
Deya membersihkan kekacauan yang Edward buat. Dia kesal karena bukannya ikut membantu pria itu malah memeluknya dari belakang.
"Besok kalau lapar bilang aja, nggak perlu masakin lagi. Kerjamu itu cari uang, dapur itu urusanku," omel Deya.
"Aku hanya ingin memberi kejutan."
"Ya, benar memberi kejutan dengan semua ini. Ini tengah malam dan aku masih berkutat di dapur."
"Kalau begitu di kamar saja. Ini biar diurus oleh tukang bersih-bersih yang akan datang besok."
"Membersihkan ini harus panggil tukang? Yang benar saja. Ck... Dasar orang kaya," balas Deya.
"Aku kemari untuk bersenang-senang denganmu bukannya malah di dapur sepanjang malam."
"Ini tidak akan terjadi jika kau tidak.... Lupakan." Deya menghargai perjuangan Edward tetapi kesal juga dengan pekerjaan yang menumpuk di tengah malam.
"Sekarang kau duduk saja biar aku yang membereskan semua tidak akan butuh waktu lama kok." Edward yang lelah dan penat lalu duduk di kursi makan dan menyandarkan dagu di atas kedua tangan yang ditumpuk di meja. Menatap ke arah Deya yang sedang bekerja.
Satu jam kemudian.
"Sudah beres, kau lihatkan?" Deya melihat ke arah Edward yang tertidur pulas di atas meja.
__ADS_1
Deya lalu mendekat, menatap wajah suaminya yang tampan. Menyentuh pelan dengan ujung jari dari pipi hingga ke dagu pria itu yang terbelah. Tangan Deya diraih oleh Edward. Tubuhnya di peluk dengan erat. Kepala pria itu disandarkan ke perut Deya seraya memejamkan mata.
"Bajuku kotor," ucap Deya.
"Kalau begitu lepas saja."
"Ish, Mas itu."
"Kita ke atas yuk," ajak Edward menggendong tubuh Deya sehingga kaki wanita itu ada di antara pinggangnya.
Deya meletakkan kepalanya di bahu pria itu menyesal aroma yang keluar di bawah telinga Edward membuat tubuh pria itu meremang dan mengerang. Tangannya dengan nakal meremas rambut pria itu.
"Kau sudah mulai pintar nakal ya?"
"Apa pria tua mesum?" Dia belum tua baru berumur 35 tahun.
Deya tertawa.
"Aku akan perlihatkan bagaimana pria mesum ini akan membuatmu tidak bisa berjalan besok pagi."
"Jadi karena ini kamu memasakan aku? Karena ada maunya?"
__ADS_1
Deya adalah cara paling ampuh baginya keluar dari kerumitan permasalahan yang dia hadapi.
"Harus ada tenaga lebih untuk melayaniku," bisik Edward membuat tubuh Deya meremang membayangkan tekhnik apa yang akan pria itu lakukan padanya dan membuat dia meminta ampun. Lalu kelelahan setelahnya.
"Satu kali saja ya," tawar Deya.
"Kita lihat nanti," ujar Edward menyeringai.
Deya merasa baru memejamkan mata ketika Edward membangunkannya.
"Apa sih, Mas, kan sudah tiga kali. Aku lelah mau tidur dulu," gumamnya tanpa membuka mata.
"Ini sudah subuh bangun, sholat." Dengan malas Deya membuka matanya.
"Kenapa jamnya kok jalannya cepat, aku masih ngantuk," ujar Deya malas.
"Mandi sholat dulu baru tidur lagi."
"Gendong," rengek Deya manja mengulurkan tangannya.
Beginilah kalau menikahi anak kecil. Manjanya minta ampun. Namun, ada saat Deya terlihat lebih dewasa dari umurnya bahkan lebih pengertian daripada Soraya. Dia tidak ingin membedakan keduanya, tapi dia salut dengan cara berpikirnya yang selalu membuat dia takjub.
__ADS_1
Di saat Edward hendak menggendongnya. Deya teringat sesuatu.
"Aduh obatku, aku belum meminumnya lagi," ujarnya.