
Mereka akhirnya makan pagi bersama. Khusus untuk pagi ini Mama Claudia menyiapkan berbagai menu makanan agar Deya atau Dafi bisa memilih makanan apa yang mereka suka.
Mereka duduk melingkari meja. Papa Adam, Mama Claudia, Dafi, Deya, Edward, dan Zahra yang bersebelahan dengan Kakeknya.
Dafi malah ingin makan dengan telor goreng saja. Akhirnya, dibuatkan telor mata sapi dan Mama Claudia yang memasakkan nya padahal sangat jarang wanita itu mau ke dapur kecuali jika benar-benar ingin memasak sesuatu. Jadi ini telur istimewa buatan Omanya.
Wanita paruh baya itu berjalan ke arah meja makan.
"Coba cek garamnya kebanyakan atau nggak?" goda Papa Adam membuat mata Mama Claudia menyorot tajam.
"Mertuamu itu jarang sekali ke dapur paling bisa dihitung dengan jari setiap tahunnya."
Deya membuka mulutnya dan tersenyum.
"Ada pelayan kenapa aku juga yang turun tangan. Lagi pula aku tahu kelemahan ku yang tidak bisa memasak enak. Bisa hanya beberapa menu saja kesukaan Papa Edward dan Edward."
Mama Claudia meletakkan telor itu di depan Dafi. "Biar Oma saja yang menyuapi boleh?"
Dafi menatap ke arah ibunya. Deya mengangguk. "Tapi pakai kecap."
"Oh kecap, Kia, ambilkan kecap untuk cucuku."
Pelayan wanita mengambilkan kecap dan menuangkan di piring.
"Ini anak Mr. Lee." Deya terkejut.
Kia memberi hormat pada Deya.
"Mr. Lee adalah orang Chinese asli, dulunya bekerja di salah satu restoran sebagai chef lantas oleh Papa dibawa kemari, menikah dengan salah seorang pelayan dan melahirkan lima orang anak. Kia yang paling dewasa tetap ingin bekerja di sini sedangkan empat yang lain bekerja di perusahaan Papa. Satria anak terakhir Mr. Lee."
Deya menutup mulutnya. Keluarga itu bekerja sangat profesional sehingga tidak terlihat jika mereka ayah dan anak. Deya memang beberapa kali melihat Satria berbincang dengan Mr. Lee tapi hanya sebentar saja.
"Tapi aku tidak tahu siapa istri Mr. Lee."
"Ibu Kia meninggal sudah lama. Sebelum Ed punya rumah sendiri."
Deya mengangguk. Pantas saja Satria sangat setia dan berdedikasi dengan pekerjaannya. Ternyata dia adalah putra bungsu dari Mr. Lee. Edward juga sangat percaya padanya. Pikir Deya.
"Sayurnya mau lagi, Mas?" tanya Deya. Deya mengambilkannya. Mendadak Edward tersedak. Dengan cekatan Deya memberi air minum setelahnya tisu.
__ADS_1
Semua yang Deya lakukan menjadi perhatian Mama Claudia dan Papa Edward. Mereka berdua saling menatap lantas tersenyum tipis. Pantas saja jika Edward menyukai Deya lebih dari Soraya, dari perangainya saja berbeda jauh. Deya nampak lebih kalem dan penurut. Selain itu dia melayani suaminya dengan baik padahal ada pelayan di rumah ini.
"Kalian tinggal di sini saja. Rumah ini terlalu besar untuk ditinggali kami berdua," pinta Mama Claudia. "Deya kau mau kan tinggal di sini."
"Aku ikut Mas, tinggal di mana saja, sama," ujar Deya.
"Ehm. Sungguh kau mau tinggal di sini bersama dengan Papa Mama? Kalau Mama memarahimu bagaimana?" tanya Edward.
"Memang Mama mertua yang galak," sungut Mama Claudia. "Oma kan, Oma yang baik ya Sayang, Oma yang ganteng. Kalau kalian tinggal di sini tidak perlu pusing memikirkan Dafi jika ingin berangkat kerja. Dafi bersama dengan Oma di rumah."
Edward menatap ke arah Deya. Bertanya lewat mata. Deya mengangguk.
"Aku akan tinggal ke apartemen dulu. Ingin menikmati keluarga kecilku selama beberapa hari disana. Rindu dengan kebersamaan kami di sana. Aku harap Papa dan Mama mengerti. Setelah itu, kami akan kembali kemari."
"Tidak masalah kalian akan tinggal di manapun hanya saja Papa dan Mama akan senang jika kalian tinggal di sini. Walau ada beberapa rumah yang tidak terpakai dan bisa kalian tempati," kata Papa Adam.
"Ehm, padahal Oma masih ingin bermain bersama dengan Dafi," sesal Mama Claudia.
"Mungkin hanya seminggu kami di sana Ma atau lebih, atau jika lebih betah kami akan menetap di sana."
"Kau lihat anakku, De. Seperti itulah. Bilang padanya agar tinggal di sini. Kalian bisa memilih kamar yang kalian suka dan ingin kalian tinggali."
"Ikut dengan Ayah, dong, dia kan anak Ayah yang paling manis," kata Edward mengusap kepala Zahra yang duduk di sebelahnya.
Zahra mengangguk senang. Tadinya dia kira akan ditinggal di rumah Oma dan Opa. Dia sudah merasa sedih dan tersingkir.
"Ikut bersama dengan Ayah."
"Oma dan Opa akan kesepian dong. Menginap lagi saja di rumah ini beberapa hari lagi, ya Dafi," rajuk Mama Claudia.
"Habis ini kita mau kembali ke hunian kami, Ma Pa."
"Secepat ini?" Pasangan paruh baya itu nampak keberatan, tetapi tidak bisa berbuat banyak.
Setelah makan pagi mereka pamit pulang ke rumah.
"Kita dimana Ma?" tanya Dafi setelah keluar dari lift.
"Trampapa... papa... rumah kita," kata Zahra. Edward membuka pintu hunian.
__ADS_1
"Nah, Dafi akan tinggal di sini nanti, bersama Kak Zahra dan Ayah," kata Edward. "Ayo aku sudah siapkan kamar untuk Dafi dan Zahra."
Mereka berjalan naik ke lantai atas. Di sana memang ada beberapa ruangan yang terkunci karena tidak dipakai. Deya pun ikut penasaran.
Edward membuka satu pintu paling ujung. "Ini kamar Kakak," katanya pada sebuah kamar dengan tembok yang dilukis bertemakan taman bunga sakura. "Wah bagus sekali, Yah." Zahra melihat ke sekeliling kamar itu, membuka tirainya.
"Tidak besar seperti kamarmu di rumah atau di rumah Opa."
"Tapi ini bagus, lihat pemandangan kotanya," tanggap Zahra senang. Dia melihat papan lukis di dekat jendela dan juga perlengkapan komputer di sudut lain.
Setelah puas melihat kamar Zahra mereka lantas ke kamar tengah. Jika kamar Zahra sesuai dengan gaya anak abg. Kamar Dafi seperti taman bermain anak-anak. Ada lemari pakaian yang sudah penuh baju Dafi dan juga lemari kaca dengan tatanan mainan yang banyak. Tempat tidur berbentuk mobil.
"Nanti Dafi tidur di sini ya," kata Edward.
"Apa tidak apa-apa, Mas, Dafi tidur sendiri?" Edward memeluk istrinya dari belakang.
"Belajar, Sayang, lihat ada pintu penghubung jika Dafi menangis dan butuh bantuan kita, kita bisa dengar."
Deya selama ini tidur dengan Dafi, sepertinya dia sendiri yang canggung jika dipisah dengan anaknya. Dafi sendiri langsung melihat jejeran mainan yang ada di lemari.
"Banyak sekali mainannya. Apa tidak terlalu banyak." Deya mengikuti Dafi.
"Sebenarnya aku malah ingin membeli semua mainan yang ada di toko, tapi tidak akan muat. Selama ini, Dafi tidak pernah diberi apapun olehku, aku ingin membayarnya dengan membeli mainan yang dia suka."
Tangan Edward yang satu memeluk bahu Zahra dan mengusapnya.
"Wah, bagus sekali, kakak mau tidur di sini saja akh!"
"Jangan ini punya Dafi, kamar kakak di sana."
"Kakak pinjam mainan Dafi boleh?"
"Boleh."
"Kalau pinjam Ibu boleh?"
"Tidak boleh, ini Ibu Dafi."
"Kalau Ayah boleh?" tanya Edward memeluk Deya. Dafi nampak marah menarik lengan Ayahnya agar menjauh dari Deya.
__ADS_1
"Jangan peluk, ini Ibu Dafi," katanya marah. Bukannya melepas Edward malah mencium pipi Deya membuat Dafi semakin kesal. Mereka lantas bercanda dan tertawa.