Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 108 Rumah Impian


__ADS_3

"Nyonya, saya kemari untuk membawakan surat panggilan ke pengadilan untuk menghadiri sidang cerai anda yang pertama," beritahu pengacara Soraya.


Soraya menenggak minumannya. Lalu meletakkan gelas itu di meja.


"Aku tidak ingin cerai darinya, urus agar hal itu bisa terjadi. Aku akan memberimu banyak uang jika itu terjadi."


"Itu sulit jika Tuan Ed sendiri yang mengajukan."


"Bukankah gugatan itu bisa dibatalkan?"


"Itu bisa andaikan Anda mempunyai bukti kuat bahwa Anda berdua baik-baik saja, tidak ada masalah yang berarti. Intinya Anda tidak bersalah dan satu lagi, Anda harus membuat opini publik jika rumah tangga Anda itu bahagia karena orang kedua, Anda dibuang oleh Tuan Ed. Jika opini yang Anda buat semakin besar efeknya, maka bisa membuat hakim berpikir ulang."


"Hanya itu?"


"Ya, intinya Anda hanya harus membuktikan bahwa Anda baik dan tidak seharusnya Tuan Ed mencampakkan Anda."


"Kalau begitu bantu aku dengan mengupload foto kebersamaanku dengan Ed."


"Satu lagi, Anda tidak usah membuat caption atau postingan. Hal ini akan membuat publik makin penasaran dengan apa yang terjadi. Berusahalah agar Anda terlihat membela nama baik suami Anda di depan semua orang. Kami akan bekerjasama dengan para pencari berita terpercaya untuk mengumpulkan kesalahan suami Anda."


"Rencana yang bagus." Soraya tersenyum sinis.


"Kalau boleh tahu, kenapa Anda tidak ingin bercerai dengan suami Anda?"


"Dia ingin berbahagia dengan membuangku itu tidak akan terjadi. Dia ingin mensahkan istri simpanannya setelah aku pergi, itu hanya ada dalam mimpinya. Satu lagi, dia ingin mengambil anakku dan mengatakan pada dunia bahwa mereka baik-baik saja tanpaku. Ha... ha... milik Soraya tidak akan pernah dimiliki orang lain. Jika aku tidak mendapatkan kebahagiaan maka Edward juga harus sama-sama menderita denganku. Bukankah itu arti dari sebuah pernikahan hidup susah dan senang bersama!"


"Ya, Anda adalah perwujudan dari Dewi yang sempurna tidak layak dikhianati apalagi wanita selingkuhan suami Anda hanya orang biasa yang berbeda kelas."


"Kau benar, tidak level bagiku untuk bersaing dengannya!"


"Baiklah kalau begitu aku permisi pergi ke kantor Nyonya. Aku akan berusaha agar perceraian Anda ditolak oleh pihak pengadilan."


"Pokoknya harus bisa jika tidak maka kau juga akan ikut hancur bersamaku. Nama kita dipertaruhkan di sini."


Pria itu menghela nafasnya. "Anda benar Nyonya."


Pria itu bangkit hendak melangkah pergi.


"Tunggu!" panggil Soraya. ''Tunggu di sini sebentar." Dia lantas berjalan naik ke kamarnya dengan tubuh tidak seimbang. sepuluh menit kemudian dia kembali keluar dari lift membawa dua tumpuk uang. Lalu melemparkan ke meja.


"Ini dua milyar untuk uang mukanya. Sisanya akan ku bayar setelah kau bisa membuat statusku tidak berubah. Tetap menjadi Nyonya Edward Xavier."

__ADS_1


"Baik, Nyonya," balasnya mengambil tumpukan uang itu dan meletakkan ke dalam tas. Setelah itu, pengacara Soraya pergi meninggalkan rumah.


"Aku tidak rela jika kalah dari anak orang rendahan. Namaku Soraya, pewaris dari barisan orang terkaya di negeri ini, cantik dan. berbakat, harus menyerah kalah dengan wanita yang tidak sekelas itu sama saja menginjak harga diriku. Edward saja yang buta melihat wanita itu yang tidak ada apa-apanya denganku."


Soraya melemparkan gelas ke sebuah vas kristal, memegang dahinya dan menunduk.


"Ed.... selama aku hidup tidak akan ada yang bisa memilikimu, tidak dia atau wanita mana pun. Aku janji itu, kau hanya milikku!" teriak Soraya keras.


***


Bel pintu rumah berdering. Deya dengan cepat membukakan pintu. Di sana ada Edward yang berdiri sambil tersenyum. Namun, bukan sebuah senyuman balik yang dia dapat malah wajah ditekuk istrinya. Tubuh wanita itu bersandar di dinding pintu.


"Ada apa?"


"Aku tidak bisa mengurus bisnis onlineku, aku harus bagaimana?" kata Deya ingin menangis.


Edward tersenyum tipis. Dia lantas memberikan bunga yang dia bawa dibelakang tubuhnya.


"Sepertinya bunga ini tidak akan bisa membuat dirimu tersenyum."


Deya tersenyum, lalu mengambil bunga itu dan menciumnya. Berjinjit memeluk leher suaminya dan mencium bibir Edward cepat.


"Terimakasih."


"Ini bukan masalah mudah, Sayang," ucap Deya.


"Coba katakan lagi tadi." Wajah Deya memerah membuat Edward gemas mencium pipi Deya.


"Sayang."


"Benarkan, Ayah pulang kan Dafi," ucap Zahra. Kedua anak itu menuruni tangga menyambut Ayahnya.


Edward menekuk satu kakinya ke belakang lantas merengkuh tubuh kecil Dafi dan menciumnya. Menggendong lalu satu tangan lain memeluk tubuh Zahra dan mengecup kening anak itu.


"Ibu buat kue untuk Ayah, katanya besok Ayah ulang tahun," bongkar Dafi.


Deya menepuk jidatnya. Sedangkan Zahra menutup mulut anak itu gemas. "Kakak bilang ini rahasia."


"Oh ya ini rahasia, Ayah."


"Ya, ini rahasia dan Ayah tidak boleh tahu begitu?"

__ADS_1


Dafi dengan polos mengangguk membuat Zahra kesal sendiri.


"Baiklah anggap saja Ayah tidak tahu tentang perkara kue. Ini hampir maghrib, kita siap-siap sholat yuk."


"Biar aku siapkan air panas untuk kau mandi." Deya berlalu pergi.


"Tunggu dulu, kopinya dulu, De," kata Edward.


Deya lantas ke dapur membuatkan kopi. Anak-anak mulai berlari ke atas lagi untuk siap-siap sholat berjamaah. Edward mendekat ke arah Deya. Memeluknya dari belakang.


"Baru beberapa jam berpisah tapi aku sudah rindu." Edward mencium tengkuk Deya dari belakang.


"Gombal."


"Kau ambil saja orang untuk membantumu mengurus bisnis, kau bisa melihatnya sesekali jika butuh. Di rumah kau bisa cari orang untuk membantumu, mengerjakan pekerjaan rumah."


"Rumah ini urusanku tidak boleh ada yang masuk walau itu tukang bersih2 jika seminggu sekali okey tetapi jika setiap hari. No. Aku tidak ingin ada orang lain mendengar dan tahu tentang rumah tangga kita. Apalagi jika kita punya masalah atau sedang bertengkar," tegas Deya.


Edward mengangkat alisnya. Dia merasa kagum dengan pemikiran Deya.


"Kau nanti kerepotan, mengurus rumah dan anak-anak," kata Edward.


"Kita hanya repot ketika anak kecil paling beberapa tahun setelah besar mereka bisa mengurus diri mereka sendiri. Soal rumah aku kira, aku tidak mengerjakannya sendiri. Kau harus ikut membantu."


"Baiklah, demi istri tercinta."


"Jadi kau menyiapkan surprise untukku nanti malam?" Edward menyesap kopinya.


"Namanya tidak surprise jika kau sudah tahu," sungut Deya.


Dari kejauhan terdengar lantunan adzan saling bersautan. Memberitahu setiap orang bahwa waktu magrib sudah tiba.


"Ayo cepat mandi sana. Kita sholat di kamar kita saja. Oh, aku belum menyiapkan air hangat." Deya berjalan cepat ke arah kamar mereka.


"Sepertinya kita butuh rumah lebih besar."


"Kecil malah akan membuat kita dekat."


"Ayah, Ibu lama sekali," kata Zahra dan Dafi yang sudah menunggu di depan kamar.


"Tuh kan."

__ADS_1


"Aku mandi dulu, tidak perlu disiapkan airnya. Kau bantu anak-anak saja bersiap."


Ini baru kehidupan yang Edward impikan sejak lama. Sebuah rumah yang terasa nyaman ditinggali karena ada ketenangan dan kedamaian di dalamnya.


__ADS_2