sana.


"Ini sudah pagi," kata Deya dengan suara mende$a*. Tangan Edward turun ke bawah.


"Kita bisa terlambat," lanjutnya terengah-engah.


"Kita lakukan dengan cepat!" Edward mulai mendesak. Mau tidak mau Deya melayaninya.


Satu jam kemudian Deya dan Edward sudah ada di dapur. Wajah wanita itu ditekuk dengan kesal. Dia harus mandi dua kali pagi ini padahal udara sedang dingin. Dia juga merasa lelah tapi tetap harus menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Kita beli makanan di jalan dan sarapan di kantor." Deya menatap tajam suaminya. Meletakkan penggorengan dengan keras. Edward terkejut, baru kali ini melihat Deya seperti itu.


"Kau pesan saja sendiri, aku mau makan makananku!" ucap Deya ketus.


"Kau kenapa?"


"Tidak apa-apa." Entah mengapa dia sedang kesal karena pria itu pergi pulang tanpa pamit padanya kemarin. Dia seperti tidak dihargai.


Edward mendekat. "Hei, kau kenapa?" Bukannya menjawab Deya malah mencuci wajahnya agar tidak nampak menangis di depan Edward.


Edward membalikkan tubuh Deya agar menghadap ke arahnya. Dia menatap mata merah Deya.


"Ada apa? Tadi malam kau tidak menjawab telepon atau chat dariku. Kau juga bermuka masam dari tadi."


"Tidak apa-apa." Deya menghindari tatapan mata Edward.


"Katakan dulu, apa salahku?"


"Kau tidak salah," tolak Deya mengambil wadah bekal makanan. Namun, Edward meletakkan kembali ke tempatnya. Dia mengambil sebuah piring dan meletakkan nasi goreng itu ke sana.


"Ayo kita makan, aku tidak akan makan yang bukan masakanmu bila kita sedang bersama. Maafkan aku jika salah."


"Kau tidak salah," ujar Deya lagi menahan diri agar tidak menangis tetapi dadanya merasa sesak. Edward membawanya ke tempat duduk. Meletakkan piring ke atas meja lalu menangkup wajah Deya.


"Katakan kenapa kau sedih."


"Tidak apa-apa!" ucap Deya.


"De... jujur saja agar aku mengerti. Aku bukan pria yang pandai menebak perasaan seorang wanita. Hubungan itu akan berjalan dengan baik jika ada komunikasi yang baik." Edward mengatakan itu sesuai dengan pengalaman hidupnya bersama Soraya.


"Apa artinya aku bagimu?" tanya Deya.


"Kau itu istriku."

__ADS_1


"Sungguh?"


"Katakan apa yang membuat kau bertanya seperti itu?"


"Boleh aku jujur? Tapi aku takut kau akan marah."


Edward menaikkan kedua aslinya. "Tergantung tetapi sebisa mungkin aku akan mengerti."


Deya nampak ragu.


"Aku merasa kau hanya menjadikan aku sebagai tempat pelampiasan nafsu saja yang akan pergi setelah merasa puas. Kau tidak pernah memperlakukan aku sebagai seorang istri."


Edward tertawa bukannya marah. Dia menyentil keningnya. Lalu mencium bekas sentilan itu. "Maaf... maaf, muah... kau membuatku gemas terus."


"Sungguh aku ingin selalu melihatmu karena itu aku meletakkan mu bekerja di dekatku. Aku tidak bisa tidur jika tidak mencium aroma mu maka itu aku segera kemari karena kau sudah jadi candu ku. Kau benar, kau adalah pemuas nafsuku tapi apakah itu salah karena kau memang istriku, haruskah aku menyalurkan nya pada wanita lain."


Deya menggeleng.


"Aku harus pulang jika malam karena Zahra menungguku di rumah. Dia tidak akan tidur jika aku tidak menemaninya." Edward menarik tubuh Deya agar duduk di pangkuannya. Mencium bahunya yang harum buah-buahan segar.


"Apa kau ingin agar kita bisa bersama setiap waktu?" tanya Edward.


"Aku tidak punya hak untuk menuntut."


"Ayo cepat makan, ini sudah siang." Deya mengalihkan pembicaraan mereka.


"Aku Bosnya jika kau lupa."


"Aku tidak peduli."


"Aku yang peduli, tidak ada yang boleh tahu. Aku tidak ingin merusak hubunganmu dengan istri pertama." Deya mengatakan dengan tegas.


Edward tersenyum masam. Hubungan apa karena rumah tangganya dengan Soraya sudah rusak sebelum Deya datang. Pikir Edward.


"Terserah maumu tapi jangan bilang jika kau hanya pemuas nafsuku saja."


"Hmmm." Deya melihat jam di dinding. "Ya, Tuhan. Sudah setengah delapan."


"Aku belum bersiap sama sekali."


"Kita berangkat bersama saja."


"Tidak, nanti akan ada yang melihat."


"Deya, itu perusahaanku tidak ada yang berani bergunjing dibelakang ku."


"Di belakangmu tetapi di depanku. Ini gila lebih baik aku pesan ojek saja." Deya nampak kebingungan.


"De, kita berangkat bersama."


"Tidak!"


"Kalau begitu kita tidak usah berangkat sekalian."

__ADS_1


"Tidak bisa kau ada rapat penting membahas tentang proyek di Maluku," tolak Deya. Lagi pula apa yang akan orang-orang itu katakan jika dia tidak berangkat lagi.


"Kalau begitu kita berangkat bersama." Desak Edward. Deya tidak bisa menolaknya.


"Make up nya di pakai di mobil saja," perintah Edward


"Apakah kau pakai sopir?" Edward menggelengkan kepala.


"Makannya sekalian di mobil?" Edward mengangguk. Deya tersenyum dia memasukkan nasi goreng itu ke wadah. Bersiap berangkat kerja.


Di dalam mobil Deya mulai menyuapi Edward dan bergantian dengan dirinya. Mereka bercanda, Edward hanya menimpali karena dia sendiri tidak pandai melakukan itu.


Deya mulai mengoleskan pelembab dan bedak.


"Tidak usah tebal-tebal seperti badut saja."


"Ini itu sudah tipis." Deya melihat ke arah cerminnya."


"Ck... tipis apaan, tebal seperti itu." Edward mengusap pipi wanita itu dengan satu tangannya.


"Ih... Mas!" Setelah drama dengan bedak kini tinggal lipstik. Deya bertambah cantik dan menggoda dengan pewarna bibir itu.


"Apakah tidak ada warna yang lebih gelap?"


"Tidak ada, aku suka warna ini." Deya mengerjap bibirnya di depan Edward. "Baguskan."


Edward menghela nafasnya. Ketika lampu berubah menjadi merah pria itu ******* bibir Deya sehingga rona merah di lipstik itu berkurang.


"Ini baru tepat. Kau jangan cantik-cantik, nanti banyak yang akan mengejarmu!" Edward tersenyum sedangkan Deya menekuk wajahnya.


Edward tahu banyak lelaki yang mulai berusaha mendekati Deya, hanya saja wanitanya itu jarang keluar ruang kerjanya karena dilarang oleh Edward.


Mereka sampai ke parkiran mobil perusahaan Edward. Deya keluar lebih dahulu.


"Aku duluan ya, Mas. Mas nanti saja, takut ada yang curiga." Deya lalu menutup pintu mobil.


"Deya!" Tubuh Deya membeku ketika mendengar suara seorang pria memanggilnya.


"De!" Tangan Angga meraih bahu wanita itu membuat Deya memejamkan mata untuk sesaat, dia menoleh. Tersenyum canggung.


Angga mengantar ibunya ke sebuah gedung perkantoran. Dia sedang meminta ijin pulang dari hari Minggu kemarin dari KKN karena ayahnya sedang ada di rumah sakit. Kini dia datang ke perusahaan ini karena ibunya mewakili ayahnya bertemu dengan atasan perusahaan pertambangan.


"Kau jadi magang di sini?" tanya Angga. Deya mengangguk.


"Kau kok...." Angga melihat ke arah mobil mewah.


"De, cepat masuk! Sudah terlambat!" ucap Edward yang tidak senang dengan keberadaan Angga. Dia langsung keluar dari mobil ketika tahu rivalnya sedang berada di dekat Deya.


"Dia...."Angga nampak kebingungan. Dia hendak berpikir negatif tetapi hatinya menolak.


"Dia sebenarnya Om ku. Benar kan Om?" kata Deya cemas.


Edward menajamkan matanya. Dia seperti hendak menerkam wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2